Tampilkan postingan dengan label Resume Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resume Kuliah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Mei 2020

DITOLAK, SAKITNYA TUH DI SINI


Tema               : Ketika Buku Ditolak Penerbit
Waktu             : Jumat, 15 Mei 2020
Narasumber    : Omjay
Siang itu Omjay berbagi pengalaman tentang kisah nyata Omjay ditolak penerbit mayor. Sedih rasanya bila buku yang kita tulis ditolak oleh penerbit. Saya sendiri pernah merasakannya. Makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Sakitnya tuh di sini! (sambil mengelus dada) hahaha. Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati ini, hihihi.
Namun perlu Anda ketahui. Saya termasuk orang yang pantang menyerah. Ketika naskah buku saya ditolak para penerbit mayor, saya tidak putus asa. Saya akan menerimanya dengan lapang dada. Saya menerimanya dengan senyuman meskipun terasa pahit.
Berkali kita gagal lekas bangkit dan cari akal. Berkali kita jatuh lekas berdiri jangan mengeluh. Jadilah guru tangguh berhati cahaya. Kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda. Gembirakan dirimu dengan terus belajar kepada orang-orang yang telah sukses menerbitkan bukunya.
Saya perbaiki tulisan saya. Kemudian saya baca kembali. Beberapa teman yang saya percaya, saya minta untuk memberikan masukan. Hasilnya buku saya menjadi lebih baik dari sebelumnya dan lebih enak untuk dibaca. Sakit hati ini terasa terobati.
Ibarat seorang mahasiswa S1 yang skripsinya dipermak habis sama dosen pembimbingnya. Ibarat mahasiswa S2 yang tesisnya ditolak promotornya dan ibarat mahasiswa S3 yang ditolak proposal desertasinya.
Saya sangat berterima kasih kepada para penerbit yang sudah menolak buku yang saya susun.  Dengan begitu buku yang saya susun menjadi layak jual. Coba kalau seandainya naskah buku saya langsung diterima, pasti banyak yang tidak laku karena isinya kurang menarik hati pembaca. Buku saya terbit tapi tidak banyak pembelinya, karena bukunya tidak menarik hati pembaca.
Saya jadi banyak belajar semenjak buku ditolak penerbit mayor. Saya perbaiki dan terus perbaiki sehingga naskah buku menjadi lebih enak dibaca. Butuh waktu lama mengerjakannya. Saya pantang menyerah. Saya belajar dari penolakan. Saya pergi ke toko buku dan membaca buku-buku best seller. Dari sanalah saya akhirnya tahu rahasia buku mereka laris dibaca pembaca.
Saat itu saya semakin menggebu-gebu semangatnya. Ibarat perahu yang sudah berlayar tentu pantang untuk kembali ke pelabuhan. Jalan terus sampai tujuan walaupun akan banyak ombak besar menghadang. Tidak ada nahkoda ulung yang tidak melalui lautan yang berombak ganas. Justru disitulah keahliannya teruji.
Ketika bukumu ditolak penerbit, teruslah menulis dan jangan berhenti menulis. Ketika engkau terus menulis, maka tulisanmu akan semakin tajam dan nendang. Pasti tulisanmu akan layak jual. Pasti tulisanmu akan banyak dibaca orang. Aha kuncinya satu mau belajar dan pantang menyerah.
Perbaiki dan terus perbaiki sehingga penerbit mayor mau menerbitkan bukumu tanpa kamu keluar uang satu senpun. Kamupun tersenyum ketika royalti bukumu mencapai angka yang fantastis. Puluhan bahkan ratusan juta rupiah kamu dapatkan bila bukumu laku keras. Seperti royalty buku yang kami terima saat ini.

Sebenarnya apa dasar alasan penerbit menolak tulisan yang kita ingin kita berikan. Selain itu bagaimana kita memiliki rasa percaya diri bahwa tulisan kita menarik, sudah sesuai enak dibaca?
Dasarnya karena tulisan kita kurang sesuai dengan standar penerbit, dan biasanya calon penulis baru begitu sangat menggebu-gebu dan sangat yakin bukunya akan laku. Rasa percaya diri itu dibangun melalui proses terus menerus, dan jatuh bangun. Seperti Anda belajar sepeda, awalnya agak susah naik sepeda. Tapi kalau sudah bisa mah enak enak saja, hehehe.

Bagaimana cara menerbitkan buku dari kumpulan resume yang telah kita buat? Saya ingin menerbitkannya, tapi bagaimana caranya? Ditawarkan kepada siapa?
Segera kumpulkan dari pertemuan pertama sampai terakhir, gabung dalam satu file. Kemudian lihat buku-buku yang sudah diterbitkan Penerbit Andi, kemudian tawarkan ke Penerbit Andi Yogya.

Sejak mengikuti belajar menulis tak terasa tulisan terus bertambah, hanya masih bingung arahnya mau ke mana temanya, jadi bagaimana caranya supaya kita tidak ragu untuk bisa menulis sampai terbit buku?
Fokus untuk menulis buku motivasi dan kisah inspiratif karena buku ini masih banyak pembelinya.

Omjay waktu dulu nulis buku pelajaran atau modul dulu?
Dua duanya saya lakukan.

Apa dasar Omjay memilih untuk jadi penulis?
Pekerjaan menulis adalah pekerjaan menuju keabadian. Kita sudah mati tapi buku kita abadi, contoh karya Buya Hamka.

Apakah pengalaman ini (sakitya ditolak penerbit) ada Omjay bukukan?
Ada dalam catatan harian seorang guru blogger dan di blog omjay

Om Jay Untuk pertama menerbitkan buku yang sudah siap terbit (judul siap, daftar isi, kata pengantar, isi sudah diedit, biodata penulis) langkah selanjutnya bagaimana kirim ke Om Jay lalu ke penerbit?
Dulu saya kirimkan dalam bentuk cetak dan dijilid, setelah itu saya tawarkan ke penerbit, tapi sekarang penerbit yang cari saya, sehingga saya cukup kirim email saja ke penerbit.

Bisa ga kita lakukan sekarang? Langsung  lewat email
Bisa, kirimkan ke omjaylabs@gmail.com, nanti Omjay bantu ke Penerbit Andi.

Ini contoh buku yang ditolak penerbit mayor. Kami tidak putus asa dan terus bersemangat untuk memperbaiki isi bukunya. Alhamdulillah akhirnya diterima penerbit mayor. Berkat buku ini, kami keliling Indonesia untuk berbagi ilmu PTK.




Omjay, kalau menerbitkan buku di penerbit indie dengan biaya sendiri apakah ada fasilitas layout buku layaknya buku yang diterbitkan di penerbit mayor? Soalnya kemarin saya menerbitkan buku pelajaran di penerbit indie dengan biaya sendiri isi materi tidak di ubah sama sekali tata letaknya sehingga bukunya tidak menarik.
Ada, tapi kita perlu keluar uang, kalau di penerbit mayor kita tinggal terima beres. Bahkan cover dan layoutnya sangat menarik sekali, sehingga banyak orang yang beli bukunya.

Om Jay kalau kita bayar untuk menerbitkan satu buku berapa?
Tergantung penerbitnya, kalau di Penerbit Andi tidak bayar.

Omjay bisa ya kita diberi daftar penerbit, agar kita bisa menawarkan tulisan (buku) ke banyak penerbit?
Bisa, kan kemarin di materi Pak Imron ada.

Untuk fokus menulis buku, bolehkah kita hanya monitor saja tidak harus fokus menyimak dan membuat resume perkuliahan selanjutnya. Dan kalau draf bukunya sudah jadi apakah kita boleh berhubungan langsung dengan penerbit?
Silakan saja, tapi Anda tidak berlatih menulis, padahal menulis itu sebuah keterampilan yang harus terus-menerus diasah setiap hari, ikatlah ilmu dengan cara menuliskannya

Bagaimana membangun hati ketika buku yang sudah kita susun dengan susah payah ditolak oleh penerbit? Bukan hanya mayor saja, namun bisa jadi oleh penerbit lain juga.
Kirim ke Omjay, nanti kita perbaiki sama sama. Berkali kita gagal, lekas bangkit dan cari akal, berkali kita jatuh, lekas berdiri jangan mengeluh, jadilah guru tangguh berhati cahaya.

Maaf mengganggu waktunya, saya cuma mau menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Om Jay yang secara tidak langsung telah memberikan motivasi yang luar biasa kepada saya untuk mengungkapkan ide yang dimiliki melalui tulisan.
Berkat motivasi yang senantiasa Om Jay berikan kepada saya dan teman-teman dalam Group menulis saya memberanikan diri untuk menuangkan ide yang bertahun terpendam menjadi sebuah tulisan yang Alhamdulillah sudah menjadi sebuah buku. Sungguh luar biasa rasanya melihat tulisan kita berwujud sebuah buku, dan lebih luar biasa lagi saat dikirimi foto buku saya yang masih belum ada apa-apanya berada tepat di samping buku seorang penulis terkenal seperti Om Jay. (Agak lebay saya mungkin ya Om Jay), tapi memang seperti inilah yang saya rasa begitu melihat buku pertama saya yang insyaAllah akan saya jadikan awal untuk lebih semangat lagi menghasilkan karya-karya berikutnya.
Sekali lagi terimakasih Om Jay, terimakasih untuk motivasinya selama ini, semoga Om Jay selalu diberi rahmat kesehatan dan kesempatan untuk senantiasa terus berbagi semangat, berbagi ilmu dan berbagi kebaikan untuk semua.
Aamiin ya robbal alamiin, kesuksesan seorang guru adalah bila muridnya bisa lebih pandai dari gurunya



Kamis, 14 Mei 2020

MENULIS OPINI DI MEDIA


Tema               : Menulis Opini dan Hikmah
Waktu             : Kamis, 14 Mei 2020 Pukul 13.00 – 15.00
Narasumber    : Asep Sapa’at

Nama saya Asep Sapa'at, tubuh sehat, jiwa kuat, cita-cita ingin jadi orang bermanfaat. Dengan semangat untuk saling belajar, saya ingin sharing tentang pengalaman menulis di rubrik opini dan hikmah Republika.
Pertama, saya awali dengan penjelasan tentang mengikat makna. Istilah mengikat makna dipopulerkan oleh almarhum Hernowo. Segala hal yang berkaitan dengan aktivitas menulis sebagai cara untuk memaknai hal-hal yang bisa kita lihat, dengar, rasakan, renungi.
Setiap orang memiliki hambatan menulis yang berbeda-beda. Ada hambatan yang disebabkan kesulitan mengalirkan gagasan, ada karena faktor mood, ada pula yang disebabkan karena faktor penguasaan bahasa serta keterampilan menulis. Namun hakikatnya, setiap diri kita bisa menulis jika konsisten mau belajar. Hal yang paling mudah ditulis adalah sesuatu yang dekat dengan diri kita.




Sebelum saya dapat mempublikasikan tulisan di media masa, saya belajar menulis di buku harian. Menulis di buku harian adalah cara ampuh untuk membangun kepercayaan diri untuk menuangkan gagasan.
Berdasarkan kajian salah satu guru menulis saya, Mas Bambang Trimansyah, sifat tulisan terbagi ke dalam 4 sifat, yaitu:
1.       Pribadi tertutup, yakni tulisan bersifat sangat pribadi dan cenderung dirahasiakan agar tidak dibaca atau terbaca oleh orang lain. Tulisan ini biasanya berupa diari, surat-surat pribadi, ataupun catatan-catatan rahasia.
2.       Pribadi terbuka, yakni tulisan bersifat pribadi ataupun sangat pribadi, tetapi dibiarkan ataupun disengaja untuk dibaca orang lain. Tulisan semacam ini muncul akibat perkembangan teknologi informasi, terutama di dunia internet. Tulisan-tulisan di blog, situs, ataupun media sosial cenderung banyak yang bersifat pribadi, subjektif, dan kadang malah dibuat sesuka hati.
3.       Publik terbatas, yakni tulisan yang ditujukan untuk konsumsi orang banyak, tetapi dalam lingkup terbatas, misalnya lingkup komunitas, lingkup keagamaan, ataupun lingkup sesama teman yang saling kenal.
4.       Publik terbuka, yakni tulisan yang ditujukan untuk konsumsi orang banyak secara terbuka dan luas meskipun menyasar pada segmen pembaca tertentu. Tulisan ini bebas dibaca siapa pun yang berminat.



Sifat menentukan untuk siapa tulisan Anda tujukan. Pada sifat pertama Bapak Ibu menulis, tetapi hanya Bapak Ibu sendiri yang membacanya. Sifat 2, 3, dan 4 adalah tulisan yang ditujukan untuk publik sehingga Anda perlu menimbang tujuan penulisan dan pembaca sasaran. Nah menurut Bapak Ibu, menulis di media masa termasuk sifat tulisan yang mana?
Opini merupakan jenis tulisan nonfiksi, ranah jurnalistik, dan sifat tulisannya publik terbuka.


Sebelum bicara lebih teknis untuk membuat tulisan, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan agar tulisan kita memiliki ruh atau jiwanya. Menurut Mas Fauzil Adhim, ada 6 aspek yang harus dikembangkan agar tulisan kita memiliki jiwa. Tulisan akan memiliki jiwa saat penulis memiliki visi hidup (cita-cita dan harapan), melibatkan emosi saat menulis, luas wawasannya (banyak membaca, berdiskusi, jalan-jalan), berbagi pengalaman hidup nyata yang pernah dialami, menggunakan nalar atau logika yang tepat, dan tulisan sebagai hasil perenungan yang mendalam tentang apapun yang akan ditulis.




Menggagas: Berpikir dan Merencanakan
1. Mengumpulkan bahan referensi
2. Menentuian pembaca sasaran
3. Mengembangkan ide menjadi kerangka

Menyusun draf
1.       Menulis bebas
2.       Memasukkan bahan yang relevan dengan pengalaman diri, pengalaman orang lain, latar belakang ilmu dan pengetahuan yang dimiliki
3.       Memasukkan data dan fakta
4.       Mengembangkan gaya penulisan yang tepat sesuai pembaca sasaran

Menyunting: Memastikan Tidak Ada Kesalahan
Memperbaiki tulisan dari aspek tata bahasa, ketelitian data dan fakta, kesantunan. Tak boleh ada kesalahan elementer.

Menerbitkan
Menentukan publikasi tulisan pada media yang tepat serta pembaca yang tepat. Bapak Ibu dapat memilih media daring atau media cetak.

Di luar teknis menulis yang disampaikan di atas, faktor nonteknis seperti disiplin menulis, tak pantang menyerah mengirimkan tulisan ke media meski sering ditolak dan tak dimuat, juga tak berhenti belajar meningkatkan keterampilan menulis. Jauh sebelum tulisan saya dimuat di rubrik opini dan Hikmah Republika, sejak tahun 2007 saya konsisten menulis di Republika Online. Nah ini jadi faktor nonteknis, punya jalinan silaturahim dengan para redaktur di media masa. Kita mendapatkan informasi dan masukan dari para redaktur agar kualitas tulisan lebih baik dan potensial dimuat di media cetak.

Bagaimana menyiasati agar waktu menulis dan tema kita sesuai dengan waktu kirim/moment yang tepat?
Kita harus sensitif dengan momentum yang akan terjadi, misal, 6 hari lagi merupakan momen Hari Kebangkitan Nasional. Nah, dari sekarang kita sudah mulai menyiapkan bahan belanja gagasan, tentukan ide yang akan ditulis, dan tuliskan dan kirimkan tulisannya paling lambat sehari sebelum tanggal 20 Mei. Prinsip umum demikian.

Kendala apa yang terbesar yang sering ditemui sampai tulisan selesai?
Hambatan paling mendasar kita sulit mengalirkan gagasan karena gagasan yang mau diungkapkan belum jelas. Persoalan lainnya, kita kekurangan bahan untuk menunjang penyelesaian tulisan kita. Hal lain yang juga kerap terjadi, saat menulis, kita menempatkan diri dalam 2 peran sekaligus sebagai penulis juga editor. Saat menulis, lalu diedit, kita berhenti. Balik lagi ke awal. Terus terjadi seperti itu. Alhasil gagasan kita lewat tulisan tak selesai-selesai.

Apa syarat tulisan opini atau artikel bisa layak cetak di media?
Syarat paling utama adalah ide orisinal dan menarik, data dan fakta yang disajikan sahih, tata bahasa baik, dan sesuai dengan kriteria dari redaktur media cetak.

Bagaimana menyiasati ketidakpercayaan diri atas tulisan yang sudah kita tulis?
Kita coba konsisten menulis dulu di buku harian atau personal blog yang bersifat pribadi. Nanti jika sudah mulai percaya diri, publikasikan tulisan kita. Jangan takut mendapat kritikan dan masukan dari pembaca terhadap tulisan kita. Karena justru hal tersebut bisa menjadi cermin untuk kita terus meningkatkan kualitas tulisan.

Bagaimana mengasah emosi dalam kepenulisan sehingga tulisan kita bisa berkualitas?
Tuliskan sesuatu yang benar-benar pernah dialami oleh diri sendiri. Saya pernah membuat tulisan di rubrik Hikmah Republika saat istri saya wafat. Wah susah memulai kata pertama dan menutup kata terakhir karena saya ada rasa yang hadir menemani saat membuat tulisan.

Apa saja yang menyebabkan tulisan sering ditolak media masa dan bagaimana cara menulis yang bisa diterima media massa?
Tulisan yang pasti ditolak media adalah yang tidak mengikuti kaidah yang sudah ditetapkan media. Misal, kita menulis sesuatu yang bersifat SARA, gagasan terlalu umum, batas maksimal karakter tak diindahkan oleh kita.

Bagaimana ciri artikel yang menarik untuk diterbitkan?
Ide tulisan orisinal, aktual dengan situasi kekinian di masyarakat, tata bahasa baik, data dan fakta penunjang gagasan Bu Sri Budi lengkap dan sahih.

Adakah kriteria pembeda antarmedia cetak untuk bisa menerbitkan suatu tulisan?
Setiap media cetak punya kebijakan sendiri terkait standar tulisan yang akan mereka terima. Misal, tulisan Hikmah Republika tak ada di media cetak lain. Rubrik Hikmah khas punya Republika. Jadi, kita harus pelajari secara cermat rubrik-rubrik yang ada di setiap media cetak agar kita bisa tepat memilih media mana untuk menerbitkam tulisan kita.

Saya mulai menulis dari bentuk fiksi yang diksinya penuh majas dan ketika saya mencoba ke nonfiksi yang ilmiah saya kesulitan. Apa solusinya?
Saran saya, Bapak mulai pelajari tulisan-tulisan opini yang dimuat di media, lalu coba buat tulisan bergenre nonfiksi. Ala bisa karena biasa. Hal paling penting dalam tulisan opini (nonfiksi) adalah tata bahasa baku dan pemilihan diksi yang bermakna lugas.

Bagaimana caranya supaya ide yang sudah kita miliki menjadi sebuah judul yang menarik untuk dibuat suatu tulisan, karena kadang terlintas ide tetapi susah sekali mencarikan judul yang tepatnya untuk ide tersebut.   
Ada beberapa pendekatan saat menulis. Ada yang langsung menetapkan judul, lalu membuat tulisan. Tetapi ada juga yang sebaliknya, buat tulisan dulu untuk menguraikan idenya, judul bagian terakhir. Saran saya, menulis dulu, nanti judul diputuskan terakhir. Boleh minta pendapat ke guru menulis Ibu atau rekan sejawat terkait pilihan judul dari tulisan yang sudah dibuat Ibu.


Apakah artikel dapat diberikan angka kredit dalam penyusunan DUPAK ke IVb?
Saya kurang paham terkait hal ini. Sejauh pemahaman awam saya, tulisan yang dimuat di media masa, makalah yang dimuat dan dipresentasikan di seminar nasional atau internasional, dan makalah yang dimuat di jurnal terakreditasi nasional bisa menyumbangkan angka kredit yang bermanfaat untuk kenaikan pangkat. Saya punya dosen pembimbing yang sangat produktif berkarya tulis, sekali menulis 2 judul makalah untuk satu event seminar nasional. Kalau semua karya tulis didokumentasikan dengan baik, belajar dari kiprah dosen pembimbing saya, beliau naik pangkatnya cepat sekali. Kata kuncinya: konsisten berkarya tulis. Naik pangkat itu bonusnya.





Rabu, 13 Mei 2020

MENULIS DI MEDIA CETAK


Tema               : Menulis di Media Cetak
Waktu             : Rabu, 13 Mei 2020
Narasumber    : Dra. Rahmi Wilandari, M. Pd.

Tentang Narasumber
Nama                            : DRA. RAHMI WILANDARI , M.Pd
Tempat, Tanggal Lahir : SURABAYA, 1 JANUARI 1965
Alamat Rumah              : JL. SUTEDI SENOPUTRA GG CEMPAKA I/2 KARANGPILANG SURABAYA 60221
Alamat Surel                 : rahmi.smadda@yahoo.com
Blogger                         : edukasirahmiwilandari.blogspot.com
Nomor HP                     :  081235192393
Program Studi S-1         :  S1 Pendidikan Ekonomi Tahun Lulus 1988
Program Studi S-2         :  S2 Pendidikan Ekonomi Tahun Lulus 2013
Tempat mengajar          : SMA Negeri 21 Surabaya/ Jawa Timur

Daftar Karya                :
1.    Jurnal Pendidikan Ekonomi UNESA Surabaya
“ Pembelajaran Kooperatif Tipe Thik Pair Share dengan Media 3D Topiscape SE
(Student Edition) untuk Meningkatkan Ketuntasan belajar Siswa (2013) “
2.    Pemanfaatan Media Pembelajaran Audio dan Multimedia (2013)
3.    My Literacy for My Future ( Literasiku, Masa Depanku) (2017)
4.    Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match dengan menggunakan Media Kartu Remi (Playing Cards) untuk meningkatkan Ketuntasan Belajar Siswa pada Materi Permintaan dan Penawaran  (2018)
5.    Wajib dan perlukah Pendidikan Kewirausahaan di SMA (Artikel Ilmiah) (2019)
6.    Membangun Karakter Generasi Milenial menghadapi Era Revolusi Industri 4.0   (2019)

Daftar Penghargaan :
1.     Juara 3 LKTI Majalah Media (PGRI) Tingkat Jawa Timur tahun 2013
2.     Juara Lomba Guru Menginspirasi ( KTI Literasi ) Tingkat Nasional  2018 untuk jenjang SMA / MA / SMK diselenggarakan oleh Penerbit PT. Erlangga Jakarta

            Narasumber menulis berawal tertarik untuk menulis segala apa kejadian sehari-hari yang dialami ditulis. Pada saat berangkat kerja jika ada kejadian menarik, setiba di sekolah langsung buka laptop apa yang dilihat kejadian tadi ditulis garis besarnya.  Setelah sampai di rumah buka lagi laptop untuk melanjutkan cerita yang tertunda  siang hari.
Merasa tidak pandai merangkai kata-kata untuk menjadi sebuah kalimat dan menjadi sebuah paragraf yang enak untuk dibaca. Untuk menulis itu ada macam-macam penulis. Ada Penulis cerpen,  ada penulis novel,  ada penulis cerita bersambung (cerbung). Ada juga penulis ilmiah. Kategori penulis ada penulis Fiksi dan non Fiksi.
Penulis artikel pun juga ada macamnya: penulis umum ada penulis buku teks. Janganlah enggan untuk memulai menulis. Jika ada waktu luang bisa dihabiskan untuk membaca di perpustakaan. Selain perpustakaannya adem,  tenang untuk membaca dan bisa menginspirasi untuk menulis.
Penulisan KTI atau artikel dibutuhkan wawasan untuk rajin membaca baik buku cetakan atau e-book. Untuk Penelitian ada penelitian Deskriptif, Penelitian eksperimen (penelitian murni)  dan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK). Bagi guru PTK adalah harus bisa melaksanakan dan  sangat mudah karena dari kejadian sehari-hari saat mengajar. Untuk langkah-langkah PTK sudah ada pada PPT.
Pertama kali ikut lomba KTI (PTK)  tahun 2013. Saat penelitian dilaksanakan, tidak punya target untuk menang.  Yah, hitung-hitung cari pengalaman. Saat itu gencar-gencarnya workshop tentang Penulisan PTK dan Karya Ilmiah. Banyak guru pada penasaran bagaimana menulis PTK.
Bagi bapak dan ibu guru yang ikut workshop ini kan juga sama dengan narsum, sama-sama jadi penulis hebat. Sebuah keberhasilan harus disertai usaha, semangat serta kerja keras. Terkadang kita lagi mood menulis,  jika penyakit malas kambuh enggan lagi menulis. Mulailah belajar disiplin diri menulis setiap hari. Insyaallah kalau sudah terbiasa akan enak,  dan kecanduan untuk selalu menulis dan menulis.

Penelitian deskriptif itu contohnya seperti apa dan bagaimana serta apakah bisa digunakan sebagai karya tulis ilmiah? Untuk judul PTK dari kegiatan kita mengajar bisa kita jadikan PTK....
Penelitian diskriptif: peneliti mampu mengidentifikasi mengapa,  apa dan bagaimana fenomena sosial. Banyak sekali gejala sosial yang terkadang kita bisa memprediksinya. Tahun 2017 saya dan murid saya tentang layanan non tunai,  dengan teknik wawancara. Ternyata pelayanan sekarang lebih banyak menggunakan E-Money, pernah mengadakan penelitian diskriptif.

Apakah PTK wajib menggunakan sebuah model atau metode pembelajaran? Dan apakah mutlak 3 siklus yang ada dalam sebuah PTK?
PTK minimal harus 2 siklus,  3 siklus lebih baik. Di PPt saya ada lampiran apa saja yang diperlukan supaya PTK tidak ditolak.

Ciri utama PTK adalah adanya siklus. Bagaimana kalau hasil penilaian siklus 1 ke siklus 2 menurun ? PTK diseminarkan di sekolah. Bagaimana prosedurnya ?
Penelitian dari siklus 1 ke siklus 2 dan siklus 3 ya harus ada peningkatan. Guru kan dalang bagaimana menjalankan lakon agar bisa meningkat. Dengan membuat  PTK kita bisa  mendapat: Jurnal Ilmiah baik cetak atau online, PTK jg hrs diseminarkan,  ada berita Acara,  ada undangan dll seperti dalam PPT saya,  insyaallah nilai 4, dan jng lupa ada bukti Surat Keterangan Penyerahan PTK ke Petugas Perpustakaan pasti lolos kenaikan pangkatnya.

Dalam pembuatan PTK itu awalnya adalah problem dalam kelas yang akan diperbaiki. Treatmen apa yang dilakukan supaya PTK itu benar-benar sebuah penelitian, karena terkadang guru hanya mengejar  target untuk kenaikan pangkat belaka .
Nah... Pandangan ini yang salah. Jangan membuat PTK karena mau naik pangkat,  usahakan 1 tahun Pelajaran minimal 1 PTK,  jadi pas naik pangkat aman dan tenang karena kita sudah siap bukan PTK yang dijahitkan. Setiap menyusu RPP satu semester, kita sudah bisa merencanakan bab mana yang akan kita buat PTK,  dan kira-kira siswa mengalami kesulitan,  dan pakai metode apa, model pembelajarannya bagaimana jadi betul-betul saya persiapkan.

Dalam penulisan PTK, sumber utamanya kan kita guru, berdasarkan temuan-temuan kita saat mengajar, adakah sumber-sumber tambahan dari luar yang Ibu ambil sebagai referensi dalam Penulisan PTK Bu?
Dari luar maksudnya buku-buku bacaan? Untuk referensi tahunnya harus 10 tahun ke belakang,  jadi kita cari judul dan pengarang yang sama tapi edisi terbaru.

Apa perbedaan signifikan antara PTK dan best practice? Mengingat keduanya sama-sama mencari solusi dengan menerapkan strategi tertentu.
Antara PTK dan Best Practice tidak sama Ibu.  Best Practice pengalaman terbaik. Untuk lebih jelasnya lihat buku 4 dan buku 5 Pedoman Kenaikan pangkat.

Mohon penjelasan perbedaan pembahasan pada HASIL dan PEMBAHASAN?
Hasil Penelitian menggambarkan bagaimana hasil penelitian dari siklus 1- 3 disertai data tabel hasil Penelitian. Hasil Penelitian menggabarkan bagaimana hasil penelitian dari siklus 1- 3 disertai data tabel hasil Penelitian.

Apakah abstrak  di dalam PTK harus menggunakan bahasa Inggris?
Idealnya abstrak itu ada bahasa Indonesia dan ada yang bahasa Inggris. 

Saya terus terang lemah sekali dalam menulis terutama dalam merangkai kata. bagaimana tip untuk supaya ada keterampilan dalam merangkai kata sehingga menjadi tulisan yang menarik?
Ibu saya juga bukan orang yang pandai merangkai kata. Tapi saya berusaha banyak membaca PTK org lain lnternet,  lalu saya tulis,  setelah selesai saya baca berulang-ulang, saya tunjukkan ke teman guru Bahasa Indonesia,  tolong dikoreksi kekurangannya di mana, sampai bisa jadi paragraf yang enak dibaca. Menarik atau tidak tergantung kita merangkai kata-kata, bahasa Indonesia yang baik,  titik,  koma dan Huruf besar dan huruf kecil tepat pengunaannya.
Saya mau tanya bahwa Penulis artikel ada macamnya: penulis Umum ada Penulis buku teks keduanya apa memiliki ciri penulisan yang berbeda atau bagaimana untuk memulai menulisnya. 
Ibu menulis artikel bisa dari kejadian, peristiwa atau gejala yang ada di sekitar kita sehari-hari. Contoh apa dampak Pandemi Covid -19 terhadap ekonomi masyarakat. Atau dengan adanya Pandemi Covid 19 masalah apa yang dihadapi orangtua peserta didik cukup tulis 500-1000 kata,  ada masalah,  ada bahasan,  ada solusi kirim ke redaksi majalah atau surat kabar, dapat COIN dan POINT. Coin dapat honor,  POINT dpt nilai 2 untuk kenaikan pangkat jika majalah/surat kabar Nasional. Kalau surat kabar dan majalah regional/provinsi nilai 1, 5.

Apakah mutlak kalau penelitian di sekolah harus menggunakan PTK? Karena setahu saya ada berbagai jenis penelitian yaitu eksperimen, deskriptif/kualitatif, R&D dan PTK itu sendiri. Apakah tidak boleh jika kita memilih penelitian R&D atau eksperimen yang ada kelas eksperimen dan kelas pembanding, terlepas ini nantinya digunakan atau tidak sebagai syarat kenaikan pangkat.

            Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa menulis itu perlu dibiasakan. Bisa dimulai dari menulis kejadian sehari-hari. Jika kita telah memulai menulis setiap hari secara disiplin, keterampilan menulis akan dapat ditingkatkan. Akhirnya diharapkan semua guru terampil menulis PTK, penelitian eksperimen, menulis artikel, cerpen, novel dan lain-lain. Bisa menulis sesuai passionnya masing-masing. Bisa menulis jenis fiksi maupun nonfiksi. Jika kebiasaan menulis telah membudaya di kalangan guru, tentu tak ada alasan bagi guru terganjal naik pangkat karena belum terpenuhinya pengembangan keprofesian berkelanjutan baik berupa karya ilmiah maupun karya inovasi.




MUSUH BESAR DALAM MENULIS


Tema                           : Menulis Itu Menyenangkan
Waktu                         : Selas, 5 Mei 2020 Pukul 14.00 -16.00
Narasumber                : Catur Nurrochman Oktavian

Pak Nurrochman memulai dengan kalimat motivatif dari Bud Gardner, “Ketika kau bicara kata-katamu hanya menggema melintas ruangan. Ketika kau menulis kata-katamu akan menyeberang atau menggema sampai bertahun-tahun atau berabad-abad.” Tulisan akan menyejarah dalam hidup kita.
Beliau juga memotivasi para guru untuk menulis berapapun usia Bapak Ibu guru. Sebab dalam menulis tak ada kata terlambat. Prinsipnya, kita harus bisa memotivasi diri untuk menulis, menulis, dan menulis. Jangan menjadikan alasan pembenar bagi diri kita tidak menulis karena kita merasa sudah tua. Juga tak perlu beralasan tidak menulis karena tidak sempat atau banyak kesibukan.
Sebagai seorang pemula dalam menulis, kita harus semangat. Tidak perlu terlalu idealis. Lebih baik membuat tulisan yang buruk sehingga dapat diperbaiki daripada tidak menghasilkan sebuah tulisan. Tulisan yang buruk masih dapat diedit. Adapun tulisan yang tak pernah dituis tak pernah dapat diedit.
Mengapa menulis dianggap sulit? Sebenarnya kendala menulis itu hanya ada dua, yaitu rasa takut dan rasa malas. Kalaupun penulis merasa bahwa menulis itu sulit, sebenarnya karena belum terbiasa saja. Menurut Rhenald Kasali, sesuatu yang belum terbiasa itu sulit. Untuk menghadapi hal baru kadang kita terpaksa terlebih dahulu. Setelah terpaksa, dipaksa. Baru berikutnya menjadi terbiasa. Setelah terbiasa kita akan menjadi mahir.
Thomas Fuller mengatakan, “All thins difficult before they are easy.” Kalau yang beragaman Islam dapat membuka surat Al Insyiroh. Di sana dinyatakan bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan.

Menulis merupakan sebuah keterampilan. Untuk mendapatkan sebuah keterampilan perlu berlatih, berlatih, dan berlatih. Sebuah keterampilan memiliki karakteristik sebgai berikut.

1.     Tidak perlu bakat
2.     Perlu proses latihan
3.     Didukung pengalaman
4.     Dikukuhkan wawasan bacaan
5.     Diakui masyarakat jika: konsisten, kontinu (berkelanjutan), dan sepanjang hayat.
Menulis itu sangat erat dengan membaca. Jika kita ingin menjadi penulis maka harus meluangkan waktu untuk membaca. Ingat nasihat Stephen King, “If you don’t time of read, you don’t have the time  (or the tools) to write. Simple as that.” (Jika Anda tidak punya waktu untuk membaca, Anda tidak punya aktu (atau alat) untuk menulis. Sesederhana seperti itu).

Untuk dapat menulis, kita punya dua musuh yang harus kita kalahkan. Keduanya adalah rasa takut dan rasa malas. Takut jika nanti tulisannya jelek, takut tulisan tak layak dibaca, takut dihina atau dibully. Rasa malas bisa muncul dengan berbagai dalih atau alasan. Alasan banyak kegiatan, alasan tak ada waktu, dan alasan lain yang membenarkan kita untuk tidak menulis. Itulah kedua musuh utama penulis yang harus ditaklukkan jika kita ingin menulis.
Jika kita mau menulis, sebenarnya banyak bahan yang kita tulis. Apa saja itu?
1.     Menulis profil diri:
-       Profil teman atau orang yang dicintai atau dikagumi
-       Profil tokoh: bahan dari buku
2.     Mengungkapkan unek-unek
3.     Laporan perjalanan
4.     Hasil pengamatan
5.     Peristiwa sejarah (kaitkan dengan masa kini)
6.     Topik aktual.
Profil yang bisa ditulis:
1.     Human interest
2.     Mengandung keteladanan
3.      Mengusung semangatnya
4.     Menyoroti sisi positifnya
5.     Membicarakan ketokohan
6.     Mengungkap prestasinya
7.     Mengulas karyanya.
Persitiwa bersejarah yang bisa ditulis adalah peristiwa yang:
1.     Unik
2.     Kontekstual
3.     Informatif
4.     Dalam rangka perayaan
Untuk peristiwa bersejarah bisa menggunakan buku sebagai sumber untuk bahan referensi atau rujukan tulisan.
Kunci bagi seorang penulis pemula adalah berlatih, berlatih, berlatih. Yang penting juga diperhatikan bagi penulis pemula adalah substansi tulisan informatif, enak dibaca, mengalir, dan gurih. Selain itu, ada hal yang perlu diperhatikan.
1.     Jika memang mau menulis, maka menulislah
2.     Apa pun jenis tulisannya, menulislah
3.     Menulislah sepenuh hati
4.     Menulislah dengan cinta.
Jika Anda ingin menjadi penulis yang memikat, perhatikan trik berikut.
1.     Sederhanakan kalimat Anda
2.     Sesuaikan dengan segmen pembaca
3.     Kalimat pertama adalah kunci
4.     Be yourself because you’re unique. Sell yourself
5.     Solusi memecahkan masalah.
Ada pula rumus dasar yang perlu diperhatikan dalam menulis.
1.     Hindari kalimat panjang
2.     Jika bukan repetisi, hindari pengulanagn kat ayang sama dalam satu kalimat
3.     Buang kata-kata yang tidak penting
4.     Kugas, padat, dan langsung
5.     Hiindari alinea gaah (satu alinea sebaiknya enam atau tujuh kalimat)
6.     Hindari kelewahan
7.     Manfaatkan kata ganti
8.     Maksimalkan sinonim dan diksi.
Ada lagi hal yang sangat perlu diperhatikan penulis yakni menulis untuk kebermanfaatan. Hal yang wajib dihindari dalam menulis adalah plagiarism, SARA, hoaks, dan pelecehan serta pencemaran nama naik. Pesan dalam tulisan harus jelas. Satu pesan dalam satu tulisan.
Kesimpulannnya, bahwa musuh besar yang harus dikalahkan dalam menulis adalah ketakutan dan keraguan dalam diri kita sendiri.  Musuh berikutnya adalah malas. Jika Anda ingin menulis, mulailah dari sekarang. Dan mulailah dari hal yang sederhana.