Tampilkan postingan dengan label WEBINAR PGRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WEBINAR PGRI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Mei 2020

ONLINE EVALUATION


Tema               : Online Evaluation
Waktu             : Rabu, 13 Mei 2020 Puku 09.30 – 11.00
Kegiatan         : Webinar Guru Daring Milenial PGRI
Narasumber    : Prof. Eko Indrajit
            Dalam suatu kegiatan, sering kita mendengar penggunaan kata evaluasi. Suatu even yang telah berakhir biasanya juga diakhiri dengan evaluasi. Begitu pula dalam sebuah pembelajaran. Evaluasi dapat dgunakan untuk mengetahui apakah siswa mengerti materi pembelajaran atau belum. Bisa pula untuk mengukur apakah bahan ajar sudah sesuai. Bisa pula untuk mengetahui apakah pembelajaran disampaikan terlalu cepat atau terlalu lambat. Bahkan, bisa pula untuk mengukur apakah soal yang diberikan guru terlalu sulit atau terlalu mudah.
Ketika peserta webinar ditanya apa yang bisa dievaluasi dalam pembelajaran? Jawabannya beragam. Secara umum menjawab pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Ada pula yang menjawanb senyum siswa. Ada yang menjawab materi, ada cara mengajar guru, dan ada pula proses pembelajarannya. Bahkan, ada pula jawaban lain. Semua jawaban oleh narsum tak ada yang dianggap salah.
Secara umum evaluasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses atau usaha untuk memberikan penilaian terhadap suatu hal sebagai dasar dalam mengambil keputusan terhadap berbagai pilihan alteratif yang tersedia (Indrajit, 2020).




Mungkinkah evaluasi dilaksakanan secara online? Mau tidak mau, suka tidak suka evaluasi saat ini harus dilaksanakan secara online. Sebab tak ada pertemuan secara langsung dalam pembelajaran. Covid-19 ini menuntut guru dan siswa mengikuti perubahan dan perkembangan. Tentu, dalam pelaksanaannya bisa bervariasi. Bergantung kepada sumber daya masing-masing sekolah.
            Bapak ibu guru saat memberikan jawab apa tantangan tantangan terbesar evaluasi online beragam. Ada yang menjawab miskonsepsi, jaringan, sarpras, kejujuran siswa, umpan balik, waktu lebih banyak. Meskipun guru dan siswa tidak masuk sekolah, bukan berarti mereka libur. Tetap ada kewajiban untuk memberikan layanan pembelajaran dan kewajiban mengikuti pembelajaran. Meskipun ada yang mengatakan bahwa saat pandemi corona ini guru makan gaji buta, biarkanlah saja. Semua akan terpulang pada dirinya masing-masing.
            Evaluasi yang dilakukan secara online tentulah memiliki masalah atau tantangan. Inilah sederet tantangan evaluasi online.
1.     Guru dan siswa beda lokasi
2.     Ruang dan waktu tidak relevan
3.     Piranti yang dimiliki berbeda-beda
4.     Literasi teknologi tidak seragam
5.     Kinerja infrastruktur/koneksi internet tidak sama
6.     Pengawasan efektif sulit diakukan
7.     Karakteristik lingkungan siswa sangat heterogen
8.     Bayangan “false positive” dan “false negatif”




Guru dan siswa beda lokasi merupakan sebuah tantangan. Sebab permasalahan yang ada tak dapat diatasi saat itu juga. Ruang dan watu tidak relevan juga dapat memunculkan masalah. Misal, guru menyampaikan pembelajaran pagi hari dan perlu mendapat respons hingga siang hari. Karena ruang dan waktu yang berbeda, apalagi ditambah piranti yang dimiliki berbeda, koneksi internet tak stabil, karakteristik lingkungan siswa yang heterogen dapat menimbulkan tantangan atau permasalahan.
Namun, di antara sekian tantangana di atas sebenarnya tantangan terbesar adalah tak sempat peltihan atau persiapan tetapi harus dan dipaksakan untuk diaplikasikan. Ini gegara hadirnya Covid-19 yang mengharuskan guru bekerja di rumah (work from home) dan siswa belajar dari rumah (study form home). Ini ibaratnya orang yang belum sempat berlatih berenang tetapi langsung menceburkan diri di kolam renang.
Sebagai guru tentu kita dapat membedakan evaluasi formatif dan sumatif. Evaluasi formatif merupakan penilaian terhadap rancangan, strategi, model, proses, pendekatan, dan bahan pembelajaran untuk memperbaiki proses belajar mengajar. Adapun penilaian sumatif merupaka penilaian terhadap efektivitas keseluruhan proses pembelajaran yang dilhat dari hasil belajar peserta didik yang diraih.
            Prinsip dalam Evaluasi Online pada Masa Pandemi
1.     Lebih baik ada evaluasi daripada tidak ada saa sekali
2.     Evaluasi merupakan bagian engagement dan motivsi belajar siswa secara serius
3.     Di samping itu merupakan masuk bagi guru dan satuan pendidikan dalam memperbaiki proses pembelajaran secara daring.





Contoh aplikasi online evaluation adalah mentimeter. Jika kita masuk masuk ke program mentimeter tinggal ketik mentimeter.com. Kemudian kita masukkan nomor kodenya. Bentuk saoal yang bisa digunakan dalam mentimeter antara lain:
1.     Pilihan ganda (multiple choise)
2.     Jawaban singkat
3.     Urutan/ranking
4.     Esai
Penggunaan aplikasi mentimeter ini perlu mendaftar terlebih dulu. Sebagai guru kita bisa masuk setelah ketik mentimeter.com  sedangkan sebagai siswa bisa ketik menti.com. Mentmeter ini merupakan contoh aplikasi evaluasi online. Jika Bapak bu ngn yang offline bisa memilih, articulate, isprin, kahoot, atau quizizz.
Berikut ini merupakan contoh-contoh aplikasi online evaluation.
1.     Melakukan evaluasi sebelum, ketika, dan setelah proses pembelajaran sekaligus menggunakan aplikas MENTIMETER:
2.     Memberikan pekerjaan rumah berbasis game yang menyenangkan bagi para siswa dengan menggunakan kahoot dan quizizz.
3.     EDUCATION.COM adalah satu dari berbagai contoh aplikasi dan dapazt digunakan untuk guru SD dan TK untuk membuat pembelajaran menarik berbasis digital.
4.     ALIMENTARIUM ACADEMY menyediakan berbagai permainan evaluatif berbasis topik bahasan yang sangat menarik dan inovatif.
Itulah contoh-contoh model online evaluation yang dapat diaplikasikan dalam pembelajarn oleh guru. Tidak harus semua diaplikasikan dalam pembelajaran. Bisa dipilih satu atau dua untuk kemudian dipelajari dan dipahami yang dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran. Penerapan online evaluation ini dapat mengatasi permasalahan kebosanan dalam pembelajaran, inovatif, dan atraktif. Namun, bukan berarti tak ada kekurangan. Jika koneksi nternet tidak sterhambatnya tabil akan berdampak pada pelaksanaan online evaluation ini.


Selasa, 12 Mei 2020

INOVASI PEMBELAJARAN


Tema               : Inovasi di Ajang Nasional
Waktu             : Selasa, 12 Mei 2020
Narasumber    : Arif Darmadiansah
Riwayat Hidup Narasumber
Nama Lengkap            : Arif Darmadiansah, S.Pd., Gr
Email                           : darmadiansah.arif@gmail.com
Bidang Keahlian         : Biologi dan Komputer
Instansi                        : SMA Negeri Probur, Kab Alor, Prop Nusa Tenggara Timur
Alamat rumah                         : Teluk Mutiara (depan PMI kalabahi) Nomor 50 Kabupaten
Alor Nusa Tenggara Timur (NTT)
Prestasi yang pernah diraih:
1.       Juara II Inovasi Pembelajaran Jenjang SMA/SMK Tingkat Nasional - 2016
2.       Finalis Lomba Pendidikan Karakter Bangsa Jenjang SMA/SMK Tingkat Nasional – 2017
3.       Penerima Research Grant SEAMEO – 2017
4.       Juara I Inovasi Pembelajran Jenjang SMA/SMK Tingkat Nasional – 2018
5.       Peserta Shortcourse Digital Tool MOOCs di Charles Darwin University – 2019
6.       Delegasi Indonesia dalam Shortcourse Asessment Purpose for teacher science Recsam Penang – Malaysia – 2019
7.       Juara I Guru Dedikasi Tingkat Nasional Tahun 2019

Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1.     Digital Learning 4.0 untuk Pendidikan Indonesia ISBN 978-623-91182-6-6 Tahun 2019
2.     Merajut benang kemandirian melalui tambang kemaritiman ISBN 978-602- 6245-27-4 Tahun 2019
3.     Jurnal: Engineering Edu Jurnal Ilmiah pendidikan dan Ilmu Teknik. LIPI. (2017)
4.     Jurnal: Prosiding Lomba Inovasi pembelajaran Kesharlindung Dikmen Kemdikbud. (2017)
5.     Buku Latihan: Biologi GOKIL 100% (Gol Kilat Tembus Nilai 100 UN) (2016)
6.     Buku Pelajaran: Biologi 2 Untuk SMA Kelas XI Semester 2 (2015)
7.     Buku Latihan: IPA 100% GOKIL (Gool Kilat Tembus Nilai 100) Ujian Nasional (UN) SMP (2014)
8.     Buku Latihan : Tembus PTN (Perguruan Tinggi Negeri) (2013)
9.     Buku Latihan : IPA 100% GOKIL (Gol Kilat Tembus Nilai 100) UN dan USBN Sekolah Dasar (SD) (2013)

Pengalaman Lomba Tingkat Nasional
Pak Arif Darmadiansah yang asli Solo dan mengabdi di Alor, NTT pertama kali mengikuti inobel tahun 2016 itu dari sebuah ide atau gagasan sederhana. Pengin membuat kelas menjadi menarik dan menyenangkan. Selain itu, kualitas pembelajaran juga kurang optimal. Dan yang utama tiada sarana prasarana yang mencukupi ide inovasi bisa muncul dari sebuah masalah atau potensi. Kalau saya jelas banyak masalah dari ide kemudian dipikirkan kira-kira mampu dan bisa tidak diterapkan di sekolah dengan kondisi sekolah saya yang tidak ada listrik dan sinyal telp apalagi internet.
Kemudian mengembangkan ide tersebut menjadi sebuah produk. bisa media, bahan ajar, atau lainnya. Menuliskannya menjadi sebuah karya ilmiah dan bersiap untuk mengikuti kompetisi. Karya ilmiah dapat berupa penelitian tindakan kelas, eksperimen atau yang saya buat pengembangan (R&D). Ini untuk jenjang Dikmen ya Bapak Ibu. Karena setiap jenjang berbeda kaidahnya.
Untuk Dikmen bisa diakses portal kesharlindung.pgdikmen.kemdikbud.go.id
dan untuk dikdas kesharlindung.pgdikmen.kemdikbud.go.id https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://kesharlindung.pgdikmen.kemdikbud.go.id/&ved=2ahUKEwjnieLbyq3pAhWMf30KHSp1AdgQFjAAegQIBhAD&usg=AOvVaw1mpfWejapwzbEz7nKmAdtc
Pendaftaran dan seleksinya melewati portal itu. Terbuka untuk semuanya. Ada beberapa syarat administrasi yang diminta misalkan surat peryataan aktif mengajar, surat bukan kepala sekolah, dan lainnya. Tahap pertama seleksi administrasi kemudian dilakukan penilaian proposal penelitian. Apabila lolos maka akan mendapatkan undangan bimtek dari kemendikbud. Setelahnya melakukan penelitian pelaksanaan di sekolah. Dilakukan seleksi dan didapatkan peserta finalis yang akan kembali diundang untuk mempresentasikan hasil karya ilmiahnya.
Untuk jenjang SMA ada 3 bidang SMA, SMK dan sekolah inklusi. Untuk jenjang Dikdas kalau tidak salah langsung mengirim laporan hasil penelitiannya. Bidangnya ada IPA, Soshum dan lainnya. Mohon koreksinya bila salah.
Waktu tahun 2016 diambil 100 peserta yang lolos sebagai finalis. SMA 50 dan SMK 50. Waktu itu belum ada inklusi. Tahun 2018 format dibedakan kembali. Ada kategori utama bagi peserta yang pernah juara, madya yang pernah masuk finalis namun belum juara dan pemula bagi yang pertama kali mengikuti.
Tes yang dilakukan saat babak final meliputi tes tertulis, tes presentasi dan laporan hasil penelitian. Tes tertulis berisi soal peadagogik pilihan ganda 100 soal. Tahapan lomba inovasi paling tidak seperti itu Bapak Ibu, nanti bisa ditambahkan apabila ada yang terlupa.

Pengalaman inovasi di sekolah
Sekolah saya di ujung Alor. Daerah 3T kalau orang bilang. Terpencil, Terluar, Terdalam dan ter ter lainnya. Berada di puncak perbukitan, berbatasan langsung dengan negara tetangga timur leste yang dipisahkan oleh selat. Kami ke dili lebih dekat daripada ke kupang bila naik kapal atau pesawat. Minimnya sarana prasarana membuat kegelisahan dan tantangan untuk berbuat lebih baik. Tahun 2016 itu terinspirasi dari sebuah proyektor hologram 3d saya ingin menjelaskan invertebrata tapi anak-anak tidak punya gambaran sama sekali biar menarik saya coba membuatnya. Pertama terbuat dari mika tutup CD bekas itu, yang dibentuk seperti prisma sebagai tempat hologramnya. Dan HP android sebagai penayang video atau gambarnya.
Mika cd saya dapet dari temen guru, bekas atau bisa disebut limbah. Namun setelah lolos masuk finalis saya ganti menjadi akrilik. Beli di toko harganya 30 ribu seukuran kertas A4. Tampilannya lebih jelas, gambarnya juga detail tidak kusam. Saya menggunakan metode pengembangan atau RnD dalam penelitiannya.
Setelah produk jadi saya nilaikan ke pengawas sekolah hasilnya valid. Atau layak untuk digunakan dalam pembelajaran. Setelahnya saya ujicobakan ke anak dan mendiseminasikan ke teman guru lain. Hasil yang didapat minat dan hasil belajar anak meningkat.
Tahun 2018, sudah punya gambaran dan pengalaman sebelumnya. Jadi lebih siap dengan apa yang harus dilakukan. Media ini saya kasih nama Millea : Mikroskop lensa laser tenaga surya
Dapet ide juga saat mau pembelajaran struktur tumbuhan. Tidak ada mikroskop untuk pengamatan. Padahal biologi 40 persen praktek di lab yang membutuhkan alat salah satunya mikroskop. Media ini juga sederhana. Hanya HP yang ditambahi lensa laser bekas mainan anak-anak yang biasa dipakai untuk sorot-sorot itu sehingga perbesarannya bertambah. Sudah cukup untuk dapat melihat struktur anatomi tumbuhan.
Walaupun belum maksimal namun ada hal baru yang anak dapat. Dari 2 ide itu, saya beruntung mendapatkan nomor juara. Mungkin kasihan melihat saya guru kampung yang jauh-jauh datang ke Ibukota untuk belajar.
Dari awal niatnya hanya buat belajar, bukan ikut berkompetisi. Tahun 2108 yang berencana untuk ikut ambil bagian. Dan sisanya bonus saja. Dapat berkenalan dengan teman guru se Indonesia. Karena tidak menyangka saja, saya yang biasa di hutan bisa berada di tengah-tengah mereka. Mungkin itu bapak ibu hebat yang dapat saya bagikan mengenai pengalaman mengikuti lomba inobel

Inovasi pendidikan yang bagaimana yang dapat membuat guru sukses ikut olimpiade?
Bidang inovasi itu banyak sekali pak. Tergantung tujuannya apa. Strategi pembelajaran mungkin bisa dijadikan sebagai inovasi untuk tujuan tersebut.

Mohon idenya untuk karya inovatif untuk mapel kimia yang bermanfaat dan tidak sulit untuk anak sekolah.
Kimia masih serumpun dengan mapel saya ibu. Dan terkadang saya juga ikut mengajar kimia. Karena tidak ada guru kimia. Kalau ditanya ide, setiap permasalahan di sekolah beda-beda Ibu. Media yang saya buat jelas tidak dapat digunakan di Kudus. Namun saya melihat anak-anak saat ini sangat tertarik dengan dunia digital. Siswa saya yang di kampung saja punya android, padahal tidak bisa dipakai. Mungkin itu bisa dimanfaatkan sebagai potensi untuk mengembangkan sebuah media digital bagi mereka.

1) Bagi guru  yang ingin ikut kompetisi seperti itu tetapi terhalang NUPTK yang belum keluar, apakah Pak Arif mempunyai kekuatan info terkait lomba yang tidak mempermasalahkan NUPTK? 2) selama pandemi, inovasi apa yg bapak lakukan ketika mengajar? Terkait kita harus WFH dan siswa LFH? 3) Untuk mikroskop tadi, preparat yang digunakan tetap preparat pada umumnya ataukah bagian tumbuhan asli?
Betul Ibu saya lulusan Unnes. Dan pernah mengabdi di SMA 14 semarang.
1.     Setahu saya sekarang syaratnya tidak menggunakan NUPTK Ibu, hanya tangkapan layar dapodik yang menandakan bahwa guru tersebut jelas mengajar di sekolah tersebut.
2.     Selama WFH sekolah kami belajar di rumah. Kegiatan belajar kami sampaikan lewat SMS HP. Kami bagi perwilayah atau daerah. Setiap jam pelajaran di hari tertentu salah satu siswa yang mempunyai HP mencari tempat sinyal. Kemudian disampaikan. Tugas berbentuk portofolio dan laporan. Ketika nanti sudah aktif KBM siswa siap untuk berbagi hasilnya. Selain itu saya juga membuat media android Ibu yang bisa diakses secara offline.
3.     Preparatnya sama saja seperti praktek biasa, namun masih terbatas pada struktur tumbuhan.

1) Bagaimana langkah membuat inovasi pembelajaran? 2) Yang mana lebih tinggi nilainya menggunakan bahan bekas daripada bahan modern dlm inovasi pembelajaran?
1.     Tahapan inovasi untuk menghasilkan produk baru berbeda-beda pak tergantung rujukan siapa yang kita pakai. Namun garis besarnya: Ide - pembuatan- validasi ahli- uji coba dan produk jadi.
2.     Instrumen penilaiannya banyak Pak, bahan yang dipakai hanya salah satu. Aspek mudah digunakan, mudah didapatkan, mudah ditiru, dan seberapa manfaat produk itu menjadi penilain yang tinggi.

Dalam pembuatan karya inovasi seperti yang Anda telah lakukan biasanya kendala apa yang paling Anda rasakan dalam pelaksanaannya? Apakah sebuah karya inovasi haruskah berdasarkan pada 1 tingkat kemampuan anak didik atau karya inovasi yang dibuat harus bisa menaungi semua kemampuan peserta didik?
Kendala yang biasa muncul ya hasilnya tidak sesuai dengan harapan ibu. Atau tidak layak ketika kita validasikan ke ahli. Inovasi yang dilakukan untuk menjawab permasalahan yang muncul di latar belakang yang kita tulis. Dalam media yang saya buat tidak bisa menaungi semua kemampuan.

Karya inovasi itu ditulis dalam bentuk laporan penelitian PTK atau ada format khusus laporan karya inovasi ya?
Inovasi dapat ditulis dalam format karya ilmiah apapun Ibu. Kalau pengembangan berarti mengikuti penulisan penelitian Rnd. Kalau penerapan atau penggunaan maka mengikuti penulisan penelitian PTK atau eksperimen. Bahkan apabila kita mencoba sesuatu yang baru kemudian kita tulis saja secara deskripsi itu termasuk dalam penulisan best practice.  Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari bapak ibu sudah dan sering melakukan inovasi namun tidak terdokumentasi atau tertulis dalam karya ilmiah.

Bagaimana langkah awal dan cara membuat karya ilmah sampai bisa sukses itu gimana Pak?
Penulisan karya ilmiah seperti kita membuat skripsi saat kuliah Ibu. Ada latar belakangnya, tujuan, manfaat, metode, data, hasil serta kesimpulan. Nanti saya coba bagikan file penulisan karya ilmiah yang dipresentasikan dewan juri. Insyaallah saya cari terlebih dahulu. 🙏😊 N

Apakah Bapak guru Biologi dan juga guru Komputer? Gr di belakang nama Bapak itu singkatan apa?
Gr itu gelar yang diberikan setelah mengikuti Pendidikan Profesi Guru selama setahun. Gr itu sebutan Guru di sertifikat pendidik. Maaf terlewat. saya guru biologi saja ibu namun suka komputer.

Apa kriteria utama penilaian  dewan juri terhadap sebuah karya inobel?
Instrumennya banyak. Nanti saya share ya Pak. Namun, yang utama untuk produknya orisinal atau keterbaruan, kebermanfaatan atau dampak, mudah ditiru atau digunakan.

Bagaimana minat dan hasil anak sebelum menemukan alat (karya inovatif)? Apakah ada ide lain untuk mengembangkan karya itu.  Bagaimana guru yang lainnya. Apakah juga membuat karya inovatif yang juga memilili manfaat untuk anak-anak?
Hasilnya minat anak naik signifikan Ibu. Saya membawa produknya saja mereka sudah tertarik apalagi mencoba untuk menggunakannya. Ada hal baru yang mereka dapatkan. Hasil belajar naik tidak signifikan. Hasil belajar didapat dari nilai tes dan tugas. Nilai tes dari yang dapat 30-an meningkat menjadi 50-an. Nah nilai tugas yang baik. Sebelumnya untuk mengumpulkan tugas saja selalu terlambat sekarang ada perbaikan. Untuk guru kami masih kurang Ibu. Di sekolah kami ada 15 guru. 3 PNS dan lainnya kontrak. Inovasi ini yang pertama di sekolah. Setelahnya saya ajak teman guru untuk ikut bergabung dan mengembangkan kelasnya.

Dari dua narasumber yang dihadirkan yang kemarin Bp. Tri Agus Cahyono, M.Pd. dan sekarang Bp. Arif Darmadiansah. Dari inovasi pembelajaran yang dihasilkan keduanya sama-sama menggabungkan antara media/ alat peraga dengan teknologi. Pertanyaannya apakah kriteria pembuatan inobel untuk tingkat nasional Pak?
Ada instrumen penilaian sesuai standar penyelenggara Ibu. Sistematika laporan, Penilaian media hingga intrumen penilain presentasinya. Nanti setelah selesai saya bagikan melalui Mr Bams atau OmJay. Ada panduan dan formatnya.

Metode apa yang paling dominan Bapak gunakan dalam proses belajar? Apa alasan Bapak menggunakan metode tersebut?
Yang paling dominan saya menggunakan metode diskusi, pengamatan dan penyampaian hasil. Biasanya dengan model Projek based learning atau Problem based learning. Alasannya kedua model tersebut dapat menggali kemampuan siswa secara sebenarnya. Tak hanya kognitif namun menyeluruh.

Bagaimana cara memotivasi siswa yang lebih suka membantu ortunya di kebun karet daripada ke sekolah? Ada juga murid yang suka mengganggu temannya. Sepertinya harus sekolah ke SLB. Tapi di tempat saya belum ada sekolah SLB. Saya kewalahan jadinya. Terima kasih ilmunya Om Arif.
Hal yang sama terjadi di kami. Orangtua lebih suka anaknya bekerja diladang untuk membuka hutan atau mencari hasil.  yang pernah kami lakukan adalah visit home ibu. Bertemu keluarga dan anaknya menjelaskan pentingnya sekolah. Minimal sampai SMA lah, kesadaran untuk belajar masih rendah. Untuk siswa yang berkebutuhan khusus harus mendapatkan perhatian lebih dibanding siswa lainnya Ibu. Sekarang masuk sekolah inklusi. Mohon maaf itu juga saya belum punya pengalaman.

Kalimat pesan buat teman-teman. Terimakasih dan semangat Bapak Ibu guru, semoga diberikan kesehatan dan keberkahan dalam mendidik anak bangsa.



Minggu, 10 Mei 2020

SELF DRIVING FOR TEACHER



Tema               : Self Driving for Teacher
Waktu             : Sabtu, 2 Mei 2020
Narasumber    : Prof. Rhenald Kasali

Pendidik adalah Penjelajah Game Sepanjang Hayat. Demi Peradaban dan Kemajuan Bangsa (Rhenald Kasali)

Memasuki era baru adalah sesuatu yang tidak mudah. Bagi siapa? Bagi kita. Banyak orang lama merasa gaptek. Banyak yang merasa tak memiliki fasilitas memadai. Orang tua merasa tak biasa menjadi guru. Kini baru merasakan betapa berat tugas sebagai guru. Kadang anak tidak menurut pada orang tua sendiri. Lebih menurut kepada orang tua yang lain.
Di masa pendemi ini, ada orag tua yang bekerja lebih banyak karena tuntutan. Pekerjaan informal yang mengurangi pelanggan masih ditambah harus membimbing anak. Sebenarnya memang salah satu tugas orang tua untuk menjadi guru bagi anaknya. Namun, karena lama tak membimbing atau berperan sebagai guru bagi anaknya jadi terasa lebih berat. Anak-anak pun merasakan situasi belajar yang lebih berat. Tak ada dorongan dari teman, tak bisa membandingkannya dengan teman, dan mereka kehilangan suasana sekolah.
Era pandemi ini diasakan berat oleh semua orang. Guru, siswa orang tua semua memiliki masalah yang berbeda. Memang tidak mudah menghadapi ini semua. Tidak mudah menghadapi perubahan dan pembaharuan. Kalau mudah, kita akan autopilot. Tidak perlu berpikir. Hakikatnya untuk menghadapi perubahan dan pembaharuan dibutuhkan tiga hal. Ketiga hal dimaksud, sebagai berikut.
1.     Komitmen untuk memulai. Tidak ada komitmen, kita tidak akan pernah memulai sesuatu.
2.     Konsistensi untuk sesuatu yang dimulai. Tidak ada konsistensi, kita tidak akan menyelesaikan apa yang telah kita mulai. Ibaratnya kuliah tapi tidak membuat skripsi dan tidak sampai diwisuda. Atau menikah tetapi tidak menyelesaikan pernikahannya.
3.     Kesulitan. Kesulitan adalah energi. Inovasi muncul karena ada kesulitan. Misalnya, dulu di Eropa orang kelas menengah ke bawah kesulitan akses terhadap protein. Akhirnya ada yang berpikir ikan dan daging mahal, maka diciptakanlah peanut butter yang merupakan protein dari tanaman, tumbuhan nabati untuk memenuhi kebutuhan protein.

Dalam kehidupan ini kita mengenal dua jenis games atau permainan.

1.     Game Sesaat
Ini merupakan game untuk menang-menangan (jangka pendek, ada aturan main, ada yang menang dan ada yang kalah). Misalnya permaian sepak bola.
2.     Game Sepanjang Hayat
Contohnya game dalam kehidupan, karier, profesi, perkawinan, cinta (tak ada pemenangnya, aturan menyesuaikan perkembangan). Pendidik adalah penjelajah game sepanjang hayat. Demi peradaban dan kemajuan bangsa.



Untuk menjadi guru yang benar-benar “guru” prosesnya panjang. Kita bisa belajar dari apa saja, kapan saja, di mana saja. Pandemi seperti yang terjadi saat ini sebenarnya bukan yang pertama kali. Tahun 1918 terjadi pandemi flu. Tahun 1955 ada polio. Tahun 1976 terjadi ebola. Tahun 2003 ada wabah SARS. Namun, pandemi saat itu bersifat lokal atau hanya menjangkiti beberapa negara. Pandemi Covid-19 ini sifatnya global atau menjangkiti seluruh dunia.

Kita sebagai manusia jangan sampai kalah dengan virus. Kalau virus sifatnya bermutasi, manusia harus bisa beradaptasi. Awalnya memang bisa saja terpaksa. Kemudian dipaksa. Akhirnya akan menjadi bisa. Dan setelah terbiasa akan menjadi mahir.



Otak manusia terus berubah. Kita sebagai insan pendidikan harus bisa menyesuaikan. Memberikan pendidikan kepada anak sesuai zamannya. Pendidikan era dulu (generasi baby boomers, generasi X, milenial) tentu perlu adanya penyesuaian. Kalau era dulu suasana kelas hitam putih, duduk di kelas melipat tangan, pasif, bersifat menghafal kini sudah tidak lagi. Perubahan zaman akan membawa perubahan di dunia pendidikan. Kini, suasana kelas yang diharapkan penuh warna, aktif-partisipatif, kreatif, dan fun. Jika kita tak dapat menyesuaikan akan terasa sebagai guru bukan sesuai zaman yang tak dapat mengikuti perubahan dan pembaharuan.

Ada perubahan atau pembaharuan dalam pola pikir pendidikan era sekarang. Kalau dulu pendidikan dari pendidik kini berorientasi pembelajaran masa depan. Pola perubahan itu dapat dipahami dari tabel berikut.

Aspek
Dari Pendidik
Pembelajaran Masa Depan
Belajar
Menghafal konten dari kurikulum
Mencari sendiri, aktif, yang relevan, bermanfaat, dan menyenangkan
Akses Informasi
Dari sekolah atau guru sesuai ritmenya (slow)
Dari beragam media dan cepat
Proses
Serial bertahap, seperti garis lurus dan satu aktivitas dalam satu waktu
Paralel dan dilakuakn sekaligus
Materi
Siapa tahu dibtuhkan
Saat dibutuhkan ada
Metode
Mengutamakan kata-kata/kalimat (miskin warna dan video)
Dengan mengaktifkan semua indra (gambar, video, warna, aktivitas)


Menutut Nelson Mandela, pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Jika kita tak mampu keluar dari perangkap masa lalu, maka kita tidak akan mampu menciptakan masa depan. Jika kita ingin dapat meraih masa depan, artinya kita harus mampu keluar dari perangkap masa lalu.

Kita bisa belajar dari Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantoro. Beliau pada tahun 1922 sudah mendirikan sekolah bernama Taman Siswa. Kata “taman” yang digunakan merujuk pada suasana menyengkan. Telah ada ciri khas sekolahnya. Kelas dibuat circel (melingkar) dalam suasana bermain. Sungguh, beliau seorang pedidik yang berorientasi ke masa depan.

Dalam pembelajaran, kita berikan suasana bermain pada anak. Beri mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan. Jangan ada rasa takut dan khawatir belebihan. Jangan takut mereka akan jatuh. “ Kalau mereka jatuh dan tulangnya patah, akan mudah tumbuh bagi anak-anak. Namun, bila jiwa dan kegigihannya patah, maka tak akan dapat disembuhkan.”

Kita bebas mau mendidik anak kita menjadi burung dara atau rajawali. Kalau kita mendidik anak dengan masa lalu ibarat mendidik anak menjadi burung dara. Jika ingin anak kita seperti rajawali, didiklah dengan berani. Berani merantau dan berani bertanggung jawab. Anak yang biasa dari kecil digendong, dituntun, agak besar suka gelendotan. Tokoh-tokoh besar seperti Bill Gates (penemu microsoft), Steve Jobs (penemu Apple, pixar) bukan karena dari kecil dididik IT. Mereka mendapatkan kesuksesan karena bereksplorasi.
            Sebagai pendidik hendaknya kita bermental driver (pengemudi.). Seorang pengemudi harus disiplin, dipaksa, diatur dan kemauan datang dari diri sendiri. Menghadapi situasi saat ini kita dipaksa untuk pakai teknologi. Sebagai pendidik yang bermental pengemudi, ada 7 elemen penting “self driving” yang perlu diperhatikan.
1.     disiplin diri
2.     eksploratif
3.     menjadi pemenang (bukan pecundang)
4.     berpikir simpel (anti ribet)
5.     berpikir kritis
6.     berpikir kreatif
7.     mindset yang berkembang.
Dari paparan di atas, penulis mengajak kepada kawan-kawan termasuk diri sendiri. Yuk, menjadi pendidik yang bermental pengemudi (self driving) agar dapat memberikan pendidikan terbaik terhadap anak bangsa demi majunya peradaban dan kemajuan bangsa.