Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 September 2020

AKHIRNYA KELAR JUGA

Alhamdulillah, menjelang deadline pengumpulan tugas di grup sesuai komitmen bersama bisa terselesaikan. Masih ada waktu 50 menit terakhir bisa kirimkan tugas. 

Mestinya tugas bisa diselesaikan sebelumnya. Sayangnya, tugas lsin juga harus segera diselesaikan. Lebih aneh lagi, menjelang detik-detik akhir selalu saja kendala. 

Pengurus MKKS Kabupaten meminta evaluasi pembuatan konten prmbelajaran oleh tim MGMP. Wajar jika mereka menagih laporan berupa evaluasi sebab merasa berkontribusi dalam pembiayaan. Laporan tak dapat dilakukan dengan aji pengawuran. Semua harus didukung bukti fisik jika tak ingin dicap laporan asal-asalan. Dampaknya, beberapa sekolah harus dihubungi untuk mrndapatkan data cukup akurat.

Pesan permintaan MKKS segera diteruskan ke berbagai sekolah. Jawaban variatif mulai berdatangan. Namun, ada kesamaan kendala. Hampir semua sekolah tidak menggunakan video yang telah disiapkan. Alasan utama terkait kendala kuota. Alasan lain video beridentitas salah satu sekolah.

Duhhhh nasibbb. 
 

CLBK

 


Masih ingat kepanjangan dari CLBK? Yup, CLBK singkatan dari Cinta Lama Bersemi Kembali. Uhuy, asyik-asyik gurih. Hehehe. Nih, pikiran bisa melayang ke mana-mana. Ke masa silam, ke masa begitu indahnya cinta berkembang. Halah, lebay.

Eits, ternyata ada yang eda lho dengan CLBK. Beda-beda penafsiran. Bia Cinta Lama Berakhir Kecewa, Chat Lama Beli Kaga, Cinta Lama Belum Kelar, maupun Cucian Lama Belum Kering. Bahkan, bisa pula ditafsirkan Cara Loe Bikin Kopi.

CLBK yang kudapat pagi ini ternyata bukan cinta lama bersemi kembali maupun seabreg penafsiran lainnya. Ini mah, resep dari seorang guru Bahasa Inggris SMAN 5 Tana Toraja yang mengantarkannya sukses menjadi penulis. Bersama penulis hebat lainnya di bawah bimbingan Prof. Eko berhasil menulis buku “Digital Transformation.” Buku itu ditulis hanya dalam waktu sepekan dan diterbitkan oleh penerbit mayor. Hebat, kan?

Dan… ternyata CLBK yang dimaksud adalah Coba, Lakukan, dan Budayakan secara Konsiten. Sebuah rumus atau resep yang indah, bukan? Hahaha, tapi ingat. Seindah apapun sebuah resep jika tak dipraktikkan dan hanya berada di awang-awang tak banyak manfaatnya. Tunggu apa agi? Jika punya program, segera cussss dan praktikkan CLBK-nya.


Rabu, 13 Mei 2020

INGIN BERDIALOG DENGAN MAS MENTERI?


Jika Anda ingin bertemu dan berdiskusi langsung secara daring dengan Mas Menteri (Pendidikan dan Kebuyaan) kini terbuka jalan untuk itu.
Anda bisa mengirimkan surat kepadanya paling lambat diterima tanggal 17 Mei 2020 pukul 10.00 WIB sesuai dengan tema, syarat, dan ketentuan yang berlaku. Apa saja ketentuannya?

Syarat dan ketentuan:
  • Peserta adalah guru (semua jenjang) dan murid SD yang berada di wilayah Republik Indonesia
  • Tema surat adalah pengalaman mengajar dan belajar selama bulan Ramadan di masa pandemi Covid-19 (harus mengandung unsur gotong royong dan toleransi) serta kesan bulan Ramadan dan harapan akan perayaan Idulfitri nanti
  • Setiap peserta hanya dapat mengirimkan 1 (satu) surat kepada Mendikbud
  • Surat harus menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar
  • Surat tidak mengandung unsur SARA, Pornografi, dan politik
  • Surat harus orisinil/tidak plagiat
  • Surat dapat diketik atau ditulis tangan
  • Panjang surat maksimal 250 kata atau maksimal 1 (satu) lembar kertas ukuran A4
  • Peserta harus mencantumkan 2 (dua) nomor telepon yang bisa dihubungi, identitas diri (foto KTP/foto KTP orang tua atau wali murid), dan foto peserta dengan ukuran maksimal 1 (satu) MB
  • Surat yang dikirimkan menjadi hak milik Kemendikbud
  • Keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat

Jika Anda memenuhi syarat, silakan ikutan. Kami doakan agar Anda mendapat berkah dan keberuntungan. Selamat mencoba. Bisa dibuka di tautan ini



Kamis, 07 Mei 2020

BELAJAR BIJAK DARI NARSUM HEBAT (1)


Seperti padi, kian berisi kian merunduk. Semakin tinggi ilmunya semakin rendah hatinya. Kalau sudah pandai janganlah sombong, selalulah rendah hati.

Itulah salah satu pelajaran bijak dari narasumber hebat di grup Belajar Menulis Bersama Omjay Gelombang 8. Dari sederet nama narasumber gelombang 8 ini tak satu pun terlihat olehku terbersit sedikit kesombongan di hatinya. Hal inilah yang menyebabkan diriku berdecak kagum. Bukan itu saja. Konon, kata si penggagas acara, narasumber yang hampir semuanya narasumber nasional ini, motivator dan trainer itu bayarannya lumayan mahal. Tarif umumnya di atas 10 J. Di grup ini bertarif fantastis, yakni 3M (makasih, makasih, makasih euy) dan iringan doa untuknya semoga Yang Mahakuasa melimpahkan anugerah rizki yang tak disangka-sangka. Semua narsum gratis tis dari rupiah.
Hingga saat ini telah ada 26 marsum membersamai kami di Belajar Menulis Bersama Omjay. Jika dikupas satu-satu sekiranya akan memenuhi berpuluh-puluh halaman. Akan tetapi, akan kucoba juga tuk mengurainya secara sederhana.
1.     Omjay
Sosok pria setengah baya ini memiliki karakter khas dan unik. Semangat berbaginya luar biasa. Konon, semangat berbagi ini berawal dirinya yang mendapat hadiah dari lomba menulis. Karena rizki didapat dari menulis, beliau menginvestasikannya untuk mengembangkan kegiatan menulis. Belajar Menulis Bersama Omjay Gelombang 8 ini salah satu di antaranya. Kalau dinalar dengan logika, setiap peserta ditarik biaya ratusan ribu rupiah pun saya kira rela. Namun, itulah dirinya yang tak memungut biaya sepeser pun karena semangat berbaginya yang tinggi.
Beliau juga dikenal sosok yang ramah dan sangat berprestasi. Rajin menyapa dan memberi komen setiap tulisan yang diunggah. Jangan dikira beliau pengangguran. Segudang aktivitas dan prestasi dimiliki. Mulai Juara I LKTI tingkat nasional, Pemenang I Buku Pusbuk, Juara I Blog Psat Bahasa, Juara II Guru Acer Award dan segudang prestasi lainnya tak serta merta menjadikannya jemawa. Benar-benar ilmu padi diterapkan dalam dirinya.
Beliau kemarin mengunggah cerita seorang antri yang disuruh oleh sang kyai untuk mencari orang yang lebih buruk dari santri itu sunguh mengusik kalbu. Seorang santri yang semula menganggap sangat mudah mencari orang lebih buruk darinya harus menyerah dan kembali kepada sang kyai dengan tangan hampa. Orang pertama yang ditemuinya, seorang pemabuk, semula dia yakin bahwa pemabuk itu lebih jelek darinya. Setelah direnungkan dia tak serta merta menyimpulkan. Bisa jadi pemabuk lebih baik darinya. Siapa tahu di akhir hayat dia mendapat hidayah. Bahkan setelah bertemu dengan anjing kotor, berpenyakitan pun santri itu tak merasa lebih baik. Inilah pembelajaran kerendahhatian.
2.     Dedi Dwitagama
Sosok guru, bloger, youtuber ini salah seorang yang menjadikan Omjay membulatkan tekad untuk menjadi bloger. Segudang prestasi yang diraihnya tak membuatnya jemawa juga. Enam belas prestasi yang tertulis di biodata membuatku angkat topi untuknya. Padahal, pasti masih ada prestasi lain yang belum ditulisnya. Menjadikan refleksi buat diriku bahwa diri ini belum apa-apa.
Selain bloger dan youtuber, Dedi Dwitagama juga seorang trainer, dan motivator nasional. Beliau tak berkebartan mendapat honorariun 3 M ini kegiatan ini. Tentu ini honor yang terlalu “fantastis” baginya. Tapi, tampaknya beliau menerima dengan rela. Inilah sosok yang secara tidak langsung membuat Omjay bergiat menjadi bloger dan youtuber. Berkaca dari Pak Dedi yang waktu itu kepala sekolah saja masih sempat ngeblog, apalagi dirinya?
Diriku pun amat terkesan dengannya. Sebuah komentar beliau di blog yang kukirim linknya di grup tertinggal jejak komentarnya. Beliau berterima kasih atas resume yang kuunggah. Beliau berterima kasih pula karena foto kakak beradik (Pak Dedi dan Pak Agus Sampurno) ada di blog ini. Baru ‘ngeh’ diriku bahwa Pak Dedi dan Pak Agus Sampurno adalah dua orang bersaudara. Keduanya narasumber hebat yan sama-sama rendah hati.

Senin, 04 Mei 2020

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA 4 MEI 2020

Assalamu'alaikum WW

Anak-anakku yang selalu disayang Bu Guru. Oh, semoga disayang Allah juga ya. Pekan ini ada jadwal terbaru dari sekolah. Pembelajaran yang biasanya jadwal BI hari Rab, Kamis, dan Sabtu kini berganti hari Senin.

Baik, pagi ini kita akan mengulang materi teks persuasi. Masih ingat apa itu teks persuasi? Semoga masih ingat semua. Pembelajaran kita kali ini cukup santai kok. Bisa lihat dulu video pertama.


Sabtu, 02 Mei 2020

SAATNYA “HARUS” TINGKATKAN KOMPETENSI DIRI


Satu lagi kegiatan rutin kuikuti untuk meningkatkan kompetensi. Menulis artikel untuk konsumsi koran dan majalah bersama Kang Encon di grup WA. Penawaran lewat grup WA ini harus kusambut secepat kilat sebelum kehilangan kesempatan. Ini juga sebagai cara mengisi waktu agar tidak ngelangut. Ngelangut memikirkan covid-19 yang berdampak pada keluarga. Rencana kumpul bersama keluarga besar saat lebaran kini pupus sudah. Tiket yan sudah terbeli telah di-refund. Semoga ada hikmah di balik ini semuanya.
Inilah salah satu hikmah yang harus dijemput. Memanfaatkan waktu untuk meningkatkan diri dan kompetensi serta mendekatkan diri pada Ilahi Rabbi.  Awal Mei sudah ada agenda padat. Pukul 08.30 hingga 11.00 sudah registrasi kegiatan Webinar bersama PGRI. Belajar Menulis bareng Omjay teragenda pukul 13.00 -15.00. Ini agenda yang sayang untuk dilewatkan. Sayangnya, bertabrakan dengan agenda berikunya per 1 Mei. Kursus menulis artikel untuk konsumsi koran dan majalah. Kini terukur sudah (kesadaran belum memiliki kemampuan apa-apa) yang saat kuliah telah mengikuti mata kuliah Menulis 1, 2, 3. Ternyata yang kumiliki belum ada apa-apanya. Harus berguru lagi jika ingin tingkatkan kompetensi.
Padahal, waktu kuliah telah terbayang setelah lulus nantinya, bisa menjai guru menulis hebat. Mengajar para siswa untuk terampil menulis .Ternyata apa yang terjadi? Setelah mengajar berpuluh tahun kemampuan menulisku belum terasah dengan baik. Harus belajar, belajar, dan belajar. Mengejar ketertinggalan dari kawan-kawan yang telah melesat jauh tinggalkan diriku yang masih berada di tempat.
Ohoi. Diri ini harus segera bangkit dan menyadari kekurangan diri. Mengisi kegiatan tuk tingkatkan kompetensi. Bersama orang hebat semoga bisa tertular virusnya. Kurasa tak ada satu pun narasumber di Belajar Menulisnya Omjay yang tidak hebat. Membuat diri ini berdecak. Mungkinkah diri ini mengikut jejak mereka? Para narasumber yang sangat menginspirasi dan memotivasi? Terutama untuk anak didikku yang telah kurindu sepanjang waktu. Hai anak-anakku, Cintaku, Negeriku. I Love You. Tetap diam di rumah ya. Belajar di rumah, bekerja di rumah, beribadah di rumah. Semoga kasus corona segera menghilang dan kira bebas bercengkerama.

Jumat, 01 Mei 2020

SUMBER IDE SAAAAANGAT BANYAK


Tema               : Motivasi Menulis Setiap Hari dan Menerbitkan Buku
Waktu             : Jumat, 1 Mei 2020 Pukul 13.00 – 15.00
Narasumber    : Dadang Kadarusman

Narasumber yang ayahnya seorang guru sekolah dasar, ketika saya masih kecil, beliau sering membawakan buku-buku bacaan. Dari situ narsum jadi suka membaca. Dan dari suka membaca itu kemudian beliau berkeinginan untuk menulis. Jadi sejak kecil beliau sudah menulis. Beliau suka menulis sejak SD dan sangat suka menulis sejak SMP.
MENULIS SETIAP HARI dan MENERBITKAN BUKU ya.
Tapi dari dialog sederhana itu kemudian saya melihat ada 1 aspek yang perlu diperbaiki pada orang yang ingin mempunyai hasil karya berupa buku Bapak Ibu ketahuilah bahwa hari ini, menerbitkan buku itu sangat mudah sekali. Beda dengan 20 tahun lalu ketika saya pertaman kali ingin menerbitkan buku. Ditolak penerbit itu biasa sekali. Sekarang tantangan terbesar kita BUKAN pada menerbitkan bukunya. Melainkan pada MENULIS SETIAP HARInya. Jika kita bisa menulis setiap hari, maka kita akan sampai pada titik dimana kualitas tulisan kita akan sangat menarik bagi penerbit. Kita, tidak perlu mendatangi penerbit lagi. Mereka yang datang kepada kita. Buku-buku beliau pada umumnya adalah hasil dari penerbit datang dan menwarkan untuk menerbitkan naskahnya
Mengapa kita perlu menulis setiap hari? ('WHY')
Pertama, alah bisa karena biasa. Kalau sudah biasa akan tumbuh keterampilan.
Yang kedua, kenapa kita perlu menulis setiap hari. Karena menulis setiap hari itu membantu menjaga keselarasan antara otot-otot tubuh kita, juga jiwa. Jadi, nanti kalau kita sudah terbiasa menulis. Melihat apapun, selalu ingin menerjemahkan apa yang kita lihat itu kedalam bentuk tulisan. Orang yang tidak terbiasa menulis, bisa saja memendam perasaan itu. atau butuh seseorang yang mau mendengarnya
Yang ketiga. Menulis setiap hari itu merupakan healing remedy. Jadi, jika terbiasa menulis, kita bisa menjadi pribadi yang lebih sehat
Kesimpulannya, kenapa perlu menulis setiap hari adalah; Karena seorang penerbit buku sejati, bukanlah orang yang meminta bantuan orang lain untuk menuliskan naskah bukunya.
Melainkan orang yang memiliki kemampuan untuk menuliskan sendiri naskahnya secara mandiri.
            Bagimana kemampuan itu diasah? (HOW)
Dengan cara berkomitmen untuk tidak melewatkan 1 hari pun dalam hidup kita TANPA MENULIS. Seberapa banyak? Bisa 1 hari 1 artikel. Nah kalau ukurannya jumlah artikel, berarti tidak ditentukan jumlah katanya. Ditahap belajar ini, sebaiknya kita tidak terlalu baper soal ada yang baca apa nggak. Karena kalau orang lain baca pun belum tentu feedbacknya positif .
WHAT makes you write something? Apa sih yang menjadi mendorong Anda untuk menulis?
1. Karena UANG
Ada orang yang menulis agar mendapatkan uang? Ada. Dulu, narsum pernah berada di level itu. Narsum menulis untuk mendapatkan uang, karena narsum butuh untuk biaya sekolah. Apakah berhasil? Lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Lebih banyak naskah yang dikembalikan redaksi daripada diterbitkan. Saat itulah kemudian narsum sadar bahwa, menulis karena ingin mendapatkan uang; bukanlah nilai pribadinya. Dan sampai sekarang, menulis BUKAN untuk uang.
2. Dorongan INGIN BERBAGI PENGETAHUAN. Nah, yang ini paling sesuai dengan jiwa pendidik. Menjadikan uang sebagai pendorong utama dalam menulis. Boleh saja. tidak masalah. Tapi nanti seiring berjalannya waktu kita akan menemukan apa dorongan yang paling cocok buat kita.
Lalu kalau menulis setiap hari Idenya dari mana?
Nah ini penting disampaikan. Segala hal yang bisa ditangkap oleh panca indra kita adalah sumber ide. Tinggal kita olah saja. Pegang teguh prinsip itu. Jumlah rangsangan menulis itu TAK TERHINGGA. Maka itu berarti bahwa sumber ide penulisan kita bisa SAAAANGAT banyak. Dan karena rangsangan itu selalu ada setiap hari, maka kita semua sebenarnya bisa menulis setiap hari.

Berapa lama mengasah menulis dan seperti apa strategi memilih penerbit yang sesuai dengan buku yang akan kita terbitkan?
Beliau mengasah menulis selama 40 tahun dan mulai menulis sejak SD, aktif sekali SMP sampai ikut lomba-lomba. Diercaya penerbit sekitar 10 tahun lalu. Jadi butuh 30 tahun perjalanan terlebih dahulu. Kalau kita masih pemula, sebaiknya tidak usah menerapkan terlalu banyak kriteria penerbit. Karena kita yang masih pemula butuh mereka. Strateginya paling gampang adalah terus ikut kursus menulis konsultasi kepada narasumber.

Themanya apakah harus terstruktur; berapa banyak kah kita harus nulis per harinya; untuk masa berapa lama tulisan trsebut kita kumpulkan?
Pokoknya menulis saja setiap hari tak takut salah. Yang penting kemauan untuk menulis dan bersedia menerima masukan orang lain untuk perbaikan. Target satu hari satu karya tulis. Sifatnya bebas, yang penting bsa menampung buah pikiran dan pembaca bisa mengerti.

Dari mana awalnya bercerita jika ingin menuliskan tentang kisah Anak Istimewa yaitu Dunia Tanpa Suara?
Itu topik yang keren. Dari kalimat "DUNIA TANPA SUARA" saja sudah mengundang pertanyaan orang. Contoh
Parafraf 1: Hey kamu. Pernahkah kamu membayangkan bagimana seandainya tidak seorang pun bersuara didunia ini. Tentu akan sepi sekali harimu kan? Tapi. bisakah kamu membayangkan seandainya hal itu benar-benar terjadi? Sekarang. Coba pejamkan matamu. Lalu bayangkan. Andai saja tak segencring suara pun tertangkap pendengaranmu.
Eh, tapi. menurut kamu. Apakah mungkin telingamu benar-benar tidak bisa mendengat bahkan sekedar bunyi 'ting' pun? Nggak ya. Nggak mungkin kamu nggak dengar bunyi anakku. Tahu kenapa? Karena ketahuilah sayang, bahwa Allah sayang banget sama kamu. Sehingga engkau bisa mendengar berbagai macam suara.
Nak. Kamu sudah bersyukurkah dengan karunia indah itu? Karena ada loh, di desa sebelah. Seorang gadis yang tidak seberuntung kamu, sayang. Tapi sejak lahir sampai usianya yang menginjak 15 itu, tidak pernah mendengar apapun ditelinganya selain hening semata. Hebbbatnya..., gadis itu tidak pernah mengeluh nak. Tidak pernah pula sekalipun dia bersedih. Pokoknyaaa... a-... aaapa ya. Ehm, ibu...ibu kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kemulian dirinya dibalik heningnya dunianya. Jika kamu tidak keberatan, sayang. Bolehkan Ibu mencari tahu lebih banyak tentangnya dan menceritakan kisah indah tentang gadis itu kepada hari Jumat nanti?
Kesimpulan: orang bilang memulai itu sulit sekali. Narsum saya bilang: MULAI SAJA SARI SEBUAH KATA yang terlintas dalam pikiran Ibu. Insya Allah. nanti akan mengalir dengan sendirinya. Dan kalau saya, biasanya sebelum menulis bilang begini: Ya Allah, apa yang saya harus tuliskan hari ini? Bimbing saya ya Allah ya.

Bagaimana caranya supaya tetap pede dan semangat untuk bisa menulis dan supaya ide itu ga hilang.
Kalau kita kan ingin menjadi penulis terampil, maka "GHOSTWRITER"  bukan opsi yang tepat buat kita. Mengenai tidak pede. Itulah sebabnya tadi saya sampaikan bahwa dalam proses latihan menulis, kita tidak perlu terikat dengan target berapa jumlah kata. Latih terus aja. Bikin tulisan terus. Kalau belum berani menunjukkan tulisan itu pada orang lain, biarin aja jadi koleksi pribadi kita. Sambil terus memperbaiki tekniknya. Nanti kalau sudah ada tulisan yang 'layak' dicobain ke orang lain, tunjukkan saja. Kalau bisa, pilih orang yang tidak akan bersikap negatif. Kesimpulan: Banyak orang tidak pede saat mau menuangkan gagasan lewat tulisan. Saya bilang, hey boleh jadi seseorang sedang menanti buah pikiran mu untuk dibacanya dengan penuh kekaguman. So menulislah.

Menulis judul dulu atau artikel dulu untuk menjadi sebuah buku?
Dulu buku saya yang judulnya "OUTSHINE" diberi judul duluan. Naskahnya ditulis belakangan. Sedangkan buku "KETIKA SEMUT DAN GAJAH BEKERJA" ditulis naskahnya duluan. Jadi, tidak ada keharusan menulis judul dulu atau naskah duluan.

Tulisan-tulisan di kompasiana yang tidak banyak pembacanya bisakah dijadikan buku kompilasi?
Kalau sebuah tulisan sedikit yang baca, TIDAK BERARTI tulisannya tidak bagus. Bisa saja tempat penayangannya yang kurang tepat. Tulisan-tulisan Bapak bisa dibuat kompilasi.

Bagaimana menjaga keistiqomahan menulis setiap hari?
Itulah pentingnya menemukan WHAT MAKES YOU WRITE yang tadi kita bahas. Karena hal itu akan menentukan tingkat istiqomah kita. Tapi jawaban dari WHAT tadi sifat individual. Kalau kita menulis karena uang, maka bakal berhenti ketika hasil karyawa kita nggak jadi uang banyak. Tapi kalau kita punya alasan yang lebih tinggi lebih mulia lebih bernilai Insya Allah akan istiqomah.
Ada baiknya menulis lebih karena ingin agar Allah mengajari saya sesuatu. Lalu yang Allah ajarkan itu dibagikan kepada orang lain. Dengan itu, maka selalu tanya; Ya Allah, hari ini saya bisa belajar apa? Dapat jawabannya dituliskan. Lalu dibagikan. Dengan demikian, maka gagasan saya bisa lebih cepat sampai kepada orang lain

Kesimpulan: Temukan, hal apa yang bisa membuat seseorang ingin menulis. Atau apa tujuan menulis. Jika sudah ketemu, nanti akan dengan sendirinya menulis secara produktif.


Selasa, 28 April 2020

YUK NYANYIKAN LAGU “SEPANJANG JALAN KENANGAN” (CORONA)


Inilah salah satu cara menghibur diri menghadapi wabah atau pandemi corona.Tak perlu menyesali. Tapi tetap menjaga diri. Jaga iman dan imun (bukan imun saja ya!). Belajar, bekerja, beribadah di rumah aja. Sambil mendendangkan lagu kenangan. Lagu yang dulunya dinyanyikan Teti Kadi (atau siapa ya?) kini populer lagi.
           
Mari kita simak syairnya dan nyanyikan bersama.

SENGAJA AKU DIAM DI RUMAHKU
KARNA AKU TAK BISA KE RUMAHMU

APALAH DAYA KEADAAN INI
MEMAKSA AKU TETAP DIAM DI RUMAH

ANAK SEKOLAH BELAJAR DI RUMAH
KERJA DAN IBADAH JUGA DI RUMAH

KALAU NGGAK MENDESAK JANGAN KELUAR RUMAH
DEMI KESELAMATAN KITA BERSAMA

SEPANJANG WABAH CORONA
KITA JANGAN BERGANDENG TANGAN
SEPANJANG WABAH CORONA
KITA VIDEO CALL AJA

UJIAN YAG BERAT INI DARI AWAL MARET LALU
PERCAYA SEMUA KAN SEGRA BERLALU

JAGALAH KESEHATAN
JAGALAH JARAK AMAN
BERDOA KITA DALAM LINDUNGAN TUHAN



Minggu, 26 April 2020

MENYELISIK MATERI BELAJAR MENULIS BERSAMA OMJAY

MENYELISIK MATERI BELAJAR MENULIS BERSAMA OMJAY

Mengikuti materi Belajar Menulis bersama Omjay itu asyik-asyik renyah. Kadang-kadang terasa
pedas juga. Materi yang satu belum sempat dibuat resume telah disusul materi berikutnya. Belum
lagi tugas mengirim ke email Omjay. Jika kita tak mengelola dengan baik tentu ada yang tercecer.

Ini terjadi pula pada diriku. Hal inilah yang memotivasi diri untuk mengumpukan serta menyusulkan yang tercecer. Semoga setelah terkumpul tak ada lagi yang tercecer lagi. Baik posting di blog maupun kirim tugas di email Omjay.

Adakah daftar materi yang berbeda antara kita? Yuk, kita simak bersama.



MATERI BELAJAR MENULIS BERSAMA OMJAY (a la saya)
NO
TEMA
NARSUM
WAKTU
1
Menulis di Blog dan Menjaga Konsistensi
Dedi Dwitagama
Minggu, 29 Maret 2020
2
Panduan Awal Mendesain Pembelajaran Daring
Agus Sampurno
Selasa, 31 Maret 2020
3
Mendesain Pembelajaran Jarak Jauh
Indra Charismiadji
Rabu, 1 April 2020
4
Menulis tentang Momen Spesial
Munif Chatib
Jumat, 3 April 2020
5
Langkah-langkah dalam Menulis
Akbar Zainudin
Sabtu, 4 April 2020
6
Menulis Tanpa Ide
Budiman Hakim
Rabu, 8 April 2020
7
Dasar-dasar Menulis
Imam Fitri Rahmadi
Kamis, 9 April 2020
8
Meluruskan Niat Menerbitkan Buku
Omjay
Sabtu, 11 April 2020
9
Kiat Sukses menjadi Guru Prestasi
Encon Rahman
Minggu, 12 April 2020
10
Menulis dalam Seminggu
Prof. Eko Indrajit
Senin, 13 April 2020
11
Menulis Artikel di Majalah SuaraGuru PGRI
Dr. Jejen Musfah
Selasa, 14 April 2020
12
Karya Inovasi dan Kualitas Diri
Tri Agus Cahyono, M. Pd.
Rabu, 15 April 2020
13
Mengajar Gaya Motivator
Aris Ahmad Jaya
Kamis, 16 April 2020
14
Guru Menulis dan Berprestasi
Sigit Suryono, S. Pd. M. Pd.
Jumat, 17 April 2020
15
Nenulis Cepat dan Tepat di Media
Catur Nurochman Oktavian
Senin, 20 April 2020
16
Pembelajaran Daring yang Ideal
Omjay
Selasa, 21 April 2020
17
Menulis dan Menerbitkan Buku
Edi S. Mulyanta, S. Si., M. T.
Rabu, 22 April 2020
18
Teknik Memasarkan Buku
Agus Subardana, S.E., M. M.
Kamis, 23 April 2020
19
Strategi Pemasaran Buku
Omjay
Jumat, 24 April 2020
20
Menulis dan Membuat Buku Digital
Dr. Onno Widodo Purbo
Senin, 27 April 2020
21
Menulis Desain Pembelajaran Modern
Dr. Paidi
Selasa, 28 April 2020
22
Menulis Buku dari Kegiatan Mengajar Sehari-hari
Dr. Uswadin
Rabu, 29 April 2020
23
Berbagi Pengalaman Menulis Buku Moivasi
Amir Faisal
Kamis, 30 April 2020
24
Motivasi Menulis Setiap Hari dan Menerbitkan Buku
Dr. Dadang Kadarusman
Jumat, 31 April 2020


MATERI BELAJAR MENULIS BERSAMA OMJAY (VERSI Mr. BAMBS)

1.     Materi 1: Panduan Awal Mendesain Pembalajarn Daring (Agus Sampurno)
2.     Materi 2: Pembelajaran Daring (Indra Charismiadji)
3.     Materi 3: Menulis tentang Momen Spesial (Munif Chatib)
4.     Materi 4: Langkah-langkah dalam Menulis (Akbar Zainudin)
5.     Materi 5: Menulis di Blog dan Menjaga Konsistensi dalam Menulis (Dedi Dwitagama)
6.     Materi 6: Menulis Tanpa Ide (Budiman Hakim)
7.     Materi 7: Dasar-dasar Menulis (Imam Fitri Rahmadi)
8.     Materi 8: Meluruskan Niat Menerbitkan Buku (Omjay)
9.     Materi 9: Kiat Sukses menadi Guru Prestasi (Encon Rahman)
10.  Materi 10: Menulis dalam Seminggu dari Seminar Virtual di Youtube (Prof. Eko Indrajit)
11.  Materi 11: Menulis Artikel di Majalah SuaraGuru PGRI (Dr. Jejen Musfah)
12.  Materi 12: Karya Inovasi dan Kualitas Diri (Tri gus Cahyono, M. Pd.)
13.  Materi 13: Mengajar Gaya Moivator (Aris Ahmad Jaya)