Kamis, 24 Maret 2022
BAHAGIA JADI PENJEMPUT
Sabtu, 12 Februari 2022
RIHLAH LPMPP
Jumat, 21 Januari 2022
SATU MEJA BEDA NASIB
Siapa yang tak kenal wanita yang satu ini? Jika Anda berkecimpung di dunia pendidikan tentu telah mengenalnya, sebab beliau adalah sosok tak asing dalam dunia pendidikan, khususnya di wilayah Jawa Tengah. Eits, jangan salah ya. Beliau yang kumaksud yang berjilbab hitam. (Kalau yang berjilbab warna orange ditanggung Anda tak mengenalnya). Namanya (berjilbab hitam ya ...) bukan hanya meroket di Jawa Tengah. Namun, di nusantara ini namanya harum semerbak mewangi. Siapakah beliau?
Beliau adalah sosok yang dilantik pada tanggal 14 Januari 2022. Gak tanggung-tangung. Beliau dilantik sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pada pukul 08.00 WIB. Sebelumnya beliau menjabat sebagai Kepala SMAN Purwantoro, Wonogiri.
Pertama kali bertemu dengannya pada kegiatan Seminar dengan tema ”Dukungan Organisasi Profesi Guru bagi Peningkatan Profesionalitas Guru” yang diselenggarakan pada hari Kamis, 19 November 2021 di Swiss-Bellhotel Solo Jl. A. Yani Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah 5134.
Diri ini datang duluan. Beberapa saat kemudian beliau menanyakan apakah kursi di sebelah kosong yang kuiyakan karena memang masih kosong. Dari sanalah kami saling berkenalan. Aku membatin bahwa dirinya insan yang amat potensial. Dari pembicaraan yang kami rajut bersama muncul sebuah praduga bahwa beliau bukan orang sembarangan. Dari cara bicaranya, pandangan-pandangannya, kesantunannya, kurasa beliau memang insan pilihan.
Diri ini tidak kaget saat mendengar kabar 14 Januari yang lalu beliau dilantik sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Selamat, Bunda. Semoga dapat mengemban tugas dengan nyaman dan barakah. Selamat buat kita semua yang memiliki Ibu Kepala Dinas baru.
Minggu, 12 Desember 2021
Sepeda Impian Rafi
Sebulan lebih
Rafi mengikuti bimbingan menulis puisi. Awalnya, dia bersama tujuh belas siswa
di kelasnya ikut bimbingan. Bu Liani, guru kelas enam, dikenal memberikan
bimbingan tak kenal ampun. Totalitas pembimbingannya tak diragukan lagi. Jika
telah masuk bimbingannya tak ada satu pun siswa berani membantah. Termasuk ikut
bimbingan setiap hari sebelum jam sekolah.
“Besuk pagi, yang serius ikut bimbingan telah hadir di
sekolah pukul 06.00 ya,” yang dijawab serentak oleh peserta bimbingan, “Ya Bu
Guru. Siap Bu Guru.”
Bu Liani
ingin mengikutkan salah satu siswanya dalam lomba menulis atau cipta puisi tingkat
kabupaten. Tak tanggung-tangung hadiahnya. Kata Bu Liani jika menjadi juara pertama
akan mendapat uang pembinaan satu juta lima ratus ribu rupiah. Juara kedua mendapat
uang pembinaan satu juta rupiah. Adapun juara ketiga mendapatkan uang tujuh
ratus lima puluh ribu rupiah.
“Wahhhh, uang
yang begitu besar nih. Bisa untuk beli sepeda baru seperti sepeda Nazia,” batin
Rafi yang membarakan semangat untuk ikut lomba.
“Tapi ...
kesempatan untuk ikut lomba hanya dimiliki satu orang di sekolah ini. Sementara
teman-temanku banyak yang telah berkarya dan dimuat di koran lokal di daerahku.”
“Bagaimana
mungkin aku bisa bersaing dengan teman-temanku yang telah lama menulis dan
diajari ibunya yang juga seorang guru? Bagaimana aku punya kesempatan untuk
bersaing dengan mereka?” demikian batin Rafi.
Rafi galau. Takut
tak mendapat kesempatan mewakili sekolahnya maju lomba di tingkat kabupaten.
Namun, ketenangan hatinya muncul saat teringat semangat “Man jadda wada
(barangsiapa bersungguh-sungguh akan berhasil)” sebagaimana yang dibacanya dari
buku Negeri 5 Menara karya A. Fuadi. Buku tersebut sungguh dapat mengobarkan
semangatnya untuk bersungguh-sungguh.
Dari hari ke
hari peserta seleksi menyusut. Berawal dari delapan belas, pekan kedua menjadi
dua belas. Pekan ketiga tinggal empat siswa. Rahma, Keysha, Rafi, dan Azzahra
masih berada pada posisi empat besar. Satu pekan menjelang lomba, Keysha
tumbang. Dia mengundurkan diri karena merasa tak tahan uji. Dua hari kemudian Azzahra
dan Rahma menyatakan berhenti dari Latihan. Tinggal Rafi seorang diri.
Meski yang
dibimbing tinggal seorang, Bu Liani tetap menggebu dan menggelora semangatnya. Rafi
semakin bersemangat berlatih meski tak jarang hasil karyanya dicoret dengan
tinta merah. Semakin besar coretan merah pada karyanya semakin membuat Rafi
penasaran dan semangat memperbaiknya.
Sebenarnya
ada maksud terpendam di hati Rafi. Dia ingin ikut lomba karena tergiur hadiah besar
yang ditawarkan gurunya. Sangat cukuplah untuk membeli sepeda.
Hari perlombaan
cipta puisi di kabupatennya tiba. Rafi diantar Bu Liani mengendarai motor Supra
X tahun 2009 menuju aula dinas Pendidikan dan Kebudayaan di kabupatennya. Waktu
yang diberikan oleh paniia untuk berkarya dua jam atau 120 menit.
Tanpa melihat
kanan kiri, depan belakang, Rafi menorehkan karya pada folio bergaris yang
dibagikan oleh pnitia. Folio itu telah distempel agar tak ada yang menukar
karya yang dibawa dari rumah. Lima menit menjelang aktu berakhir, Rafi melihat
kanan kiri depan belakang. Tampaknya semua peserta telah selesai menorehkan
karya.
Harapan untuk
menang hampir sirna. Semua peserta telah berkarya semaksimal dia bisa. Tak ada cara
lain keculai Rafi menggenapi dengan doa agar dewi fortuna berpihak kepadanya.
Tak berani berharap mendapat sepeda baru dari hadiah lomba.
Sehari
setelah lomba, akan diumumkan siapa saja para juaranya. Rafi pasrah. Jika
dirinya menang, ini merupakan anugerah. Jika belum menang, semoga kemenangan
didapat pada kesempatan berikutnya.
“Rafi ...,”
begitu panggil Bu Liani saat Rafi bercengkerama dengan Rahma.
“Ya Buuu,”
jawab Rafi pelan. Dadanya berdegup tak menentu. Dia ingat pembicaran bapak
ibunya semalam yang mengatakan bahwa uang kontrakan rumahnya belum terbayar.
Ibunya bingung akan mencari pinjaman ke mana.
“Selamat Rafi.
Namamu masuk deretan para pemenang yang akan mendapat hadiah,” ujar Bu Guru
Liani amat manis.
“Alhamdulillah
ya Allah. Doaku telah Engkau kabulkan.”
Saat
pemberian penghargaan berupa piala, penyerahan uang pembinaan yang jumlahnya
cukup untuk membeli sepeda baru, Rafi telah membayangkan besuk pagi akan naik
sepeda barunya. Tentunya dia akan sangat bahagia. Sepeda baru seharga satu juta
lima ratus ribu rupiah. Tidak perlu nebeng teman setiap hari. Namun, harapannya
berbelok arah saat mengingat pembicaraan orang tuanya semalam.
“Rafi,
selamat ya. Uang sebanyak itu mau kaugunakan untuk apa?” tanya Bu Liani lembut
setelah penyerahan hadiah lomba. Bu Liani asyik mengamati piala yang baru saja
diberikan kepada muridnya. Juara satu tentu membuatnya bangga dan haru.
“Untuk
membeli ... untuk membeli ... essss, eh untuk keberikan kepada ibu agar bisa
membayar kontrakan rumah Bu Guru.”
“Ehm ... apa?
Ehm ... bagus Rafi. Kau memang murid Bu Guru yang istimewa.” Sedih dan gembira
hati Rafi. Sedih karena tak jadi membeli sepeda baru. Gembira karena bisa
membantu orang tuanya.
#AiseiChallengeDesember
Solo, 12 Desember
2021
Kamis, 02 September 2021
SERU KEBIASAAN BARU PERLU DIPERHATIKAN ORTU
Untuk anak-anak yang
sekolahnya sudah diizinkan dibuka, ada panduan Seru Belajar Kebiasaan Baru yang
harus diikuti agar terhindar dari penularan COVID-19. Hal-hal berikut perlu
diperhatikan orang tua.
1.
Pastikan
kondisi lahir dan batin anak dalam keadaan sehat
Suhu tidak lebih dari 36,50 Celcius, tidak demam, tidak
batuk, tidak pilek, tidak takut ke sekolah.
2.
Baju
yang dipakai dalam kondisi bersih
3.
Anak
sudah harus sarapan dan bawa bekal makanan sehat
4.
Ingatkan
anak supaya tidak pinjam-meminjam perlengkapan pribadi
Wajib bawa sendiri (bekal, peralatan makan, peralatan ibadah)
5.
Jangan
lupa masker
Masker nonmedis 3 lapis, bawakan wadah masker kotor
6.
Ingatkan
anak agar cuci tangan pakai sabun setelah menggunkan transportsi publik atau
antar jemput
7.
Hindari
menyentuh permukaan benda-benda jaga jarak, jaga etika batuk dan bersin Ketika
di jalan
8.
Jaga
jarak aman di perjalanan
9.
Yang
pakai ojek online sebaiknya bawa helm sendiri
10. Di dalam kereta dilarang: menelepon dengan suara
keras, bercakap-cakap tanpa masker
11. Langsung ke sekolah, jangan mampir-mampir, berhenti di
tempat yang ditentukan sekolah, dan langsung pulang setelah mengantar
12. Saat antar jemput dilarang: berkerumun, menunggu di
sekolah
13. Keluar ruangan sekolah dengan berbaris minimal jarak
1,5 meter
14. Jemput anak di titik yang telah ditentukan. Jika pulang
sendiri ingatkan agar anak jaga jarak.
15. Sampai di rumah, lepas alas kaki, letakkan barang di
luar. Disinfeksi barang-barang yang dibawa.
16. Jangan sampai terlewat panduan langkah sehat anak
sekolah di tengah pandemi.
17. Jaga kesehatan mereka biar anak-anak sehat dan Seru
Belajar Kebiasaan Baru.
Yuk, simak video berikut.
Sumber: cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id
SERU BELAJAR KEBIASAAN BARU: Panduan Untukmu dan Untukku
Kalau PTM (Pembelajaran Tatap
Muka) sudah boleh dimulai, pastikan ikuti protokol kesehatan. Agar selamat
selalu ini panduan untukmu.
Sebelum
Berangkat Sekolah
Cek suhu tubuh
dulu, pakai masker selalu.
Selama
di Perjalanan
Saat di jalan
jaga jarak 1,5 meter, jangan gandengan dulu.
Sampai
Sekolah
Cuci tanganmu
dulu pakai sabun selalu. Di laborat, perpustakaan, kelas jaga jarak selalu. Di
kelas, dengan temanmu jangan dekatan dulu. Bawa alat sendiri. Pakai barang
pribadimu, bawa bekal sendiri.
Sesampainya di Rumah
Pulang sekolah langsung pulang ke rumah, mampir-mampir
gak usah. Sampai di rumah bersih-bersih segera. Jangan lupa untuk selalu
lakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Supaya kita jumpa lagi di
sekolah. Yo ayo kita bersama saling jaga. Agar sehat selamat segera cuci
tangan, segera mandi, ganti pakaian bersih. Seru belajar kebiasaan baru.
cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id
SERU BELAJAR KEBIASAAN BARU
Kalau PTM (Pembelajaran Tatap
Muka) sudah boleh dimulai, pastikan ikuti protokol kesehatan. Agar selamat
selalu ini panduan untukmu.
Sebelum
Berangkat Sekolah
Cek suhu tubuh
dulu, pakai masker selalu.
Selama
di Perjalanan
Saat di jalan
jaga jarak 1.5 meter, jangan gandengan dulu.
Sampai
Sekolah
Cuci tanganmu
dulu pakai sabun selalu. Di laborat, perpustakaan, kelas jaga jarak selalu. Di
kelas, dengan temanmu jangan dekatan dulu. Bawa alat sendiri. Pakai barang
pribadimu, bawa bekal sendiri.
Sesampainya di Rumah
Pulang sekolah langsung pulang ke rumah, mampir-mampir
gak usah. Sampai di rumah bersih-bersih segera. Jangan lupa untuk selalu
lakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Supaya kita jumpa lagi di
sekolah. Yo ayo kita Bersama saling jaga. Agar sehat selamat segera cuci
tangan, segera mandi, ganti pakaian bersih. Seru belajar kebiasaan baru.



