Sumber: Buku Salafus Shalih
karya Dr. Ahmad Farid
Buku setebal 609 halaman ini menarik perhatianku. Dari
judul Salafus Shalih: Perjalanan Hidup 60 Ulama Ahlus Sunnah Ahli Tafsir, Ahli
Hadits, Ulama Fiqih dan Imam Madzhab ini membuatkau penasaran. Buku tersebut
terdiri dari 2 jilid. Jilid pertama memuat biografi 32 ulama. Adapun jilid kedua
memuat ulama ketiga puluh tiga hingga keenam puluh.
Nama pertama
yang amat menarik kubaca adalah Muhammad bin Idris yang lebih dikenal dengan
nama Imam Syafi’i. Dalam kitab tersebut ada notifikasi“ Pembela Kebenaran dan
Sunnah.” Masa hidup beliau 150 h – 204 H. Artinya, beliau sudah wafat 1.243
tahun yang lalu menurut kelender Hijriyah atau tahun Qomariah. Namun,
pembahasan tentang beliau masih hidup hingga sekarang.
Nama, nasab,
dan kun-yah beliau: Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi bin
as-Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hisyam bin al-Muththalib bin Abdi Manaf
bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu-ay bin Ghalib. An Nawani
menyebut,” Asy-Syafi’i menempati posisi tertinggi dan terluhur dalam hal
kebaikan. Karena Allah telah menyatukan berbagai kemuliaan pada dirinya.
Kemuliaan nasab yang suci dan asal-usul yang gemilang. Nasabnya bertemu dengan
nasab Rasulullah. Dan itu merupakan puncak kemuliaan dan puncak kedudukan.
Demikian pula dengan kemuliaan tempat lahir dan pertumbuhannya. Beliau lahir di
tanah suci, da tumbuh dewasa di Mekkah.
Tempat
kelahiran sang imam adalah di Gaza. Beliau yatim sejak kecil. Sang ibu khawatir
anaknya terlantar, sehingga ia pindah ke tempat asal usulnya, Makkah saat
beliau berusia dua tahun. Awalnya beliau (Asy-Syafi’i) tertarik dengan dunia
memanah, Bahasa Arab dan syair, selanjutnya tertarik dengan fiqih hingga
akhirnya memimpin kaum muslimin pada masanya.
Pengembaraannya
dalam menuntut ilmu beliau tuturkan, “Dahulu, aku adalah seorang yatim dalam
asuhan ibuku, dan ibuku tidak mempunyai uang untuk membayar jasa guru. Namun
saat itu, guruku setuju bila aku menggantikannya mengajar saat ia pergi,
(sebagai ganti upahnya mengajariku). Setelah mengkhatamkan hafalan al-Qur-an
aku menghafalkan hadits. Rumah kami di Makkah, di perkampungan Khaif. Aku
menulis hadits dan sejumlah catatan ilmu di tulang, setelah tulang penuh dengan
tulisan kusimpan di dalam guci kuno.”
Mush’ab
az-Zubairi menuturkan. “Yang mendorong asy-Syafi’I mempelajari fiqih Adalah kisah
ini. Pada suatu hari say-Syafi’i bepergian dengan berkendaraan. Di belakangnya
ada sekretaris ayahku. Asy-Syafi’I lalu melantunkan bait syair. Tiba-tiba saja
sekretaris ayahku mengetuknya dengan gagang cambuk seraya berkata, “Orang
sepertimu hilang wibawanya karena hal-hal seperti ini! Di manakah posisimu dari
fiqih? Kata-kata itu membuat asy-Syafi’i terguncang. Akhirnya ia berguru kepada
Zanji bin Khalid, mufti Makkah, setelah itu ia datang kepada kami, lalu berguru
kepada Malik bin Annas.”
Asy-Syafi’i
pernah memimpin Yaman. Beliau menjadi sosok terkenal karena rekan jejaknya yang
baik dan juga usahanya dalam mendorng Masyarakat agar berpegang keada sunnah,
melakukan cara-cara terpuji, dan berbagai kebaikan lainnya.
Selanjutnya
beliau berkelana ke Irak mencari ilmu. Di Irak beliau mengarang kitab tentang
madzhab lamanya berjudul Kitâbul Hujjah. Asy-Syafi’i pindah ke Mesir tahun 197 H. Kemudian
mengarang kitab berisi mazhab baru. Semuanya beliau tulis di Mesir.
Al-Baihaqi
dalam Manâqibusy Syafi’i menyebutkan leih dari 140 kitab yang ditulis
oleh Imam Asy-Syafi’i, baik dalam masalah ushul maupun persoalan furu’.

Baguus..lanjut
BalasHapus