Senin, 16 Februari 2026

YUK, SEDIKIT MENGENAL IMAM SYAFI’I


Sumber: Buku Salafus Shalih karya Dr. Ahmad Farid

 

            Buku setebal 609 halaman ini menarik perhatianku. Dari judul Salafus Shalih: Perjalanan Hidup 60 Ulama Ahlus Sunnah Ahli Tafsir, Ahli Hadits, Ulama Fiqih dan Imam Madzhab ini membuatkau penasaran. Buku tersebut terdiri dari 2 jilid. Jilid pertama memuat biografi 32 ulama. Adapun jilid kedua memuat ulama ketiga puluh tiga hingga keenam puluh.

Nama pertama yang amat menarik kubaca adalah Muhammad bin Idris yang lebih dikenal dengan nama Imam Syafi’i. Dalam kitab tersebut ada notifikasi“ Pembela Kebenaran dan Sunnah.” Masa hidup beliau 150 h – 204 H. Artinya, beliau sudah wafat 1.243 tahun yang lalu menurut kelender Hijriyah atau tahun Qomariah. Namun, pembahasan tentang beliau masih hidup hingga sekarang.

Nama, nasab, dan kun-yah beliau: Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi bin as-Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hisyam bin al-Muththalib bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu-ay bin Ghalib. An Nawani menyebut,” Asy-Syafi’i menempati posisi tertinggi dan terluhur dalam hal kebaikan. Karena Allah telah menyatukan berbagai kemuliaan pada dirinya. Kemuliaan nasab yang suci dan asal-usul yang gemilang. Nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah. Dan itu merupakan puncak kemuliaan dan puncak kedudukan. Demikian pula dengan kemuliaan tempat lahir dan pertumbuhannya. Beliau lahir di tanah suci, da tumbuh dewasa di Mekkah.

Tempat kelahiran sang imam adalah di Gaza. Beliau yatim sejak kecil. Sang ibu khawatir anaknya terlantar, sehingga ia pindah ke tempat asal usulnya, Makkah saat beliau berusia dua tahun. Awalnya beliau (Asy-Syafi’i) tertarik dengan dunia memanah, Bahasa Arab dan syair, selanjutnya tertarik dengan fiqih hingga akhirnya memimpin kaum muslimin pada masanya.

Pengembaraannya dalam menuntut ilmu beliau tuturkan, “Dahulu, aku adalah seorang yatim dalam asuhan ibuku, dan ibuku tidak mempunyai uang untuk membayar jasa guru. Namun saat itu, guruku setuju bila aku menggantikannya mengajar saat ia pergi, (sebagai ganti upahnya mengajariku). Setelah mengkhatamkan hafalan al-Qur-an aku menghafalkan hadits. Rumah kami di Makkah, di perkampungan Khaif. Aku menulis hadits dan sejumlah catatan ilmu di tulang, setelah tulang penuh dengan tulisan kusimpan di dalam guci kuno.”

Mush’ab az-Zubairi menuturkan. “Yang mendorong asy-Syafi’I mempelajari fiqih Adalah kisah ini. Pada suatu hari say-Syafi’i bepergian dengan berkendaraan. Di belakangnya ada sekretaris ayahku. Asy-Syafi’I lalu melantunkan bait syair. Tiba-tiba saja sekretaris ayahku mengetuknya dengan gagang cambuk seraya berkata, “Orang sepertimu hilang wibawanya karena hal-hal seperti ini! Di manakah posisimu dari fiqih? Kata-kata itu membuat asy-Syafi’i terguncang. Akhirnya ia berguru kepada Zanji bin Khalid, mufti Makkah, setelah itu ia datang kepada kami, lalu berguru kepada Malik bin Annas.”

Asy-Syafi’i pernah memimpin Yaman. Beliau menjadi sosok terkenal karena rekan jejaknya yang baik dan juga usahanya dalam mendorng Masyarakat agar berpegang keada sunnah, melakukan cara-cara terpuji, dan berbagai kebaikan lainnya.

Selanjutnya beliau berkelana ke Irak mencari ilmu. Di Irak beliau mengarang kitab tentang madzhab lamanya berjudul Kitâbul Hujjah.  Asy-Syafi’i pindah ke Mesir tahun 197 H. Kemudian mengarang kitab berisi mazhab baru. Semuanya beliau tulis di Mesir.

Al-Baihaqi dalam Manâqibusy Syafi’i menyebutkan leih dari 140 kitab yang ditulis oleh Imam Asy-Syafi’i, baik dalam masalah ushul maupun persoalan furu’. 

 

1 komentar: