Sabtu, 02 Mei 2020

MENULIS JUDUL ARTIKEL YANG MENARIK KEDUA


Tema               : Judul Artikel yang Menarik
Waktu             : Sabtu, 2 Mei 2020 Pukul 14.00 -15.00
Narasumber    : Kang Encon

Judul merupakan kepala karangan. Menarik tidaknya senuah tulisan atau artikel kadang dilihat dari judulnya. Ada cara menulis judul artikel yang menarik yang perlu diperhatikan oleh penulis. Bagaimana caranya menentukan judul yang menarik dibahas dalam materi ini. Sebab pada materi ini terdapat dua bahasan utama yaitu menuis judul yang menarik dan syarat atau ketentuan judul artikel koran atau majalah.
Sebelum membahas judul ada baiknya dicermati perbedaan antara tema, topik, dan judul terlebih dahulu. Pokok-pkok materinya ada di sini.

PERBEDAAN TEMA, TOPIK, DAN JUDUL

Tema berasal dari bahasa Yunani; “tithenai” yang berarti  “sesuatu yang telah diuraikan” atau “sesuatu yang telah ditempatkan”.
Tema adalah  uraian dari topik yang bersifat spesifik. Tema adalah inti persoalan atau cerita.

Topik juga berasal dari bahasa Yunani; “topoi” artinya “tempat” atau “pokok pembicaraan”.
Topik adalah  pokok pembicaraan  atau masalah yang dibahas.
Judul adalah kepala karangan.
Judul merupakan perekat antara tema dan topik bahasan.

Judul artikel  adalah “kepala”  sebuah artikel.
Itulah sebabnya menulis judul yang menarik merupakan syarat utama  agar redaktur surat kabar berminat memuat tulisan kita.
Judul artikel harus mencerminkan ide utama  atau memberi informasi kepada pembaca tentang konsep yang akan dibahas.

Hal yang harus diperhatikan sebelum menulis judul artikel
  1. Terlebih dahulu kita menentukan  tema dan topik artikel
  2. Topik harus sudah ditentukan sebelum menulis judul artikel.
  3. Sementara judul artikel  tidak selalu demikian.
  4. Kadang-kadang topik langsung dijadikan judul artikel.

12 ciri judul  artikel yang tidak memenuhi syarat untuk surat kabar dan majalah.
Kesatu.
Judul artikel terlalu singkat atau terlalu panjang.
Contoh
1. Manusia dan agama
2. Upaya pemerintah  daerah dalam mengentaskan kemiskinan dikawasan desa tertinggal
Kedua.
Judul artikel tidak provokatif (pasif)  atau tidak memunculkan rasa ingin tahu pembaca.
Contoh
1. Masalah politik perizinan di indonesia
2. Cinta segi tiga
3. Pulang kampung karena wabah
Ketiga.
Judul artikel tidak relevan dengan pokok bahasan.
Contoh (artikel dengan topik bahasan perizinan):
1. Yang kandas yang terhempas
Keempat.
Judul artikel tidak aktual.
Contoh
1. Antara mahasiswa dan dosen (judul apa pula ini?)
2. Menabur cinta dipusaran

Kelima.
Judul artikel terkesan formal / kaku tidak komunikatif.
Contoh
1. Peranan polisi dalam menciptakan tertib lalu lintas
Keenam.
Judul artikel tidak representatif (tidak mewakili kepentingan sebagian besar pembaca)
Contoh
1. Oh, konglomerat
2. Wow  memalukan

Ketujuh.
Judul artikel tidak spesifik
Contoh
1. Politik  yang menjerat konsumen
2. Wabah korona  dimata dunia

Kedelapan.
Judul artikel tidak  atraktif (tidak menarik) dan tidak memikat
Contoh
1. Perundingan damai di timur tengah

Kesembilan.
Judul artikel kurang variatif
Contoh
1. Format pembinaan dan sumberdaya politik
2. Format orde baru dan sumber daya politik
3. Format kebijakan dan sumber daya aparatur

Kesepuluh.
Judul artikel mengandung unsur sara
Contoh
1. Sikap serakah pengusaha jawa
2. Jangan berdagang dengan cina

Kesebelas
Judul artikel ambigu/ tidak relevan/ tidak jelas
Contoh
1.  Wabah corona bukan sekedar wabah
Kedua belas
Judul artikel tidak logis
Contoh
1.  Cara mudah menyembuhkan penyakit jantung dengan olahraga  dua km setiap hari

Daftar rujukan
1.  Erwan juhara, “penulisan artikel: gagasan berbicara kebenaran” makalah training pelatihan jurnalistik. 1993.
2.  Encon rahman, kiat praktis teknis menulis siapa bulang menulis artikel untuk koran susah?, aranca pratama, bekasi, 2020.
3. Setia permana, “menulis artikel : sebuah catatan enteng”. Makalah pelatihan jurnalistik. 1995.
4. Tri harijono, “berita, artikel, dan feature”. Makalah  pelatihan. 1993
5.  Muhamad ridlo eisy, “intro sebuah artikel” makalah pelatihan jurnalistik. 1995.
6.  Asep syamsul m. Romli., jurnalistik terapan pedoman kewartawanan dan kepenulisan., batic press, bandung, 2003.
7.  Nurudin, menulis artikel itu gampang, effhar offset, semarang, 2002..
8.   Lasa hs, gairah menulis, alinea, yogyakarta, 2005.
9.   A. Rahmat rosyadi, menjadi penulis profesional itu mudah, galia indonesia,  bogor, 2008.
10. Wilson nadeak, bagaiaman menjadi penulis yang sukses?, sinar baru, bandung, 1983
11. Lukman haqani, mengatasi 25 hamabatan menulis, pustaka ulumudin, bandung, 2004.
12. Hendra sipayung, trik-trik pingtar menulis dan menjadi pengusaha dengan modal menulis, marsindo publising, depok, 2013.
13. Asep syamsul m. Romli, panduan menjadi penulis kiat menulis artikel untuk media massa, batic press, bandung, 2002.
14. M. Arief hakim, kiat menulis artikel di media dari pemula sampai mahir, nuansa cendekia, bandung, 2004.
15. Kurnia hadinata, jurus jitu guru jawara guru mulia, berkarya dan berprestasi, kabarita, padang, 2016.
16. Totok djuroto dan bambang suprijadi, menulis artikel dan karya ilmiah, rosda, bandung, 2002


bab 4
SEPERTI APA
JENIS JUDUL ARTIKEL AGAR MENARIK?
JENIS –JENIS JUDUL ARTIKEL AGAR MENARIK



Rujukan maksimal 10 tahun. Pada contoh ada tahun 90-an karena masih inspiratif.

Jumlah kata untuk judul maksimal 7 kata. Pada umumnya judul koran nasional antar 3 – kata.Kata aktif. Tak boleh menggunakan kata pasif karena tidak provokatif. Tidak memunculkan menarik perhatian.

Bolehkah judul artikel sedikit nyastra (puistis).
Tidak boleh. Yang boleh feature, esai, verpen, novel. Artikel judul normatif, formal.

Perbedaan tema, topik.
Sering tertukar. Tema bagian dari topik. Harus pandai melihat sikon yang aktual. Kalua tidak aktual tak akan dimuat. Nanti akan beratih membuat tema, topik, judul. Ibu Bapak mencoba menuis tema/topik sejenis.

Mana lebih baik menulis judul dulu atau artikel dulu?
Tergantung masing-masing pengarang. Kadang artikel dulu baru judul atau sebaliknya. Kita belajar enyusun artikel pendek dulu.

Artikel sudah 800 kata? Menuis pengalaman termasuk feature?  Outing bersama termasuk feature?
Word count. Jalan-jlan bisa dibuat 2 artikel: feature atau artikel.Feature ad apola khusus. Di dalamnya spt wartawan/jurnalis/reporter menceritkan perjalanan. Berpa jam, naik apa, menemukan apa ktemu siapa. Kronologi itu feature. Artiekl: pola sejarah Cipanas, manfaat. Ini artkel dlu. Fokus artikel-

Kadang kita terbelenggu antara topik, tema, dan judul. Kali sangat jelas.
Apakah boleh dibolak-balik.
Sebelum mebuat judul artikel harus memiliki tema. Misal ttg hari buruh interans. Hardiknas. Tema itu sgt umum. Dari tema itu, topiknya Potret Buram Pendidikan di Masa Korona. Topik adl bahasan yang akan dijadikan pembahasan. Potret Buram Jenjang Pendidikan Dasar di Masa Korona. Bisa dijadkan judul.

Khusus Minggu boleh promo buku, dll.Selain Minggu fokeus pembelajaran.


MENULIS BUKU MOTIVASI BERSAMA BAPAK AMIR FAISAL


Tema               : Berbagi Pengalaman Menulis Buku Motivasi
Waktu             : Kamis, 30 April 2020 Pukul 13.00 – 15.00
Narasumber    : Amir Faisal

Kamis, 30 April 2020 Grup Belajar Menulis bersama Omjay Gelombang 8 belajar bersama tokoh inspiratif. Beliau seorang trainer dan  sekaligus motivator bernama Amir Faisal, Business Inspirator CN: 08157698288, 082136009888  International Certified on  NLP & Persuassive Communication. Praktisi Bisnis dan konsultan marketing  beberapa perusahaan  Gogreen Industry.  International Certified on NLP (Neuro Linguistic Programming), lisenced from California, dengan Coach Syaiful Bahri dan Stefanus Izaac Tamsil – salah satu dari sembilan belas orang di seluruh dunia yang mendapat Lisenced dari Robert Dilt (Developer of The Original NLP), Certified on Persuassive Communication dari Ronny FR (International Coach Lisenced of Richard Bandler), Certified on Basic Multiple Intelligence dan Certified on Quantum Learning by Bobbi DePorter.
Hingga kini telah puluhan ribu orang yang mengikuti pelatihannya, mulai dari Pejabat Pemerintah dan BUMN, Owner,  pimpinan dan karyawan perusahaan swasta, praktisi bisnis, Dosen,  Guru, Wakil Rakyat, pimpinan Lembaga hingga para mahasiswa. Selain menjadi Business Coach, trainer/ praktisi  NLP, juga aktif di Kadin Komite Timur Tengah serta menjadi Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Asprindo. Selain  itu, tetap menyempatkan diri menulis buku. Hingga kini sudah mempublish 14 buku yang diterbitkan oleh Gramedia Group,  Change, Farisma Publishing dan lain-lain.
Pengalaman profesionalnya dimulai sejak lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro (1990), bekerja di Tanah Mas Group, Branch Manager PT. Pantai Raja Makmur (1997) di Pekanbaru Riau. Kemudian pada saat krisis moneter 1998 mengundurkan diri dari perusahaan dan membangun usaha sendiri. Portfolio lainnya pernah menjadi Marketing Manager PT Nitigraha Muda Vendor Telkom Divre IV ( 2004 ). Direktur Marketing WB Mindset Program (2007), Konsultan Marketing Media (2007).
Alamat yang bisa dihubungi adalah Contact Person: 08157698288 WA atau melalui  E-mail: mrfaisal36@gmail.com, dan Fans Page: Klik Trainer Amir Faisal pada modus pencari teman di Face Book.
Menjadi seorang penulis buku, sekaligus bukunya diterbitkan secara nasional adalah cita-cita para penulis. Benar pepatah Om jay, Bangun personal branding. Caranya adalah dengan menerbitkan buku kita secara nasional. Apabila buku  diterbitkan secara nasional, maka kita  bisa menjadi pembicara tingkat nasional. Seperti yang pernah dilakukan oleh narasumber.  Beliau menerbitkan  buku yang pertama kali, dengan judul menyiapkan anak jadi juara diterbitkan Gramedia. Buku itu baru masuk bulan kedua, sudah menjadi buku  best seller. 

Padahal penulisnya bukan seorang penulis buku, tapi  oleh seorang mandor. Untuk terkenal bukan hanya dikenal oleh seribu, duaribu, limaribu, sepuluh ribu tetapi harus jutaan orang.  Maka kuncinya adalah menulis bukulah yang diterbitkan oleh penerbit nasional. Sejelek-jeleknya buku anda, apabila diterbitkan oleh gramedia itu bisa bertahan selama 6 bulan. Apabila 6 bulan sukses, akan ditambah 6 bulan berikutnya. Tetapi kalau di penerbit lain belum tentu.  
Setiap menulis, penulis perlu mengenali genre masing-masing. Misalnya buku cerita anak atau novel. Kemudian cari buku yang laku di pasaran lalu pelajari. Perlu juga tentukan dulu visi/dream Anda, menjadi penulis. Berikutnya hadapi tantangan-tantangannya dengan sekuat tenaga.  Gramedia atau penerbit manapun adalah sebuah korporasi bisnis, yang orientasi mereka adalah menjual. Orientasi mereka dalam pasar, karena itu cari yang disukai pasar disesuaikan dengan genre kita.
Gramedia biasanya menyebarkan angket untuk mengetahui buku apa yang paling dicari oleh pelanggannya. Tetapi ada info bagus bahwa buku yang paling disukai oleh para pembeli buku atau para pelanggan Gramedia adalah:
1.    Novel
2.    Traveling
3.    Komik
4.    Motivasi
5.    Marketing
Apabila kita ingin menjadi penulis yang disukai pelanggan,  bisa menggabungkan antara nomor 1 dan nomor 2. Maksudnya novel yang menceritakan tentang traveling. Atau menggabungkan anatar a nomor 2 dan nomor 3, yakni komik yang menceritakan traveling.
Narasmber (Amir Faisal) semula hanya mentraining anak sekolah dan mahasiswa.  Lalu, beliau membuat tantangan untuk mentraining guru. Ini dianggapnya gila karena tidak tahu ilmu pendidikan tetapi berani mentraining guru. Beliau belajar buku-buku pendidikan mutakhir dari BobbiDePorter, Barbara Prashnig,  buku-buku psikologi dr Daniel Goleman, Howard Gardner, Thomas Armstrong dan ikut Trainingnya pak Munib Khatib, sekolahnya manusia.

Inilah Catatan Penting dari tanya jawab peserta dengan Narasumber


Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Penulis
1.     Intinya tentukan dulu visi/ dream Anda, kenapa ingin jadi penulis. Lalu hadapi tantangan-tantangannya dengan gagah berani
2.     Yang penting adalah kualitas tulisan,  genre Anda dan buku itu disukai pasar atau tidak?
3.     Ingat penulis itu hanya memenuhi kriteria penerbit
4.     Sejak awal menulis hingga sekarang,  beliau kirimkan full naskah
5.     Justru ini kita perlu belajar Hypnowriting (Insya Allah nanti ada 4 seri lagi)

Supaya Buku Laris:
1.     Temanya Ilpop
2.     Tidak banyak teori. Semakin banyak hal-hal praktis semakin baik
3.     Menarik perhatian banyak orang

Buku yang Disukai Penerbit:
1.     Penerbit lebih menyukai karya original dari pikiran, perasaan, gagasan Anda sendiri
2.     Makanya Anda juga harus gigih ikut marketing lewat medsos. Kasih pelatihan gratis. Bagi buku-bukunya pada key person/ influencer dan sebagainya
3.     Semua penerbit punya kriteria masing-masing.

Lama Menulis Buku
Buku pertama narsum selesai sekitar setahun.
Kedua sekitar 6 bulan.
Kalau sekarang bisa 2 bulan.
Kajian pustaka itu sifatnya hanya penguatan.

Buku Paling Laku di Gramedia:
Novel Motivasi
Sebaiknya penulis baca-baca Novel terbitan Gramedia atau patner,  di sana bisa dipelajari.
Kemudian penulis beli beberapa yang genrenya cocok dengan penulis.

Inspirasi Buku Menyiapkan Anak Jadi Juara:
Ketika narsum memberikan Motivasi pada anak-anak sekolah, narsum merasa ada sesuatu yang salah. Seharusnya Motivator anak-anak ya Gurunya sendiri. Apalah artinya kehadiran diri narsum yang hanya 4 - 5 jam,  dibanding para guru yang membimbing selama 3 tahun
narsum membandingkan kedua anaknya,  yang kebetulan yang satu di SMP favorit dan lainnya di SMA runner up.

Buku Supaya Menjadi Branding
1. Menulis buku di penerbit nasional
2. Aktif menjadi narasumber. Kalau perlu gratiskan
3. Melalui  Medsos: Punya website dan aktif menulis artikel, face book,  Instagram dan sebagainya.

Bagaimana Pasar Mencintai Buku
Jangan hanya segmen sekolah/ lembaga pendidikan saja, tetapi umum

Buku yang diobral
1.  Terbitan lama
2.  Tidak laku-laku
3.  Isunya sudah lama

Buku yang Bisa Diterbitkan
True story bisa juga diterbitkan asal fenomenal.
Misalnya pengalaman memberikan tutorial pada anak berkebutuhan khusus, pada anak-anak miskin, anak-anak di Rumah singgah dll

Motivasi Menjadi Penulis
1.  Hati sudah tidak bahagia lagi hidup sebagai kontraktor
2.  Kemudian menemukan Life Cycle
3.  Cari expertise dan specialties. Kalau perlu uniquenya

Kendala Selama Menjadi Penulis
Ada dua buku narsum yang hingga kini tidak diterbitkan
Tetapi narsum jadikan sebagai identifikasi masalah
Kuncinya pada passion of life Pak

Apa Itu Genre

Yang dimaksudkan dengan genre itu adalah sifat genetik karya Anda.
Bukan bidang atau tema bukunya.  Misalnya novel itu,  genre Anda pada cerita anak-anak, roman, psikologi, motivasi, traveling dan sebagainya.

Untuk sukses itu perlu pengorbanan, perjuangan dan kesabaran. Sukses itu tidak ditunggu tapi diraih dan diperjuangkan. Jangan menyerah karena tidak bisa. Banyak tokoh yang sukses diluar latar belakang pendidikan. Tetapi karena ada kemauan, disitu ada kesuksesan. Kalau kita mau disitu ada jalan. Betul kata pepatah, lebih baik ada kemauan meski kurang kemampuan. Karena kemampuan bisa dilatih dan diperjuangkan.  Dari pada orang yang memiliki kemampuan,  tetapi tidak ada kemaun. Berlatih, berlatih dan terus berlatih untuk meraih kemampuan….


SAATNYA “HARUS” TINGKATKAN KOMPETENSI DIRI


Satu lagi kegiatan rutin kuikuti untuk meningkatkan kompetensi. Menulis artikel untuk konsumsi koran dan majalah bersama Kang Encon di grup WA. Penawaran lewat grup WA ini harus kusambut secepat kilat sebelum kehilangan kesempatan. Ini juga sebagai cara mengisi waktu agar tidak ngelangut. Ngelangut memikirkan covid-19 yang berdampak pada keluarga. Rencana kumpul bersama keluarga besar saat lebaran kini pupus sudah. Tiket yan sudah terbeli telah di-refund. Semoga ada hikmah di balik ini semuanya.
Inilah salah satu hikmah yang harus dijemput. Memanfaatkan waktu untuk meningkatkan diri dan kompetensi serta mendekatkan diri pada Ilahi Rabbi.  Awal Mei sudah ada agenda padat. Pukul 08.30 hingga 11.00 sudah registrasi kegiatan Webinar bersama PGRI. Belajar Menulis bareng Omjay teragenda pukul 13.00 -15.00. Ini agenda yang sayang untuk dilewatkan. Sayangnya, bertabrakan dengan agenda berikunya per 1 Mei. Kursus menulis artikel untuk konsumsi koran dan majalah. Kini terukur sudah (kesadaran belum memiliki kemampuan apa-apa) yang saat kuliah telah mengikuti mata kuliah Menulis 1, 2, 3. Ternyata yang kumiliki belum ada apa-apanya. Harus berguru lagi jika ingin tingkatkan kompetensi.
Padahal, waktu kuliah telah terbayang setelah lulus nantinya, bisa menjai guru menulis hebat. Mengajar para siswa untuk terampil menulis .Ternyata apa yang terjadi? Setelah mengajar berpuluh tahun kemampuan menulisku belum terasah dengan baik. Harus belajar, belajar, dan belajar. Mengejar ketertinggalan dari kawan-kawan yang telah melesat jauh tinggalkan diriku yang masih berada di tempat.
Ohoi. Diri ini harus segera bangkit dan menyadari kekurangan diri. Mengisi kegiatan tuk tingkatkan kompetensi. Bersama orang hebat semoga bisa tertular virusnya. Kurasa tak ada satu pun narasumber di Belajar Menulisnya Omjay yang tidak hebat. Membuat diri ini berdecak. Mungkinkah diri ini mengikut jejak mereka? Para narasumber yang sangat menginspirasi dan memotivasi? Terutama untuk anak didikku yang telah kurindu sepanjang waktu. Hai anak-anakku, Cintaku, Negeriku. I Love You. Tetap diam di rumah ya. Belajar di rumah, bekerja di rumah, beribadah di rumah. Semoga kasus corona segera menghilang dan kira bebas bercengkerama.

Jumat, 01 Mei 2020

SUMBER IDE SAAAAANGAT BANYAK


Tema               : Motivasi Menulis Setiap Hari dan Menerbitkan Buku
Waktu             : Jumat, 1 Mei 2020 Pukul 13.00 – 15.00
Narasumber    : Dadang Kadarusman

Narasumber yang ayahnya seorang guru sekolah dasar, ketika saya masih kecil, beliau sering membawakan buku-buku bacaan. Dari situ narsum jadi suka membaca. Dan dari suka membaca itu kemudian beliau berkeinginan untuk menulis. Jadi sejak kecil beliau sudah menulis. Beliau suka menulis sejak SD dan sangat suka menulis sejak SMP.
MENULIS SETIAP HARI dan MENERBITKAN BUKU ya.
Tapi dari dialog sederhana itu kemudian saya melihat ada 1 aspek yang perlu diperbaiki pada orang yang ingin mempunyai hasil karya berupa buku Bapak Ibu ketahuilah bahwa hari ini, menerbitkan buku itu sangat mudah sekali. Beda dengan 20 tahun lalu ketika saya pertaman kali ingin menerbitkan buku. Ditolak penerbit itu biasa sekali. Sekarang tantangan terbesar kita BUKAN pada menerbitkan bukunya. Melainkan pada MENULIS SETIAP HARInya. Jika kita bisa menulis setiap hari, maka kita akan sampai pada titik dimana kualitas tulisan kita akan sangat menarik bagi penerbit. Kita, tidak perlu mendatangi penerbit lagi. Mereka yang datang kepada kita. Buku-buku beliau pada umumnya adalah hasil dari penerbit datang dan menwarkan untuk menerbitkan naskahnya
Mengapa kita perlu menulis setiap hari? ('WHY')
Pertama, alah bisa karena biasa. Kalau sudah biasa akan tumbuh keterampilan.
Yang kedua, kenapa kita perlu menulis setiap hari. Karena menulis setiap hari itu membantu menjaga keselarasan antara otot-otot tubuh kita, juga jiwa. Jadi, nanti kalau kita sudah terbiasa menulis. Melihat apapun, selalu ingin menerjemahkan apa yang kita lihat itu kedalam bentuk tulisan. Orang yang tidak terbiasa menulis, bisa saja memendam perasaan itu. atau butuh seseorang yang mau mendengarnya
Yang ketiga. Menulis setiap hari itu merupakan healing remedy. Jadi, jika terbiasa menulis, kita bisa menjadi pribadi yang lebih sehat
Kesimpulannya, kenapa perlu menulis setiap hari adalah; Karena seorang penerbit buku sejati, bukanlah orang yang meminta bantuan orang lain untuk menuliskan naskah bukunya.
Melainkan orang yang memiliki kemampuan untuk menuliskan sendiri naskahnya secara mandiri.
            Bagimana kemampuan itu diasah? (HOW)
Dengan cara berkomitmen untuk tidak melewatkan 1 hari pun dalam hidup kita TANPA MENULIS. Seberapa banyak? Bisa 1 hari 1 artikel. Nah kalau ukurannya jumlah artikel, berarti tidak ditentukan jumlah katanya. Ditahap belajar ini, sebaiknya kita tidak terlalu baper soal ada yang baca apa nggak. Karena kalau orang lain baca pun belum tentu feedbacknya positif .
WHAT makes you write something? Apa sih yang menjadi mendorong Anda untuk menulis?
1. Karena UANG
Ada orang yang menulis agar mendapatkan uang? Ada. Dulu, narsum pernah berada di level itu. Narsum menulis untuk mendapatkan uang, karena narsum butuh untuk biaya sekolah. Apakah berhasil? Lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Lebih banyak naskah yang dikembalikan redaksi daripada diterbitkan. Saat itulah kemudian narsum sadar bahwa, menulis karena ingin mendapatkan uang; bukanlah nilai pribadinya. Dan sampai sekarang, menulis BUKAN untuk uang.
2. Dorongan INGIN BERBAGI PENGETAHUAN. Nah, yang ini paling sesuai dengan jiwa pendidik. Menjadikan uang sebagai pendorong utama dalam menulis. Boleh saja. tidak masalah. Tapi nanti seiring berjalannya waktu kita akan menemukan apa dorongan yang paling cocok buat kita.
Lalu kalau menulis setiap hari Idenya dari mana?
Nah ini penting disampaikan. Segala hal yang bisa ditangkap oleh panca indra kita adalah sumber ide. Tinggal kita olah saja. Pegang teguh prinsip itu. Jumlah rangsangan menulis itu TAK TERHINGGA. Maka itu berarti bahwa sumber ide penulisan kita bisa SAAAANGAT banyak. Dan karena rangsangan itu selalu ada setiap hari, maka kita semua sebenarnya bisa menulis setiap hari.

Berapa lama mengasah menulis dan seperti apa strategi memilih penerbit yang sesuai dengan buku yang akan kita terbitkan?
Beliau mengasah menulis selama 40 tahun dan mulai menulis sejak SD, aktif sekali SMP sampai ikut lomba-lomba. Diercaya penerbit sekitar 10 tahun lalu. Jadi butuh 30 tahun perjalanan terlebih dahulu. Kalau kita masih pemula, sebaiknya tidak usah menerapkan terlalu banyak kriteria penerbit. Karena kita yang masih pemula butuh mereka. Strateginya paling gampang adalah terus ikut kursus menulis konsultasi kepada narasumber.

Themanya apakah harus terstruktur; berapa banyak kah kita harus nulis per harinya; untuk masa berapa lama tulisan trsebut kita kumpulkan?
Pokoknya menulis saja setiap hari tak takut salah. Yang penting kemauan untuk menulis dan bersedia menerima masukan orang lain untuk perbaikan. Target satu hari satu karya tulis. Sifatnya bebas, yang penting bsa menampung buah pikiran dan pembaca bisa mengerti.

Dari mana awalnya bercerita jika ingin menuliskan tentang kisah Anak Istimewa yaitu Dunia Tanpa Suara?
Itu topik yang keren. Dari kalimat "DUNIA TANPA SUARA" saja sudah mengundang pertanyaan orang. Contoh
Parafraf 1: Hey kamu. Pernahkah kamu membayangkan bagimana seandainya tidak seorang pun bersuara didunia ini. Tentu akan sepi sekali harimu kan? Tapi. bisakah kamu membayangkan seandainya hal itu benar-benar terjadi? Sekarang. Coba pejamkan matamu. Lalu bayangkan. Andai saja tak segencring suara pun tertangkap pendengaranmu.
Eh, tapi. menurut kamu. Apakah mungkin telingamu benar-benar tidak bisa mendengat bahkan sekedar bunyi 'ting' pun? Nggak ya. Nggak mungkin kamu nggak dengar bunyi anakku. Tahu kenapa? Karena ketahuilah sayang, bahwa Allah sayang banget sama kamu. Sehingga engkau bisa mendengar berbagai macam suara.
Nak. Kamu sudah bersyukurkah dengan karunia indah itu? Karena ada loh, di desa sebelah. Seorang gadis yang tidak seberuntung kamu, sayang. Tapi sejak lahir sampai usianya yang menginjak 15 itu, tidak pernah mendengar apapun ditelinganya selain hening semata. Hebbbatnya..., gadis itu tidak pernah mengeluh nak. Tidak pernah pula sekalipun dia bersedih. Pokoknyaaa... a-... aaapa ya. Ehm, ibu...ibu kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kemulian dirinya dibalik heningnya dunianya. Jika kamu tidak keberatan, sayang. Bolehkan Ibu mencari tahu lebih banyak tentangnya dan menceritakan kisah indah tentang gadis itu kepada hari Jumat nanti?
Kesimpulan: orang bilang memulai itu sulit sekali. Narsum saya bilang: MULAI SAJA SARI SEBUAH KATA yang terlintas dalam pikiran Ibu. Insya Allah. nanti akan mengalir dengan sendirinya. Dan kalau saya, biasanya sebelum menulis bilang begini: Ya Allah, apa yang saya harus tuliskan hari ini? Bimbing saya ya Allah ya.

Bagaimana caranya supaya tetap pede dan semangat untuk bisa menulis dan supaya ide itu ga hilang.
Kalau kita kan ingin menjadi penulis terampil, maka "GHOSTWRITER"  bukan opsi yang tepat buat kita. Mengenai tidak pede. Itulah sebabnya tadi saya sampaikan bahwa dalam proses latihan menulis, kita tidak perlu terikat dengan target berapa jumlah kata. Latih terus aja. Bikin tulisan terus. Kalau belum berani menunjukkan tulisan itu pada orang lain, biarin aja jadi koleksi pribadi kita. Sambil terus memperbaiki tekniknya. Nanti kalau sudah ada tulisan yang 'layak' dicobain ke orang lain, tunjukkan saja. Kalau bisa, pilih orang yang tidak akan bersikap negatif. Kesimpulan: Banyak orang tidak pede saat mau menuangkan gagasan lewat tulisan. Saya bilang, hey boleh jadi seseorang sedang menanti buah pikiran mu untuk dibacanya dengan penuh kekaguman. So menulislah.

Menulis judul dulu atau artikel dulu untuk menjadi sebuah buku?
Dulu buku saya yang judulnya "OUTSHINE" diberi judul duluan. Naskahnya ditulis belakangan. Sedangkan buku "KETIKA SEMUT DAN GAJAH BEKERJA" ditulis naskahnya duluan. Jadi, tidak ada keharusan menulis judul dulu atau naskah duluan.

Tulisan-tulisan di kompasiana yang tidak banyak pembacanya bisakah dijadikan buku kompilasi?
Kalau sebuah tulisan sedikit yang baca, TIDAK BERARTI tulisannya tidak bagus. Bisa saja tempat penayangannya yang kurang tepat. Tulisan-tulisan Bapak bisa dibuat kompilasi.

Bagaimana menjaga keistiqomahan menulis setiap hari?
Itulah pentingnya menemukan WHAT MAKES YOU WRITE yang tadi kita bahas. Karena hal itu akan menentukan tingkat istiqomah kita. Tapi jawaban dari WHAT tadi sifat individual. Kalau kita menulis karena uang, maka bakal berhenti ketika hasil karyawa kita nggak jadi uang banyak. Tapi kalau kita punya alasan yang lebih tinggi lebih mulia lebih bernilai Insya Allah akan istiqomah.
Ada baiknya menulis lebih karena ingin agar Allah mengajari saya sesuatu. Lalu yang Allah ajarkan itu dibagikan kepada orang lain. Dengan itu, maka selalu tanya; Ya Allah, hari ini saya bisa belajar apa? Dapat jawabannya dituliskan. Lalu dibagikan. Dengan demikian, maka gagasan saya bisa lebih cepat sampai kepada orang lain

Kesimpulan: Temukan, hal apa yang bisa membuat seseorang ingin menulis. Atau apa tujuan menulis. Jika sudah ketemu, nanti akan dengan sendirinya menulis secara produktif.