Jumat, 05 Juni 2020

CERPENTING (Cerita Pendek tidak Penting)



Materi             : Cerita Pendek tidak Penting (Cerpenting)
Waktu             : Kamis, 4 Juni 2020
Narsum           : Om Budiman Hakim

Malam ini Om Budiman Hakim akan membawakan materi yang bikin addict semua peserta The Writers. Apa itu? Judulnya "Cerpenting!" Seperti biasa, kalo teman-teman sudah ada pertanyaan walau belum saatnya sesi Tanya Jawab, tulis saja langsung ke WA saya di 087778031272:
Kemaren malam kita sudah belajar mendalami Creative Attitude. Kita sudah belajar bagaimana menulis komen di postingan orang lain. Kita udah belajar menulis caption di aplikasi Instagram sebagai sarana latihan menulis yang menyenangkan. Malam ini kita akan lanjut dengan membuat cerita. Ati2…malam ini ada PR, loh. Hehehehe…RASAIN!!! 
Sebelum kita mulai membuat cerita, kita harus punya pemahaman yang sama dulu, yaitu: Cerita yang bagus adalah cerita yang MENGGUGAH EMOSI. Apa sih yang dimaksud dengan menggugah emosi? Begini....
Kalo kita menulis cerita humor dan pembaca sampe ketawa terpingkal-pingkal, berarti cerita kita sukses. Kalo kita bikin cerita drama tragedi sampe membuat pembaca berurai air mata, artinya cerita kita berhasil. Pokoknya asal cerita kita mampu menggerakkan emosi pembaca, misalnya sedih, ketawa, marah, kagum, kesel dll...dll maka kita boleh menepuk dada bahwa tulisan kita sudah keren. Tapi dengan catatan bahwa perubahan emosi tersebut harus dalam konteks positif.
Cerita yang menggugah EMOSI seperti itu, sering disebut dengan cerita yang mempunyai SOUL (nyawa). Bagaimana menulis cerita yang MENGGUGAH EMOSI sehingga cerita tersebut mempunyai nyawa? Gampang! Sebelum kita mulai, saya akan bercerita dulu. Boleh ya? Judul cerita saya adalah: MISTER DATA BERPUISI.
Kalian semua tau film Star Trek, kan? Star Trek adalah sebuah film futuristic yang bercerita tentang petualangan sekelompok orang dengan kapal ruang angkasa Enterprise mengembara galaxy.
Ekspedisi itu dipimpin oleh Captain Piccard seorang kapten yang berkepala botak. Buat yang belom pernah liat, silakan cari di Youtube.

Ini boss pesawat tersebut: Captain Picard

Di dalam kapal itu, ada dua orang crew yang bersahabat. Yang satu bernama Lieutenant Commander Geordi La Forge, seorang teknisi yang selalu menggunakan visor, sebuah  alat bantu penglihatan. Visor adalah singkatan dari  "Visual Instrument and Sensory Organ Replacement".
Ini yg namanya Commander Geordi dengan visornya.



Sahabatnya bernama Mr. Data. Kenapa dinamakan Data? Karena Mr Data sebenernya bukan manusia. DATA  adalah robot yang berupa sebuah rekayasa android yang sangat pintar. Hampir tidak ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Data karena di kepalanya telah ditanam berjuta-juta data. Itu sebabnya dia dinamakan Mr. DATA. Sedangkan Geordi adalah teknisi yang selalu menservis mesin di dalam kepala data.
Perjalanan menyusuri berbagai galaxy tentunya memakan waktu yang sangat panjang.
Untuk menghilangkan rasa bosan, secara berkala para crew sering berkumpul di sebuah lounge dalam pesawat. Di sana mereka mengadakan acara pesta dansa, diskusi ringan, main musik,  atau kegiatan literasi. Saat itu ada acara pembacaan puisi dari Captain Picard. Puisi2 tersebut diciptakan dan dibawakannya sendiri.
Puisi-puisi Sang Kapten itu begitu indah sehingga semua penonton di lounge bertepuk tangan riuh sekali. Semua memuji kepiawaian Sang Kapten dalam menciptakan puisi. Kemampuannya mengolah kata bener2 luar biasa. Padahal Captain Picard belom pernah belajar di komunitas The Writer loh...
"Kenapa orang begitu kagum pada puisi Captain Picard?" tanya Data pada sahabatnya. Saat itu Geordi sedang mereparasi sirkuit komputer yang ada di kepala Data.

"Karena puisinya bagus," jawab Geordi sambil membuka kepala Data lalu menancapkan stop kontak di kepala temannya. "Ah, cuma gitu doang! Saya juga bisa membuat puisi seperti itu.” kata Data. "Sumpe looo?” kata Geordi gak percaya. “Bukan cuma bisa. Bahkan saya mampu membuat puisi yang jauh lebih bagus daripada yang dibuat oleh Captain," tukas Data.

"Serius? Kenapa kamu gak buat? Nanti saya bookingin lounge untuk acara pembacaan puisi kamu," kata Geordi lagi sambil menyetrum Data untuk menambah tenaganya. Data menengok ke arah sahabatnya, “Kamu mau membantu mengurus acara pembacaan puisi saya?” “Sangat serius! Toss?” ajak Geordi mengajak toss.
TOSS! Kedua telapak tangan saling bertepuk menandakan sebuah kesepakatan terjadi.
Singkat kata, pembacaan puisi pun terlaksana. Dengan suara mantap, Mr Data membaca untaian kata yang diciptakannya. Rangkaian kata-kata indah mengalir dari mulutnya...tapi apa reaksi penonton?
Believe it or not, gak ada satupun yang memberi apresiasi. Memang ada beberapa orang yang bertepuk tangan tapi hanya karena rasa kasihan pada si pembaca puisi. Lalu sebenernya apa yang terjadi? Selesai acara, Data menemui Geordi dan bertanya, "Kenapa tidak ada orang yang mengapresiasi puisi saya?"
"Karena kamu sudah berkoar-koar mengatakan bahwa puisi kamu lebih bagus daripada puisi Captain Picard dan nyatanya tidak," sahut Geordi.
"Jadi menurut kamu, puisi saya lebih jelek daripada punya Kapten?"
"Jelek, sih, nggak tapi puisi Kapten lebih bagus," sahut Geordi lagi.
"Kenapa puisi Kapten lebih bagus? Pilihan kata saya lebih indah. Secara matematis jumlah huruf dalam setiap kata sama, jumlah suku kata, kata dan kalimat juga jumlahnya sama. Secara algoritma, rangkaian kata yang saya pilih pertautan maknanya jauh lebih match satu sama lain.” Bantah Data lagi.
Geordi tidak menjawab. Matanya menatap Data dengan paras iba. “Saya justru merasa pilihan kata-kata Kapten sering kacau dan tidak berhubungan satu sama lain." tambah Data lagi.
"Masalahnya bukan di kata-kata, Data," Geordi berusaha menerangkan.
"Jadi apa masalahnya?" tanya Mr Data lagi.
"Seperti kamu bilang, puisi kamu adalah rangkaian kata-kata indah yang kamu gabungkan secara matematis." kata Geordi.
"Lalu kenapa?"
"Your poem is only words. There is no SOUL and there is no EMOTION  in your poem," kata Geordi lagi. Lalu apa jawab Mr Data?
"Of course, not! I am Android. I have no SOUL. I have NO EMOTION." jawab Data lagi dengan lugu.
______________Tamat

Pas di adegan ini saya terharu sampe mau nangis sekaligus geli melihatnya. Ingat! Data adalah seorang robot tentu saja dia tidak punya JIWA dan pastinya tidak punya EMOSI. Teman-teman sekalian, Jack Ma pernah ngasih kuliah di sebuah Universitas di Amerika. Ajarilah anak-anak kamu sesuatu yang berhubungan dengan kreativitas. Jangan ajari anakmu ilmu yang dapat dipelajari oleh robot. Kalo soal data, robot itu jauh lebih pintar dari manusia. Tapi soal kreativitas robot tidak bisa melakukannya. Karena berkarya itu soal rasa. Berkarya itu perkara emosi.
Dari cerita di atas dapat kita simpulkan bahwa sebuah karya kreatif haruslah diciptakan dengan HATI. Sebuah karya yang bagus adalah yang mampu menggugah EMOSI. Emosi itulah yang memberi NYAWA pada tulisan kita.
Perlu diingat baik-baik bahwa BERKARYA ITU MUDAH, YANG SUSAH ADALAH MEMBERI NYAWA PADA KARYA ITU. FAKTOR EMOSI DALAM SEBUAH KARYA
Dari apa yang dialami oleh DATA, kita tentu sepakat bahwa sebuah KARYA YANG BAGUS ADALAH YANG ADA EMOSINYA. Sebuah tulisan yang bagus adalah yang mampu MENGGUGAH EMOSI PEMBACANYA
Seperti yg saya katakan di atas, Jadi ketika kita membaca novel sampai berurai air mata, berarti novel tersebut sukses. Ketika kita nonton film komedi  dan kita tertawa terbahak-bahak sepanjang film, berarti film tersebut sukses.
Bisa diambil kesimpulan bahwa kebagusan sebuah karya dapat dinilai dari seberapa besar karya tersebut mampu menggugah emosi kita. Sebaliknya, ketika dalam kehidupan sehari-hari kita mengalami perubahan emosi, Itu berarti kita mendapat berkah dari Tuhan untuk berkarya. Coba dibaca beberapa kali tulisan saya yang terakhir. Karena bagian itu adalah intisari dari materi malam ini. Saya ulang ya: Sebuah tulisan yang bagus adalah yang mampu menggugah EMOSI pembacanya. (Pointnya ada di kata EMOSI).
Jadi ketika kita mempunyai pengalaman yang menggugah EMOSI, berarti pengalaman itu adalah bahan yang bagus untuk diceritakan, bukan? (Pointnya juga EMOSI). Bisa dipahami bukan? Kalo paham, setuju, kan? Jadi, mulai sekarang, ketika kita ngakak mendengar lelucon teman kita…maka tertawalah sepuas-puasnya. Joke tersebut ternyata telah menggugah hati kita dari titik netral sampat tertawa terbahak-bahak.
Tapi ingat! Dan ini penting sekali! Setelah selesai tertawa, tanyakanlah pada diri sendiri, “BISA KITA JADIKAN TULISAN APA JOKE TERSEBUT?” Ketika kita merasa geli ngeliat kelakuan anak kita yang masih kecil. Setelah puas tertawa, tanyakan BISA JADI TULISAN APA PERISTIWA TERSEBUT? Atau kita ditipu oleh teman baik kita sendiri. Kita MARAH dan KECEWA berat kenapa sahabat kita bisa jadi sejahat itu? Pertanyaannya masih sama, “BISA KITA JADIKAN TULISAN KEREN GAK PERUBAHAN EMOSI TERSEBUT?”
Saya menyimpulkan bahwa setiap kali ada perubahan emosi, itu berarti kita mendapat ide untuk menulis. Dan tulisan kita pasti jadinya bagus! Kenapa? Karena sudah terbukti bahwa peristiwa tersebut telah berhasil menggugah emosi kita. Ingat! Kita sudah melihat nasib Mr. Data yang karyanya tidak ada emosinya, kan? Kita sudah sepakat bahwa sebuah karya yang bagus adalah yang mampu menggugah emosi. Artinya kalo kita merasa ada perubahan emosi maka kita telah mempunyai ide untuk ditulis. Dan hebatnya lagi, dalam proses penulisan itu kita bahkan bisa mengemasnya dengan menambah dramatisasi sehingga tulisan kita akan jadi lebih bagus dari seharusnya.
Mungkin perlu saya ingatkan bahwa kita telah belajar creative attitude sehingga kita tidak perlu seperti Farhan yang membutuhkan pemicu berupa gelombang Tsunami yang merenggut nyawa keluarganya untuk menulis. Kita tidak perlu begitu. Untuk mendapatkan pemicu, kita cukup memperhatikan apa yang terjadi di sekitar kita. Setiap kita mengalami perubahan emosi maka tuliskanlah peristiwa itu. Mungkin kita belum tahu mau dijadikan apa tulisan tersebut. Apakah mau dijadikan novel, skenario film atau mau jadi status Facebook, cuek aja! POKOKNYA TULIS AJA DULU. Kemarin kita sudah belajar latihan  menulis yang menyenangkan lewat IG.
Malam ini, untuk memudahkan latihan menulis cerita yang MENGGUGAH EMOSI, saya telah menciptakan sebuah metode latihan menulis yang juga menyenangkan. Metode ini saya kasih nama CERPENTING. Singkatan dari Cerita Pendek Tidak Penting.

Cerita Pendek Tidak Penting
Cerpenting adalah menuliskan peristiwa-peristiwa REMEH yang terjadi di sekeliling kita. Meskipun ceritanya sepele. Meskipun ceritanya tidak penting ternyata kita ketawa atau terharu atas peristiwa itu. Jadi tuliskanlah peristiwa tersebut. Tapi perlu dipahami benar ya bahwa ceritanya harus benar-benar TIDAK PENTING.
Kalo kalian menuliskan dilema diajak pacar untuk pindah agama maka itu cerita penting. Kalo kalian bercerita tentang anak yang terpengaruh temannya nyoba-nyoba narkoba maka itu cerita penting. Cerpenting haruslah cerita yang tidak penting. Itu sebabnya METODE LATIHAN MENULIS ini disebut cerpenting = Cerita Pendek Tidak Penting.
Ceritanya terserah dan bisa macem-macem. Seenak kalian aja. Pokoknya ada sesuatu yang menggugah emosi.....TULISKAN! Jadi kalo kalian menemukan sesuatu yang lucu di angkot, ngeselin di warteg, atau ngakak di Pos Yandu....pokoknya apa aja, TULISKAN! Cari cerita yang paling REMEH tapi bikin kita ketawa, marah, terharu, pokoknya semua rasa yang yang menggugah emosi kita.
            Yang punya anak kecil pastinya sering ngakak ngeliat kelucuan anaknya, bukan? TULISKAN! Atau kita lagi naik motor terus keabisan bensin sementara kita juga lupa bawa duit karena gak sempet ke ATM. Udah jauh-jauh dorong motor pas sampe ternyata mesin ATMnya rusak. Ngeselin, kan? TULISKAN! Atau kalian mau cerita horor waktu dikejar-kejar oleh kecoa terbang? TULISKAN! Pokoknya pengalaman remeh apapun yang kalian alami, selama itu menggugah emosi? TULISKAN! Terserah kalianlah apa yang mau ditulis.
Teman-teman, perlu dicatat! Menulis cerpenting memang menuliskan sesuatu yang TIDAK PENTING tapi manfaatnya SANGAT PENTING. Kenapa? Kalo kita bisa menggugah emosi pembaca dengan topik yang SANGAT SEPELE, apalagi kalo kita menuliskan hal yang SANGAT PENTING.
Pastinya tulisan kalian bakalan jadi bagus banget. Jika sudah terbiasa menulis cerpenting maka kita akan selalu mendapat pemicu untuk menulis. Kenapa? Karena otomatis creative attitude kita terbangun! Kalo kita terbiasa mampu menulis dengan pemicu-pemicu sepele maka kita gak butuh pemicu yang besar seperti gelombang Tsunami atau penderitaan hidup untuk menulis.
Metode cerpenting akan membuat kita terlatih untuk menulis hal-hal sepele namun MENGGUGAH EMOSI. Gak usah mikirin apa gunanya tulisan itu. Anggap aja itu adalah latihan menulis yang menyenangkan. Kenapa menyenangkan? Karena kita mengalaminya sendiri dan terbukti menggugah emosi, jadi gak ada salahnya kita abadikan.
Supaya ceritanya makin seru, tambahkan dramatisasi. Berikut beberapa contoh cerpenting yang pernah saya tulis.
BACA BUKU LOMPAT-LOMPAT
Sedang asyik makan Ifumi di sebuah resto kecil di Senayan City, tiba-tiba seorang perempuan datang mengagetkan saya.
“Om Bud. Wah, kok bisa ketemu di sini kita,” kata Indri. Dia adalah temen saya di industri periklanan.
“Hey, Indri. Pakabar lo?” tanya saya lalu cipika-cipiki dengannya.
Dengan cuek Indri langsung bergabung di meja saya lalu berkata, “Om Bud, gue udah baca buku lo yang judulnya STORYTELLING. Bagus banget! Gue suka.”
“Kok bisa bilang bagus? Emang lo udah abis bacanya?” tanya saya.
“Belom, sih,” katanya, “Abis gue bacanya lompat-lompat.”
Saya berhenti menyuap ifumi, memegang pundaknya lalu berkata, “Lain kali kalo baca buku, lo harus duduk. Kalo lompat-lompat ya susah nyelesainnya.”
“HAHAHAHAHAHAHAHA….Gila lo!!!”

Coba perhatikan cerita sedehana ini. Lucu, kan? Dan hebatnya lagi, cerita ini bisa kita bikin versi videonya.  Maka jadilah konten menarik yang bisa kita posting di IG, Youtube dll.
CERPENTING #2

PERCAKAPAN DI SEBUAH BAR

Saat itu saya sedang berada di sebuah kafe dan duduk di bar bersama Boni. Karena home band yang main gak bagus, akhirnya kami memutuskan untuk ngobrol aja ngediskusiin band-band yang kami suka.
“Eh, Bon. Lo tau Superman is dead?” tanya saya.
Di luar dugaan Boni menjawab,
“Hah? Innalillahiiii….Kapaaan????” tanya Boni.
Hahahahahahaha…tentu saja saya ngakak abis mendengar omongannya.

Coba perhatikan cerpenting di atas. Gampang banget kalo mau dijadikan konten video. Luar biasa kan manfaat cerpenting? Jadi mulai sekarang, setiap kalian tergugah emosinya, tolong dicatat. Simpan di laptop. Kumpulkan dalam satu folder dan beri nama ‘SUMBER IDE’. Setiap kali kita butuh ide untuk mengisi konten di social media atau kita butuh ide untuk mengiklankan sebuah brand, kita tinggal buka folder itu.
Kalo kita mau lebih peka terhadap apa yang terjadi pada kita sehari-hari, sebetulnya ada banyak yang bisa kita tuliskan dalam cerpenting.
CERPENTING 3

OH, MAMA, OH, PAPA. TERNYATA ANAKKU JUGA SUAMI ISTERIKU
Anak saya yang nomor satu namanya Leon. Sejak lahir, dia selalu tidur dalam box yang diletakkan persis di samping tempat tidur orang tuanya. Ketika berusia 1 tahun, dia sudah kami tempatkan di kamar sendiri. Walaupun demikian, ibu atau ayahnya masih bergantian menemaninya tidur sampai pagi.
Setelah umurnya mencapai 3 tahun, Devina, istri saya, mulai berpikir untuk melatih anak kami belajar tidur sendiri. Proses belajar tidur sendiri ini tentu saja harus dilakukan tahap demi tahap. Awalnya Sang Ibu masih menemani sampai si anak terjatuh dalam lelap. Setelah yakin Leon tidur nyenyak, Vina pun dengan langkah perlahan meninggalkan kamar tidur Si Anak.
Sayangnya, di tengah malam, anak saya sering terbangun dan kaget ketika menemukan Ibunya sudah tidak berada lagi di sampingnya. Dengan penuh angkara murka, dia masuk ke dalam kamar kami dan langsung protes, "Kok Bunda ninggalin Leon, sih?"
Sang Ibu dengan suara mengantuk berkata, "Iya, Leon kan sudah tidur, jadi bunda pergi ke kamar bunda."
"Kenapa harus pindah? Kenapa gak tidur sama Leon sampe pagi?"
"Karena Leon harus belajar tidur sendiri."

"Kalo Leon harus tidur sendiri, kenapa Bunda pindah ke sini? Kenapa Ayah juga gak tidur sendiri?"
"Karena Bunda harus tidur sama Ayah."
"Kenapa harus tidur sama Ayah? Kenapa gak sama Leon aja?"
"Soalnya seorang istri harus tidur sama suaminya."
"Suami Bunda siapa?"
"Suami Bunda, ya, Ayah."
"Jadi itu Ayah atau Suami?"
Hehehehe....susah juga ya ngajarin konsep keluarga pada anak kecil. Gimana cara neranginnya coba? Untungnya istri saya sabar banget sama anaknya.
"Ini Pak Budiman Hakim adalah ayahnya Leon. Jadi dia bukan ayahnya bunda tapi suami bunda."
"Istri Leon siapa? Leon mau tidur sama istri Leon," desak anak itu lagi dengan suara dongkol.
Saya yang juga turut terbangun tidak komentar apa-apa. Coba bayangin; ada anak berumur 3 tahun, jam 3 pagi ngajak diskusi tentang siapa yang berhak tidur sama Bunda bahkan sampe menanyakan di mana istrinya segala. Puyeng, kan?
Dengan sabar, istri saya menerangkan, "Leon masih kecil jadi belom punya istri. Kalo udah gede baru Leon boleh punya istri."
"Jadi yang namanya istri harus selalu tidur sama suaminya?"
"Iya betul. Leon itu anak Bunda. Ayah adalah suami Bunda. Seorang istri harus tidur sama suaminya."
Akhirnya karena udah terlalu ngantuk, saya berusaha mengakhiri diskusi yang berat itu, "Yuk sini, Le. Malam ini kita tidur bertiga."
"Yeay!!! Asyik kita tidur bertiga," Sambil ngomong begitu Leon melompat ke ranjang dan tidur mengambil posisi di tengah Ayah dan Ibunya.
Esok malamnya peristiwa berulang. Leon termasuk light sleeper atau orang yang mudah sekali terbangun walaupun hanya oleh gangguan sekecil apapun. Setelah ditinggal ibunya dalam lelap sendirian di kamarnya, jam 3 pagi Leon terbangun dan menyusul ibunya ke kamar kami. Diskusi pun terjadi dengan kalimat-kalimat yang kurang lebih sama.
"Denger ya, Leon. Kamu harus belajar tidur sendiri. Bunda harus tidur sama Ayah. Kenapa?"

"Karena Ayah adalah suami Bunda," sahut Leon.
"Nah, itu udah ngerti. Kenapa kok Leon masih juga mau pindah ke kamar Bunda?"
Kembali saya menengahi diskusi jam 3 pagi yang berat itu, "Sini Leon. Malam ini kamu boleh tidur di sini."
"Yeay!!! Kita tidur bertiga lagi. Horeeee...!!!" Leon melompat dan langsung menempatkan diri di antara kedua orang tuanya.
Di sebuah hari Sabtu, kami semua tidak punya rencana untuk ke luar rumah. Pagi hari, kami sarapan bertiga menikmati nasi uduk dengan semur tahu, irisan telor dadar, bawang goreng, dengan saus bumbu kacang. Sarapan bersama adalah sebuah situasi favorit kami sekeluarga. Biasanya kami berdiskusi tentang apa saja. Vina bercerita seputar kejadian di kantornya, begitu juga saya. Leon juga akan bercerita segala peristiwa yang terjadi di sekolah playgroupnya.
"Bunda..." Tiba-tiba Leon berkata.
"Ya, Le. Kamu mau ngomong apa?" tanya Vina.
"Mulai hari ini, Leon gak mau lagi jadi anak bunda."
"Hah??" Tentu saja kami berdua kaget bukan kepalang.
"Kenapa begitu, Le?" tanya saya was-was ada sesuatu yang terjadi.
"Mulai hari ini, Leon mau jadi suami Bunda," kata Leon lagi dengan tekanan suara sangat tegas.
"Haaah???" Kembali kami berdua kaget bukan kepalang.
"Emang Leon gak suka jadi anak Bunda," tanya ibunya.
"Suka sih. Tapi Leon lebih suka jadi suami Bunda."
"Karena?" tanya saya.
"Karena kalo Leon jadi suami Bunda berarti Bunda harus tidur sama Leon."
"Hahahahahaha...." Kami berdua ngakak mendengar ucapan Si Kecil.
"Kalo bunda tetep mau tidur sama Ayah, gimana dong, Le?" tanya saya lagi.
"Gak bisa! Seorang istri harus tidur sama suaminya," tambah Leon lagi.
"Hahahahahahahaha....." Kami berdua langsung ngakak tambah kenceng.
            Peristiwa Leon ingin menjadi suami Bunda itu buat saya sangat lucu dan saya ceritakan di group WA keluarga Hakim. Semua orang juga ngakak mendengar cerita itu. Nah, setiap ada pertemuan keluarga, selalu saja ada orang yang jail dan menunjuk-nunjuk istri saya sambil bertanya, "Leon, itu siapa Leon?"
"Itu Bunda," jawab Leon.

"Terus, Leon apanya Bunda?" tanya orang itu lagi.
"Suami!" Dengan suara tegas Leon menjawab pertanyaan itu.
HAHAHAHAHAHAHA.....!!!!

Cerpenting adalah cerita yang menggugah emosi. Dan 'marah' cuma salah satu di antaranya. Biar lebih jelas saya kasih contoh yang bukan cerpenting lucu.

CERPENTING #4

BAPAK PENJAGA PINTU TOL
Seperti biasa pagi itu saya pergi ke kantor dari rumah saya di Cibubur. Di gerbang Tol Kampung Rambutan, menuju ke Jalan Tol TB Simatupang, saya berhenti. Tidak seperti biasanya, si penjaga Tol menyapa saya. Padahal biasanya nengok ke kita pun kagak. Umumnya penjaga Tol cuma nadahin tangan doang lalu menyambar uang kita tanpa mengucapkan sepatah kata.
“Selamat pagi,” katanya dengan suara lantang dan riang.
“Selamat pagi juga,” sahut saya sambil menyerahkan uang sebesar Rp 20.000.
Sambil menunggu uang kembalian, saya menatap ke arah penjaga tol itu. Dia seorang laki-laki berkulit gelap, berusia sekitar 50 tahun. Wajahnya sama sekali gak ganteng tapi tampak berseri-seri dengan senyum kecil yang gak pernah lepas dari bibirnya. Saya suka ngeliat parasnya. Tipe orang yang menikmati hidup dan senantiasa bersyukur dengan apa yang dimilikinya.
“Terimakasih banyak, Pak. Hati-hati ya mengemudi,” kata Bapak itu lagi seraya menyerahkan uang kembalian ke saya.
Sungguh sejuk perasaan ini. Cara Bapak itu mengucapkan terimakasih terdengar begitu tulus ke luar dari hatinya. Bukan hapalan yang diperoleh dari training perusahaannya. Saya jadi semangat mengawali hari dengan dibekali keramahan seperti tu.
Besok paginya, saya ketemu lagi sama Bapak itu. Dan sikapnya masih seperti kemaren. Ramah dan penuh energi. Bahkan yang lebih hebatnya lagi, dia ternyata masih mengenali saya.
“Wah ketemu lagi kita. Selamat pagi, Bapak,” sapanya sambil meraih uang dari tangan saya.
“Selamat pagi juga. Kok bisa bisa inget sama saya?”

“Ya inget dong. Masa baru sehari lupa?” sahutnya dengan jawaban sederhana lalu melanjutkan, “Ini kembaliannya. Terimakasih dan hati-hati di jalan, ya?”
“Terimakasih juga,” sahut saya sambil berlalu memasuki jalan Tol.
Begitu berpengaruhnya keramahan Si Bapak sehingga setiap hari saya memerlukan diri untuk selalu memilih gerbang Tol tempat Pak tua itu bermarkas.
Hari demi hari, hubungan kami semakin lama semakin akrab walaupun pembicaraan tetap gak lebih dari sekedar ucapan terimakasih dan hati-hati di jalan doang. Abis gimana lagi? Kami gak sempet berbicara lebih banyak karena mobil-mobil di belakang udah neror dengan klaksonnya.
Sampai suatu hari Bapak itu menghilang. Gak jelas ke mana. Konon kata orang dia dipindah ke Gerbang Tol lain tapi gak tau Gerbang Tol yang mana. Dan percaya gak? Saya sedih loh. Aneh deh, rasanya ada yang hilang, rasanya gak asyik mengawali hari tanpa keramahan Si Bapak.
Dan ternyata bukan saya aja yang merasakan hal itu. Isteri saya juga merasa kehilangan. Dan yang lebih aneh lagi, ketika kami lagi ngumpul-ngumpul bersama temen-temen satu komplek, mereka juga sedang membicarakan Si Bapak penjaga Pintu Tol. Keramahan Bapak itu ternyata telah memberi bekas yang mendalam di hati banyak orang. Bayangkan, begitu hebatnya ucapan terimakasih kalo diucapkan dengan hati yang tulus.
Saya gak tau Bapak Penjaga Pintu Tol itu berada di mana tapi dia telah meyakinkan saya bahwa kata ‘Terimakasih’ yang tampak begitu sepele ternyata bisa begitu berarti bagi orang lain. Saya sangat berterimakasih pada Bapak Penjaga Pintu Tol atas keramahannya yang telah membuat saya bersemangat dan optimis menghadapi hari yang saya hadapi.
Terima kasih atas pelajaranmu, Bapak. Semoga Tuhan selalu melindungi Bapak sekeluarga._____________

CERPENTING #5

TRANSFER PANAS AYAH DAN ANAK
Pulang sekolah, anak saya, Leon, tampak lesu dan gak bersemangat. Dia melemparkan tas sekolah lalu membanting tubuhnya ke atas sofa. Saya agak heran ngeliat kelakuannya karena anak ini biasanya selalu ceria. Wah, jangan-jangan dia abis dimarahi guru atau berantem sama temennya, pikir saya.
“Kamu kenapa, Le?” tanya saya dengan suara pelan.
“Gak kenapa-kenapa,” sahut yang ditanya dengan suara lemes.
“Kamu dimarahin sama guru, ya?” tanya saya lagi.
“Enggak,” jawab Leon lagi.
“Berantem sama temen, ya?” desak saya terus menyelidik.
“Nggak, lah. Temen-temen Leon baik semua,” jawab Si Kecil lagi dengan suara yakin.
Sejenak kami berdua terdiam. Saya masih mikir, kira-kira kenapa ya anak ini? Pasti ada Pasti ada sesuatu yang terjadi.
“Halo-halo, kita makan otak-otak, yuuuuk?” Sekonyong-konyong suara isteri saya terdengar dari meja makan.
“Yuuuuk!” sahut saya lalu menoleh ke arah Leon, “Ayo Leon. Kamu kan suka banget sama otak-otak.”
Dengan ogah-ogahan, Leon bangkit dan bergabung bersama Bundanya di meja makan.
Leon saat itu baru berusia 4 tahun. Dia suka banget makan otak-otak. Biasanya kalo lagi ngambek terus kita suguhin otak-otak, dia langsung ceria kembali. Namun, sekarang dia cuma mengunyah satu otak-otak lalu bengong duduk di meja makan tanpa berusaha nambah lagi.
“Kok dikit amat makannya, Le?” tanya isteri saya.
“Leon gak napsu makan, nih,” jawabnya.
“Kamu sakit, Le?” tanya saya.
“Gak sih. Cuma gak napsu makan aja. Rasanya mau muntah, “ jawab anak itu dengan pandangan sayu.
Saya otomatis memegang dahinya dan alangkah terkejutnya ketika saya merasa badannya panas bukan main.
“Vin, Leon demam tinggi, nih,” teriak saya pada ibunya dengan panik.
“Bentar-bentar. Gue ambil termometer dulu. Kita ukur panasnya,” sahut isteri saya sembari berjalan menuju kotak obat-obatan yang terdapat di antara ruang keluarga dan dapur.
“Hah? 39,5 derajat!” kata isteri saya kaget bukan main.
“Wah, kita harus bawa dia ke dokter,” usul saya.
“Nanti aja. Kita coba kasih obat turun panas dulu.”
Sewaktu isteri saya memberi obat turun panas pada Leon, saya teringat pada nasihat ibu saya. Beliau mengatakan bahwa ada cara ampuh untuk menurunkan panas anak yaitu dengan metode transfer panas. Caranya adalah dengan memeluk tubuh anak kita tanpa mengenakan pakaian.

Sehabis minum obat, saya buka pakaian Leon sehingga hanya bercelana dalam saja dan saya juga membuka baju lalu memeluk Leon sehingga tubuh kami berdua bersentuhan dari kulit ke kulit.
Mengingat metode transfer panas ini agak sulit saya pahami, saya melengkapinya dengan doa. Saya minta Leon untuk berdoa sekaligus memintanya untuk mengikuti kata-kata saya.
“Leon, supaya Leon cepet sembuh, kita berdoa bareng-bareng, ya?” ajak saya.
“Iya Ayah,” sahut Si Kecil.
“Okay, sekarang ikutin kata-kata Ayah, ya?”
“Iya, Ayah.”
“Ya Allah, sembuhkanlah sakit Leon…,” kata saya.
“Ya, Allah, sembuhkanlah sakit Leon,” Leon mengikuti.
“Atau pindahkanlah panas Leon….”
“Atau pindahkanlah panas Leon….”
“…ke Ayah,” kata saya.
“…ke Ayah,” tiru Leon.
“Okay, kita ulang lagi, ya? Ya Allah, sembuhkanlah sakit Leon atau pindahkanlah panas Leon ke Ayah.”
“Ya Allah, sembuhkanlah sakit Leon atau pindahkanlah panas Leon ke Ayah,” kata Si Kecil dengan suara lancar.
Berulang-ulang kalimat itu saya ulang dan Leon pun mengikuti. Selanjutnya, saya sambung dengan surat Al-Fatihah untuk menyempurnakan doa kami.
Gak lama kemudian, entah karena doa atau transfer panasnya, tiba-tiba Leon berkata, “Kayaknya badan Leon udah enakan nih,” katanya.
“Masa?” tanya saya gak nyangka sugesti yang saya berikan bisa bereaksi secepat itu.
“Iya bener. Masa Ayah gak percaya, sih?”
Mendengar omongan anaknya, isteri saya langsung mengukur temperatur Leon sekali lagi dan apa yang terjadi? Masya Allah… panas Leon yang tadinya 39,5 derajat telah turun sampai 37 derajat Celcius.
“Leon mau makan sekarang. Lapeeeer…!!!!” katanya.
Subhanallah! Begitu hebatnya kekuatan sebuah doa. Saya pribadi sangat yakin bahwa kekuatan doa itulah yang membuat Leon turun panasnya. Obat turun panas itu cuma media yang memberi sugesti penyembuhannnya.

Dan Alhamdulillah banget, besok paginya Leon langsung sehat dan tidak panas lagi. Bahkan dia terus memaksa untuk pergi ke sekolah. Dan saya tidak keberatan sama sekali. Pagi hari itu, dia saya antar ke sekolah dengan mobil.
Karena masih takjub dengan kesembuhan Leon yang begitu cepat, sepanjang perjalanan, saya menasihati anak itu bahwa jangan pernah menyepelekan kekuatan sebuah doa. Leon cuma mengangguk-angguk, entah mengerti atau tidak.
“Pokoknya, kalo ada temen Leon atau guru Leon sakit, jangan lupa doakan mereka. Insya Allah dengan pertolongan Tuhan, mereka akan segera sembuh. Ngerti kan, Le?”
“Ngerti dong, Ayah.”
“Ngerti apa?”
“Pokoknya kalo ada yang sakit, kita doain supaya yang sakit sembuh. Iya, kan?”
“Iya bener,” sahut saya.
Waktu terus berlalu dan Leon Alhamdulillah tidak pernah sakit lagi. Saya bersyukur banget atas rahmat Tuhan yang telah memberikan Leon kesembuhan.
Suatu hari ketika kami sekeluarga sedang makan malam bertiga. Saya seneng banget ngeliat Leon makan dengan bernafsu sekali.
“Ayah, besok Leon libur, loh,” kata anak saya.
“Heh? Libur apa?”
“Kepala Sekolah Leon, Mr. Sony, sakit.”
“Oh ya? Sakit apa?”
“Ketua kelas bilang sih katanya sakit stroke.”
“Stroke? Astaghfirullah. Semoga guru Leon cepet sembuh. Syafakallah,” saya langsung mendoakan gurunya Leon.
“Emang stroke itu artinya apa sih, Yah?”
Dengan susah payah, saya berusaha menerangkan Leon makna kata itu dengan bahasa yang sederhana. Tapi Leon rupanya terlalu sibuk dengan makanannya sehingga dia tidak begitu memperhatikan kalimat saya.
Sebelum tidur, kami salat Isya bersama. Setelah menyelesaikan salat, kami berdoa untuk kebaikan sekeluarga.
Sebelum membereskan sajadah, saya berkata pada Leon, “Le, kepala sekolah kamu kan lagi sakit. Ingat kata Ayah?”
“Oh iya bener. Kita harus mendoakan orang yang lagi sakit.”

“Nah, pinter anak Ayah. Yuk kita doain? Leon yang mimpin doa, ya? Ayah sama Bunda yang bilang ‘Amin’. Okay?”
“Okay.”
Dengan paras serius, Leon menadahkan tangannya lalu mulai membaca doa, dimulai dengan Al-Fatihah.
“Aamiin,” saya dan isteri mengamini di ujung surat itu. Kemudian Leon melanjutkan doanya.
“Ya, Allah, sembuhkanlah sakit, Pak Sony….”
“Aamiin…!” kata Bapak dan Ibunya.
“Atau pindahkanlah sakit stroke Mr. Sony….”
“Aamiin.”
“…ke Ayah.”
“Hah??? Salah Leon…. Salah!!!” teriak saya panik. Gimana gak panik, kalo Allah mengabulkan doa itu… mampus deh gue.
Leon menghentikan doanya, menengok ke arah kami berdua lalu berkata, “Iya, maap. Leon juga merasa ada yang salah.”
Alhamdulillah anak saya ternyata pintar sekali. Dia langsung mengerti kalo doanya salah.
“Emang seharusnya gimana yang betul, Le?” tanya isteri saya.
“Seharusnya Ayah dan Pak Sony buka baju lalu pelukan. Begitu, kan?” tukas Leon dengan suara yakin.
“WAAAAAAAAA…… TIDAAAAAKKKK!!!!!!!!!!!”

Teman-teman, sekarang saya akan ngasih PR, ya. Saya kan udah bikin beberapa cerpenting, silakan sekarang kalian juga bikin ya. Coba dingat-ngat peristiwa remeh apa yang kalian pernah alami tapi bikin kalian ngakak, marah, kesel, sedih dll. Pilih yang emotional momentnya paling heboh, lalu TULISKAN! Semua tulisan diposting di sini aja, Nanti Asep, saya dan temen2 lain akan kasih masukan.

SESI TANYA JAWAB
@Haura Insiyah: Aku mau tanya, jadi dari dulu aku sering banget nulis fan fictions, tapi setiap ingin menulis fan fiction yang ringan dan bahagia serta cenderung sedikit konflik, malah ditengah” balik lagi jadi another gloomy fan fiction, disaat memaksakan untuk tetap menulis yang ringan dan bahagia, setelah dibaca lagi emosinya gaada dan jatohnya malah maksa. kira-kira harus apa ya om bud untuk melatih emosi kita sehingga bisa menulis dengan berbagai emosi? Terimakasih.
Ini masalah yang juga sering saya alami. Saya akhirnya bisa mendapatkan jawabannya. Jadi begini: Dalam menulis seringkali kita terbawa oleh emosi. Dan pada suatu titik, kita akan berada di level di mana emosi tersebut bukan saja membawa kita tapi juga menguasai kita. Akibatnya artikel yang tertulis tidak sesuai dengan yang kita rencanakan.
Setelah beberapa kali mengalami hal itu, saya memutuskan untuk tidak melawan. Jadi saya mengikuti saja kemana emosi itu akan membawa saya. Dan ternyata hasilnya selalu bagus. Bagus dalam arti ada emosinya dan ada soulnya.
Jadi saran saya, ikuti aja emosi kamu membawa ke mana. Karena dia yang paling tau seberapa hebat cerita itu akan menjelma. Ketika kita fokus maka kita akan berada di level kecerdasan maksimal. Jadi untuk apa dilawan?

Dari @NURUL ISLAM: Om Bud, bagaimana cara menciptakan hal yang menggugah emosi pada tulisan ilmiah?
Nah, pertanyaan ini agak sulit. Saya udah sering ditanya soal ini dan saya selalu kasih jawaban yang sama karena saya yakin bahwa jawaban saya betul. Tapi masalahnya si penanya tidak pernah percaya sama jawaban saya.
Jadi jawaban saya adalah gunakanlah teknik storytelling. Misalnya kita hendak membuat sebuah cerita tentang penemuan baterey HP dengan menggunakan getah pelepah pisang. Coba tulis dengan cerita, misalnya, waktu saya masih kecil, film favorit saya adalah Mac Gyver. Dia seorang detektif yang selalu mampu melumpuhan musuh2nya dengan ilmu pengetahuan. Luar biasa.
Akhirnya saya belajar bahwa menjadi penemu adalah hal yang sangat bermanfaat bagi kehidupan. Jadi sekarang saya akan memaparkan penemuan saya berupa baterey HP dengan menggunakan getah pelepah pisang. Caranya adalah bla...bla....bla....

Dari @Dayu Dwirani: Kalo kepikir mau nulis setelah terpicu, misalnya emosi, sebenernya ada lah beberapa kali, kadang pengen nulis di status Facebook..tapi yg bikin emosi itu, temen juga di Facebook..itu yg bikin saya urungkan niat untuk nulis..khawatir tersindir ato sejenisnya. Kalo kayak gitu, mending tetep tulisin atau enggak? Geregetan kadang-kadang 😬
TULIS DONG! kalo kuatir ada yang tersindir, ganti nama2 tokohnya. Masih takut juga? Ganti settingnya. Ganti waktunya. Ganti tempatnya. Okay? Ditunggu tulisannya....

Dari @Titha tobing: Assalamu'alaikum kak saya mau nanya. Kita lagi nulis cerita nih,tapi sewaktu kita nulis kita ngerasa tulisan kita itu biasa aja, tidak terdapat emosi yang mendalam di dalam bagian itu. Tapi ketika kita publish justru banyak orang yang bilang cerita kita itu sudah sangat maksimal dalam memainkan emosi para pembaca. Apakah cerita kita itu termasuk berhasil? Sedangkan diri kita sendiri ngerasa kalau cerita yang kita tulis itu belum mencapai titik emosi.
Iya emang gitu. Karena kan kita udah tau ceritanya jadi asalkan kita tuliskan surprisenya udah gak gitu terasa buat kita. Makanya saya bilang, supaya tambah seru kasih dramatisasi. Menulis itu seperti memasak. Kalo mau enak, kita harus tambah bumbu2....

Dari @Maria Tamba: Mat malam. Mengapa lebih mudah bercerita secara spontan daripada menuliskan cerita tersebut? Tiap orang punya medianya sendiri untuk berekspresi. Ada yang lebih nyaman dengan verbal, ada yang lebih nyaman ditorehkan dalam tulisan.
Mungkin kamu termasuk di kategori pertama. Tapi saran saya tetep aja tuliskan. Kenapa? Di sesi pertama saya udah mengatakan bahwa salah satu manfaat menulis adalah mengabadikan pengalaman hidup kita. Kalo cuma cerita secara spontan kan besok2 orang udah lupa lagi sama cerita kita.

Dari @NancyZenith DragonDraven: Saya mau nanya tentang emosi, terkadang saat emosi kita Blank dan setelahnya untuk menggambarkan kembali emosi itu dalam tulisan terasa beda, apakah ada tips untuk orang yang baru belajar seperti saya? Matur Suksma, Mas...
Gapapa beda. Yang penting tuliskan. Proses kreatif itu kan panjang. Jadi jangan sekali-sekali nulis satu artikel terus udah merasa puas dan gak disentuh lagi.
Setiap abis nulis, baca lagi lalu cari bagian mana yg harus dikoreksi. Typo2 dibenerin. Spasi2 yg ngawur dibetulin. Nanti pelan2 kamu akan menemukan emosi yang hilang itu. Kalo kamu tambahn dramatisasi, bukan mustahil emosi itu malah jauh lebih bagus daripada kenyataannya.

Dari @fadiel: om bud. bagi saya, menumpahkan emosi dengan via suara (ngomong/ekpresi) lebih mudah dari pada dengan menuliskannya, karena pada saat kita ngomong (misalnya marah), emosinya juga muncul secara bersamaan, bisa dalam bentuk mimik muka memerah, nada tinggi, intonasi tak beraturan ,dan kecepatan suaranya juga, serta ekpresi tubuh dalalam satu waktu, tetapi didalam tulisan semua bentuk informasi itu sepertinya  perlu tuliskan secara rinci,.. pertanyaan saya..adakah suatu patern, kunci, atau subtitusi kata atau aturan untuk menconvert bentuk emosi via suara/ekpresi kedalam bentuk tulisan?
Sebelum menulis, cari dulu bagian emotional momentnya. Kalo udah ketemu, usahakan bagian yang menggugah emosi itu menggunakan kalimat langsung. Kenapa begitu? Karena kalimat langsung akan menyihir pembaca seakan-akan peristiwa yang terjadi adalah real time. Kalo cuma diceritain doang tanpa kalimat langsung, emosinya sering gak kebawa karena pembaca merasa bahwa itu peristiwa lampau.

Dari @L. Sahara: Assalamualaikum, saya Larasati sahara, ingin menanyakan, bagaimana jika cerpenting yg kita tuliskan sedikit masuk unsur puisi, namun penulis bermaksud  kisah yg dituliskan dengan rasa yg sedih?
Ya gapapa. Saya udah bilang bahwa menulis itu harus nyaman. Silakan pake bahasa Indonesia. Silakan pake bahawa jawa. Silakan mau menuliskannya dalam bentuk puisi atau pantun. Tiap orang punya cara sendiri2 untuk berekspresi.

Dari @+62 878-8587-0089: Assalamu'alaikum. Selamat malam. Punten ingin bertanya. Dulu waktu smp saya pernah membaca sebuah tulisan bahwa orang yang paling jahat adalah seniman, karena mereka tak segan untuk merampok, mencuri, membajak, dan mengakui hasil karya orang. Seiring berjalannya waktu, saat dewasa saya dikenalkan dengan konsep ATM (amati, tiru, modifikasi). Awalnya saya menulis selalu berusaha mengarang sendiri. Tapi lama kelamaan, saya mencoba utk ATM. Saya amati karya orang-orang yg bagus, tiru lalu modifikasi dengan maksud untuk belajar. Menurut om Bud, apakah saya salah dan berdosa jika melakukan ATM utk mempelajari sesuatu yang baru?
Gak dong. Itu cara yang sangat sah. Dulu saya pernah keabisan ide untuk bikin iklan. Akhirnya saya memutuskan untuk nyontek karya orang lain. Caranya ya dengan ATM itu. Setelah jadi, saya temuin orang yang karyanya saya contek itu. Dan bertanya, "Bagaimana menurut lo iklan gue?"
"Bagus!" kata orang itu setelah melihat iklan saya.
Terus saya bilang bahwa iklan itu hasil nyontek karya dia. Eh, dia nyaut, "Ah lain banget! Perasaan gak ada sama-samanya sama sekali."

Dari Afandi: Om Bud, maaf mau tanya. Bagaimana teknik yang tepat meletakkan tanda baca dalam tulisan?
Coba baca salah satu novel yg diterbitkan Gramedia. Ikuti cara menaruh tanda baca di sana. Kalo saya terangin di sini, bisa sampe jam 1 malem gak kelar. 😂

Dari @Ken shiro Channel: Dahulu kala hiduplah seorang pemancing fakir joran dari negeri sebarang selatan mengadu nasip dibelantara pesisir pulau K*****N (sengaja q * kan, biar ga ada yg tahu kalo saya pernah merantau ke kalimantan).
Di sela2 kesibukannya bekerja di CV, setiap 1 mggu sekali pemancing tsb mengadu nasip disungai2 atopun rawa disekitaran Ka Pe Ce ( kapese, sebuah perusahaan tambang batubara bonapit di sangata, kaltim).
Hingga suatu ketika saya bertemu beliau hingga kemudian bertamu trus dijamu makan, minum dikasih uang saku 1000 setelah nyanyi "aq tak mau kalo aq dimadu" (eh nglantur 😁).
Dari pertemuan itu tercapailah kesepakatan, suatu saat kita mancing ke laut. Mancing kerusuhan bukan mancing ikan. Mancing di laut? Yah, wow... dalam benak q be…
Iya kira2 seperti itu. Saran saya, setiap tulisan biasakan jangan disingkat. Ntar kebiasaan pas lagi nulis buku, ceritanya singkatan semua...😂

Dari @Yohana Purwa C: Sumpah, kesimpulan utk pengantar Cerpenting yang Om Bud sampaikan itu keren Banget. Ttg bagaimana suatu pengalaman yang menggugah emosi bisa jadi karya. Dan karya yang keren adalah karya yang mampu menggugah emosi (mencoba me-repeat). Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara mengembangkan ide dari peristiwa yang menggugah emosi tsb menjadi tulisan yang mampu menggugah emosi pembacanya? Ada rumusnya ga?
Menulis itu soal rasa. Jadi lupakan rumus2. Kita bukan Mr, Data yang suka matematika. Silakan tulis emotional moment yg ada. Lalu biarkan kita fokus pada ceritanya. Kalo kita udah fokus maka emosi di dada kita akn menyatu dengan cerita yang kita tulis. Dan nanti kamu akan mencapai level fokus, di mana emosi tersebut akan mengembangkan dirinya sendiri.
Biarkan aja proses tersebut terjadi. Setelah tulisan selesai kamu akan kaget dan gak nyangka, "Kok bisa2nya ya gue nulis sekeren ini?" Begitulah keajaiban menulis yang selalu saya alami.

Dari @Wiratama Bargawastra: Selamat malam, mau tanya: Terkadang dalam menulis kita lebih susah menemukan pokok inti seatu paragraf daripada kalimat penjelasnya. Jika sudah seperti itu bagaimana caranya agar kita menemukan ide untuk menulis inti paragaf? Terimakasih.
Lupakan paragraf dan tetek bengek lainnya. Kalo kita menemukan ide, cari emotional momentnLalu kita fokus mulai dari situ. Tulis aja dan jangan berhenti. Setelah selesai, baru kita baca lagi.
Setelah kita baca, baru kita mikirin, rasanya di awal kita perlu kalimat pembuka. Rasanya endingnya perlu kalimat penutup. Tapi semua itu, paagraf dll, kan gak ada emotional momentnya. KIta bikin itu cuma supaya keliatan rapih dan enak dibaca aja. Jadi biarkan itu kita kerjakan terakhir. Fokus aja pada emotional momentnya. Kenapa? Karena tulisan yang bagus itu adalah yg menggugah emosi.

Dari @Untoro: Selamat malam, mau tanya om bud, kalau peristiwa dalam cerita dengan bahasa daerah misalnya bahasa jawa cerita itu bisa bikin emosi keluar namun ketika mau kita tulis pake bahasa indonesia sekan hilang sensasi emosinya. Apa perlu di tulis dialog asli bahasa jawanya terus di kasih translate atau gimana agar tensi emosi nya tetap terjaga di dalam tulisan, terima kasih 🙏.
Sebaiknya tulis dalam bahasa aslinya. Kasih catatan kaki lalu tulis terjemahannya di bawah.
Kalo saya mah jagan diikutin, saya pernah nulis percakapan dalam bahasa perancis dan gak saya kasih tau artinya. Lucunya, orang2 pada nyari sendiri di google translate. Hahahahahaha...

Pertanyaan terakhir dari @Aulia: Assalamualaikum. Saya mau tanya ke Om Bud mengenai emosi yang tak sampai. Ketika ingin melanjutkan novel saya yang belum selesai, saya selalu membaca kembali tulisan yang saya tulis sebelumnya, sering saya dapati feel yang kurang bahkan tidak ada sama sekali. Jadi saya memilih untuk mengedit bagian yang tidak ada feel nya itu dulu lalu saya lanjutkan ceritanya. Ketika selesai feelnya pun sudah mantap saya malah jadi stuck tidak jadi melanjutkan tulisan itu. karena saya pikir jika membuat sambungan seperti yang saya rencanakan sebelumnya feel yang tadi saya buat akan terputus (jadi gak nyambung). Nah, gimana caranya mengatasi stuck dalam kasus saya ini, Om?
Ini pertanyaan yang bagus tapi saya gak bisa jawab sekarang karena terlalu panjang. Jawaban dari pertanyaan ini sudah saya buat khusus dalam sesi tersendiri. Judulnya "Ruang Imajinasi dan Ruang Editing." Sabar ya....

Closing speech: Teman-teman sekalian. Apa yang saya paparkan selama tiga hari ini gak ada gunanya kalo gak dipraktekin. Saya sudah menjelaskan metode-metode menulis. Saya juga sudah menyiapkan medianya berupa website The Writers untuk posting tulisan.
Saya berharap banget semuanya mau membuat PR-nya. Karena kalo kalian gak praktekin sama sekali pastilah ilmu menulis kalian gak akan bertambah. Dan kalo itu yang terjadi, saya dan Kang Asep pastinya akan merasa gagal menyelenggarakan workshop online ini.
Berlatihlah terus untuk meningkatkan ilmu penulisan kalian. Posting semua tulisan di web THE WRITERS. Kalo udah banyak, kompilasikan menjadi sebuah buku. Kalo itu terjadi maka dengan senang hati saya dan Kang Asep akan bersedia menuliskan endorsement di buku kalian. Ini saya janji dan udah kami lakukan pada para peserta di batch2 sebelumnya yang menulis buku.
Kebetulan di group ini juga ada peserta yang namanya Andung. Dia punya usaha penerbitan buku indie. Jadi kalian bisa berkolaborasi sama @+62 816-523-773 untuk menerbitkan buku kalian. Walaupun gak dijual di toko buku, kita bisa menjualnya lewat IG dan sosmed lainnya. Di jaman digital ini gak ada yang gak bisa kita lakukan sendiri. Semuanya mungkin, asal ada usaha. Semuanya bisa sukses, asal kalian mau sedikit capek. OK ditunggu ya tulisan-tulisan kerennya.
Materi amat bagus ini sayang jika tidak ditularkan kepada kawan-kawan atau sahabat tercinta. Dengan membaca materi ini dan mempraktikkan latihan yang diinstruksikan tidak mustahil kita bisa menjadi penulis andal. Keandalan seorang penulis bukan ditentukan oleh bakat yang dimiliki, melainkan bagaimana dia mengasah emosi. Dan, jangan lupa. Berhubung menulis merupakan sebuah keterampilan maka bisa dicapai dengan cara berlatih, berlatih, dan berlatih.

Kamis, 04 Juni 2020

COPY MENGGAMBAR, VISUAL BERCERITA





Resume
Materi             : Resume Menggambar, Visual Bercerita
Waktu             : Rabu, 3 Juni 2020
Pukul               : 20.00 – 22.00
Narsum           : Budiman Hakim

Berdasarkan pengalaman dari batch-batch sebelumya, saya memahami bahwa agak slit buat kalian untuk menerti sepenuhnya apa arti Creative Attitude. Agar lebih mudah dipahami, saya akan mengulang sedikit tentang creative attitude dan membandingkannya dengan business attitude.
Dulu saya punya sahabat dekat, namanya Tjia Boen Houw. Saya biasanya manggil dia Si A Boen. Nah, temen saya ini tiap denger apa-apa pasti ujung-ujungnya bisnis. Saya ingat, pertama kali permainan Tetris muncul sekitar tahun 90-an. Waktu itu saya jago banget main tetris. Saking jagonya saya gak mati-mati. Sampe komputernya hang, saya belom mati-mati juga. Keren, ya?
Ngeliat kepiawaian saya memainkan game itu, A Boen langsung teriak, “Bud! Lo jago banget! Ini bisa jadi duit, Bud!  Ikut gue ke Kota, yuk! Kita ikutan taruhan di sana, kita pasti menang banyak.” Pernah juga dia main ke rumah dan disediakan makanan oleh isteri saya. Begitu tau bahwa isteri saya masak sendiri, dia langsung teriak, “Vin! Masakan lo enak banget!!! Ini bisa jadi duit, Vin! Gue cariin ruko terus kita partneran bikin resto, yuk? Marketingnya gue juga, kita pasti untung besar! Percaya deh apa kata gue!” Semua yang dilihat oleh A Boen langsung dia pikirin jadi BISNIS. Sikap yang ditunjukkan oleh Si A Boen  itu adalah yang biasa disebut dengan Business Attitude.
Pertanyannya, “Apakah bisnisnya sukses?” Sebagian besar, sih, gagal total. Tapi pointnya bukan bisnisnya berhasil atau tidak. Keinginan untuk selalu berbisnis itulah yang disebut dengan business attitude. Sukses atau tidaknya adalah soal lain.
Begitu juga dengan creative attitude. Semua hal yang kita lihat/temukan seharusnya menjadi pemicu untuk menjadi ide. Soal idenya setelah dieksekusi jadinya jelek atau bagus, itu soal lain. Artinya yang perlu kita bangun adalah ATTITUDEnya dulu. Kalo kita udah punya creative attitude maka kita akan sealu berkarya. Kalo kita selalu berkarya maka karya kita otomatis akan menjadi bagus. Karena kemampuan kita selalu terasah.
Itu intinya. Semoga bisa dipahami ya? Jadi kita gak ngomongin karyanya. Tapi kita ngomingin attitudenya. Sikapnya. Mental untuk selalu bersikpa kreatif! Perlu dipahami bahwa bagian creative attitude ini adalah  yang paling penting. Karena bersikap kreatif seharusnya adalah sikap keseharian manusia sehari-hari. Jadi jangan pernah lupa, hindari komen yang biasa-biasa doang.
Hindari memakai ucapan-ucapan idul fitri yang udah basi. Tunjukkan bahwa kita punya Creative Attitude. BUKTIKAN PADA DUNIA KALO KITA SELALU MAMPU MEMBUAT SESUATU YANG BARU. Sering-seringlah latihan menulis dan gak usah pilih-pilih harus nulis apa. Tulis apa aja yang kita kuasai. Tulis dengan bahasa apa aja yang kita nyaman. Bahasa Indonesia boleh. Bahasa Inggris OK. Bahasa Jawa juga monggo.
Perlu diketahui bahwa tulisan kita di social media akan membuat orang mampu menilai kita lebih mudah. Dulu kalo lagi nginterview orang, saya butuh berjam-jam mewawancarainya karena saya suka kasih test segala. Sekarang saya cuma butuh 5 menit dan hanya dengan 1 pertanyaan saja. Pertanyaannya begini, “Kasih saya 1 alasan kenapa saya harus menerima kamu. Gak boleh lebih, cukup 1 saja.” Sederhana tapi menantang bukan? Setelah itu saya minta link FB, Twitter, IG dan semua social medianya. Udah gitu doang tapi dari situ saya bisa menilai orang tersebut seperti apa. Setelah orang itu pergi saya browsing semua social medianya.

Saya gak akan pernah menerima orang itu, kalo saya menemukan dia pernah menulis begini di social media: “Gue telat ngantor, uang makan dipotong. Tapi elo dateng lebih telat dari gue gak diapa-apain. Enak juga jadi Boss, ya? Suatu hari gue mau jadi Boss juga kayak lo, Nyet!” Ini beneran saya temuin, loh. Luar biasa ya statusnya?
Ada juga yang nulis begini: “Minta naik gaji katanya kantor sedang rugi. Tapi elo sendiri ganti mobil baru lagi. Situ sehat? Lo gak ada bedanya sama koruptor penghisap darah rakyat. Tauk!”
Yang paling happening ada orang kantor yang bikin status begini, “Isteri masa kini. Suami masak gitu? Mertua? Masya Allaaaaah….” Coba perhatikan status-status tersebut. Biar orangnya sehebat apapun saya gak akan pernah menerima orang seperti ini.
Nyari orang pintar itu susah tapi nyari orang pintar dengan good attitude, itu susahnya minta ampun. Intinya adalah saya sangat terbantu sekali dengan adanya social media. Kalo ngewawancara orang off air, kita sulit menilai karya dan attitudenya. Karena kebanyakan portofolio yang dibawanya adalah kerjaan keroyokan atau kerja kolektif. Tapi dengan mengintip social medianya, saya bisa langsung tau seberapa kreatif orang ini dan seberapa bagus attitudenya.
Dan satu lagi, banyak Creative Director (termasuk saya)  gak akan pernah menerima copywriter apabila yang bersangkutan tidak punya blog. Kenapa demikian? Karena membuat iklan, buat saya, adalah pertandingan. Sementara menulis di blog adalah latihan. Kenapa banyak banyak sekali copywriter yang karyanya jelek? Karena dia tidak pernah latihan di blog.
Dia pikir berkarya itu sama kayak bikin Pop Mie, tinggal robek bungkusnya, seduh air panas…selesai!
Di jaman digital ini, kalo gak hati-hati, kita akan terperangkap menjadi generasi instan. Karena segala data dan informasi begitu mudah kita temukan. Syukurilah semua berkah yang bisa kita peroleh dengan instan. Tapi ingat! MENTAL GAK BOLEH INSTAN.
Respeklah pada Tuhan yang telah menghadiahkan otak pada kita. Pakailah itu semaksimal mungkin. Kita harus menyadari, mie instan saja dibuatnya tidak instan. Ayo kita pekikkan pada dunia bahwa KITA BUKAN GENERASI INSTAN. Sebodoh-bodohnya manusia adalah mereka yang bermental instan. Coba perhatikan berita-berita di televisi tentang banyaknya korban penipuan.
Orang yang bermental instan paling gampang ditipu dengan iming-iming umrah murah, arisan dengan untung berlipat ganda sampai mau-maunya ikut paranormal untuk menggandakan uang. Semua itu gara-gara kita melecehkan kemampuan otak kita sendiri dan maunya hanya yang serba instan.
Okay, sekarang kita kembali ke creative attitude. Selanjutnya bagaimana cara melatih diri agar Creative Attitude senantiasa mengalir dalam darah kita. Kemaren saya udah bilang bahwa yang namanya latihan itu pasti membosankan. Masih inget, ya? Sekarang saya akan memenuhi janji. Jadi malam ini saya akan ngajarin cara latihan menulis dengan menyenangkan.
Widiiiiii...apa iya ada cara latihan yang menyenangkan? Om Bud becanda, nih.... ADA!
Bagaimana berlatih menulis terus menerus tapi kita tetap enjoy sehingga kita selalu mempunyai sikap kreatif.  Begini caranya. COPY MENGGAMBAR. VISUAL BERCERITA.
Kalian semua punya akun Instagram, kan? Kalo kalian suka main Instagram berarti kalian beruntung. Karena Instagram adalah social media yang paling menyenangkan sebagai bahan latihan meningkatkan creative attitude.
Misalkan kalian sudah mempunyai foto untuk diposting di IG. Pahamilah bahwa FOTO yang kalian posting itu sudah menyampaikan PESAN. Karena itu JANGAN bikin caption hanya MENGULANG apa yang sudah dikatakan oleh fotonya. Misalkan kita posting foto pasangan cowo dan cewe. Jangan pernah bikin caption “COUPLE.” Itu adalah caption yang mubazir dan tidak berguna. Kenapa demikian? Karena kata couple sudah disampaikan oleh imagenya.
Jadi di bagian caption, kita harus menuliskan hal lain. Kita harus menulis sesuatu yang berbeda namun sekaligus berintegrasi dengan imagenya. Instagram adalah sarana visual. Caption berfungsi sebagai support untuk menambah value dari apa yang telah dikatakan oleh imagenya.
Jadi di bagian caption, kita harus menuliskan hal lain. Imagenya telah menyampaikan pesan, yaitu ‘COUPLE’. Jadi tugas caption adalah mendukung atau menambah apa yang telah dikatakan oleh image tersebut. Couple? Pret!
Coba liat postingan ini, udah jelas gambarnya couple, masa kita bikin caption bunyinya ‘”couple” juga? Halooooooo......!!!!!
Coba kalian pikirin. Sebaiknya caption apa yang harus kita cantumkan di bawah foto ini. Yak, berpikir dimulai tik...tok....tik....tok.... Selesai. Jawab sendiri di dalam hati ya. Dalam konteks foto ini kita bisa bikin caption apa aja. Pokoknya asal TIDAK MENGULANG apa yg dikatakan oleh imagenya berarti udah betul. Saya bilang betul, belum tentu berarti bagus loh

Misalnya kita bisa kasih caption “ WHEN I MET YOU, I FOUND ME.” Jadi keren kan?
Berasa, ya, makna "Copymenggambar. Visual bercerita."
Kita bisa bikin beberapa lalu pilih yang terbaik untuk caption kita. Misalnya, “Pasangan sejati adalah dia yang selalu ada saat kita butuhkan dan selalu menghilang saat kita tidak butuhkan.” Coba buka IG kalian. Banyak banget foto Eiffel di sana. Menurut riset, menara Eiffel pernah menduduki peringkat pertama sebagai obyek yang paling banyak diposting di IG. Ya wajar sih. Orang kan pengen pamer bahwa mereka udah di Paris. Selain itu menara ini juga bagus sebagai obyek foto.
Yang bikin sedih banyak sekali yang bikin caption “EIFFEL”, udah gitu doang. Itu berarti orang tersebut belom pernah belajar Creative Attitude. Okay, sekarang kita pikirin apa captionnya yang menarik? Kira-kira apa caption yg menarik? Gak usah dijawab, ya…. jawab dalam hati aja.
Ini ada true story. Jadi pas outing kantor sebuah perusahaan, ada orang Sunda dibawa ke menara Eiffel terus dia komennya begini, “Naon sih alusna menara ieu. Di kampung aing ieu ngaran na sutet. Loba pisaaaan.” HAHAHAHAHA... Yang orang Sunda pasti ketawa juga, tuh... Jadi terjemahannya “Apa sih bagusnya menara ini? Di kampung saya mah banyak yg beginian, namanya SUTET. Banyak banget!” Hahahahahahaha....
Nah, lucunya, ada salah seorang peserta outing memposting gambar Eiffel dengan mengambil omongan tersebut sebagai captionnya dan tentu saja hasilnya lucu banget.
Jadi dapat disimpulkan bahwa caption itu gak  selalu harus cerdas, gak perlu ilmiah. Yang penting isinya MENYENANGKAN dan INTERAKTIF. Penting banget, nih, diketahui.... Contoh selanjutnya....
Ada anak kecil lagi main sendirian. Masak captionnya “Playing Alone?”  Sebagai orang yang mempunyai creative attitude, kita harus memikirkan caption yang lain. Cari caption yang inspiratif tapi sekaligus bisa bekerja sama dengan gambarnya. Daripada bikin caption cuma’ playing alone’, kita bisa bikin misalnya: “When you’re alone, don’t be sad. Maybe God drives all your friends away because He wants to play with you. Only with you.”
Atau kalo mau bahasa Indonesia juga boleh, “Ketika sedang sendiri, jangan bersedih. Mungkin Tuhan memang mengusir semua orang karena Dia ingin bermain berdua saja denganmu.”
Contoh lain, foto kaki. Tapi yang bin saya terganggu, udah moto kaki, tau gak captionnya apa? “Feet.” Ya’olooooooo….Tolong!!! Ngapain bikin caption kayak gitu? Kita udah tau itu foto kaki, kok pake dijelasin segala, sih? Tobat! Kita bisa bikin yang lain, misalnya “It is better to die on your feet than to live on your knees.”

Atau “Kadang aku sengaja berhenti melangkah agar sepasang sepatuku bisa saling menyapa.” Pokoknya silakan bikin caption apa aja, yg penting inspiratif. Contoh selanjutnya…
Contoh lain, foto kaki. Tapi yang bin saya terganggu, udah moto kaki, tau gak captionnya apa? “Feet.” Ya’olooooooo….Tolong!!! Ngapain bikin caption kayak gitu? Kita udah tau itu foto kaki, kok pake dijelasin segala, sih? Tobat! Kita bisa bikin yang lain, misalnya “It is better to die on your feet than to live on your knees.”

Atau “Kadang aku sengaja berhenti melangkah agar sepasang sepatuku bisa saling menyapa.” Pokoknya silakan bikin caption apa aja, yg penting inspiratif. Contoh selanjutnya…



Garing banget yak captionnya.....Kita bisa bikin yg jenaka sedikit. Misalnya: “SAVE WATER. DRINK BEER!”
Contoh berikutnya….
Daripada bikin caption pengulangan seperti itu lebih baik kita tulis:
Hehehehehehe....dapet banget ya pesannya.... Jadi apa yg kita bisa simpulkan dari semua contoh yg saya posting? Jangan pernah bikin caption hanya dengan mengulang apa yang telah dikatakan visualnya. Kalo mengalami kesulitan dan ide lagi buntu, kalian bisa menggunakan kutipan orang lain. Namun ingat! Jangan lupa menyebutkan sumbernya.

Coba liat foto ini. Garing abis kan? Udah gitu captionnya bikin kita jijik pula.
Coba kalo kita kasih caption lain. Kebetulan saya menemukan caption kutipan dari orang lain. Caption: “Kalo udah sukses, suara kentutmu pun terdengar inspiratif. Tapi kalo blom sukses, omonganmu yg paling inspiratif pun terdengar seperti kentut. - JACK MA –

Tentu saja saya menyantumkan nama sumbernya yaitu Jack Ma. Kita gak boleh lupa karena itu adalah intelectual property orang lain. Kita harus menghargainya. Perlu dipahami bahwa caption itu dahsyat sekali pengaruhnya.
Foto yang biasa-biasa aja, kalo dikasih caption yang bagus maka foto kita terlihat jadi lebih bagus daripada kenyataannya. Misalnya foto orang di kantor di atas. Saya akan kasih nilai 4 untuk foto garing tersebut. Tapi ketika udah ditempel dengan caption kutipan dari Jack Ma? Wuiiiih...saya akan kasih nilai 8. Dan nilai yang tinggi tersebut adalah andil dari captionnya. Bukan imagenya.
Begitu dahsyatnya bahkan foto tak berarti pun bisa punya makna ketika kita kasih caption. Luar biasa pengaruh sebuah caption. Kalo kalian orangnya romantis, foto bidang item bisa kita bikin kalimat yang flowery...
Widiiiii....kalian pasti akan mendapat banyak like dengan cara ini. Terutama dari cewek2 yang klepak klepek hatinya membaca kalimat itu...
KESIMPULAN
1. Jangan bikin caption cuma mengulang visual. Bikin caption yang beda tapi mendukung apa yg dikatakan visual.
2. Kalo perlu gunakan kutipan orang lain dan dan jangan lupa menyebutkan sumbernya.
3. Caption yang bagus akan membuat foto/iklan kita bertambah jauh lebih bagus dari seharusnya.
4. Bahkan gambar tak berarti pun akan mempunyai makna ketika dikasih caption.
Temen kantor saya, namanya Leo, pernah ngomong gini, “Om Bud, gue punya foto bagus banget nih.” sambil memperlihatkan foto tersebut di HPnya. “Wah, keren, Le. Kok gak diposting di IG?” tanya saya. “Udah dari 4 hari yang lalu seharusnya gue posting. Tapi belom manteb nih hati ini.” jawab Leo. “Belom manteb kenapa?” tanya saya. “Belom dapet caption yang keren.” sahut Leo.
Coba bayangin! Kalo kita punya foto keren banget, pastinya kita  gak sabar dan mau buru2 posting dong ke IG? Iya gak? Tapi Leo sanggup menunda posting hanya gara-gara belom punya caption yang OK. Temen-temen sekalian, sikap yang diperlihatkan oleh Leo tersebut, itulah yang namanya CREATIVE ATTITUDE.
Berdasarkan apa yang dikatakan Leo, mulai hari ini saya minta pada semua temen-temen di sini: JANGAN PERNAH POSTING FOTO KE IG SEBELUM DAPET CAPTION YG OKEH. Berani? Berani dong, ya! Itulah cara berlatih menulis dengan cara menyenangkan. Dan itu sangat penting untuk membangun creative attitude kita.
Teman-teman sekalian. Sekarang ini banyak banget orang yang sudah punya produk dan brand yang dijual secara online. Banyak dari mereka yang memanfaatkan social media. Sebagian peserta di sini tentu juga banyak yang berjualan di Instagram, kan? Nasihat saya, sering-seringlah berlatih bikin caption sesuai metode di atas.
Ketika sudah mempunyai creative attitude, kita jadi bisa membuat caption yang menarik agar dagangan kita semakin laku. Judul materi kita hari ni adalah COPY MENGGAMBAR, VISUAL BERCERITA. Jadi jangan cuma fokus pada captionnya doang. Buatlah gambar yang bercerita. Gabungan antara image yang bercerita dengan copy yang menggambar akan membuat iklan di Instagram jadi menarik perhatian. Kerja sama image dan copy akan membuat komunikasi kita bekerja secara maksimal.
Biar dapet gambaran yang lebih jelas, mungkin saya harus kasih contoh yang kongkrit ya. Misalnya kalo saya harus membuat iklan di IG untuk OBAT PEGEL LINU. Saya akan membuat gambar yang bercerita.
Di captionnya kita bisa bercerita bahwa betapa gak nyamannya kalo kita sedang menderita pegel linu. Silakan cerita bla…bla…bla…Di endingnya, kalian bisa akhiri dengan kalimat.... “Bahkan Patung Pancoran pun sering hilang kalo jalanan lagi sepi. Karena dia juga butuh obat tersebut. Capek loh berdiri terus-terusan gak bergerak sambil nunjuk ke angkasa. Kalo gak percaya, silakan coba sendiri.” Hehehehehe..
Btw, karena IG juga punya fasilitas untuk sarana audio visual, kita juga bisa membuat video 1 menit untuk brand kita. Sekarang ini kualitas HP sudah lebih dari cukup untuk membuat konten di IG , FB atau di Youtube. Dengan memproduksi video, semua benefit bisa kita masukkan dalam video tersebut berupa audio. Jadi di caption kita tidak perlu lagi bikin copy yang njlimet. Kita cukup memasukkan daftar harga dari barang akan kita jual beserta daftar harganya. Ini contoh iklan di IG menggunakan fasilitas video.
Hehehehe…. simple banget, kan? Produksinya murah namun punya daya tarik yang tinggi. Ini adalah iklan obat kuat "Viagra". Viagra gak boleh beriklan di TV. Jadi iklan ini saya buat bo'ong2an doang sebagai contoh. Iklan pegel linu di atas juga iklan boongan yang saya buat khusus untuk kelas ini.
Kenapa saya mau repot-repot membuat iklan bo’ongan ini cuma buat contoh materi kita? Yak betul! Karena saya memiliki CREATIVE ATTITUDE.

SESI TANYA JAWAB
Setelah 21 menit ini (saat nulis pertanyaan), dan baca karya salah 1 anggota di web. Saya koq jadi merasa minder untuk post tulisan yang tepat 15 jam ke belakang sebelum kelas dibuka kemarin. Apalagi melihat cv nya. Jujur saya minder, apalagi kosakata saya terbatas, salah saya juga seh... napa saya malas baca dulunya. Ide-ide ada saja yang lewat, tp tetap saja susah saya goreskan pena saya di atas kertas... Meskipun saya sering nulis di sosmed, tapi tetep saja saya merasa kurang puas atas pemilihan kosakata saya. What can i do?
Caranya adalah posting tulisan kamu sebanyak mungkin ke Web The Writers. Web itu memang khusus dibuat untuk latihan menulis. Nanti setelah postingan kamu udah 50 artikel, coba cek tulisan pertama dengan yang ke 50. Bandingkan dan perhatikan baik2. Kamu akan melihat kemajuannya sangat signifikan.

Saya nggak mau bertanya tapi mau sharing seperti Om  Bud bilang soal sosial media karena sering bikin micro blog di IG dan thread di twitter, saya merasakan sendiri keduanya sangat efektif untuk ‘memaksa’ otak kita berpikir. Di IG kita harus bisa bercerita secara efektif dalam 2000 karakter dan 300 karakter di twitter. jadi begitu ‘ngelantur tapi tidak relevan’—hehe mirip judul bukunya om Bud—maka kita dipaksa untuk mengurangi kata/kalimat dan memilih kata/kalimat yang lebih efisien.
Ini sangat betul. Tantangan kita menulis adalah bagaimana menyampaikan banyak gagasan dengan jumlah kata yang ekonomis. Kalo orang baca tulisan kita biasanya mereka akan kometar, "Wuiiiih...daging semua ini!"

Sebuah Creative Attitude itu apa bisa dinilai dari sebuah karya/hasil? Atau kita bisa lihat dan nilai baik dari prosesnya?
Bukan! Creative attitude adalah keinginan untuk selalu berkarya. Sebuah SIKAP! Coba baca lagi di alinea 1 materi ini. Saya udah menjelaskan dengan membandingkannya dengan busness attitude.

Luar biasa OmBud. Jadi menyesal ikut kelas ini. Kenapa baru tahu akhir-akhir ini? Kalau tahu dari kemarin- kemarin mestinya buku sudah jadi. Oh ya. Untuk posting gambar/foto Ombud maupun narsum lain cukup saya tanya pada google trus pasang gitu saja tanpa sebutkan sumber? Saya posting di blog. Berdosakah diri ini jika seperti itu?
Sebaiknya sebut sumbernya. Soalnya kamu juga akan kesel kalo karya kamu digituin juga oleh orang lain. Kalo gak dapat juga, tulis aja dapet dari google sembari ngasih linknya.

Om Bud, apakah mesti harus ada Caption pada foto kita yang diupload di medsos? bila dalam foto tersebut sudah ada kata atau frase yang pas bangat ditake?
Oh gak harus. Yang saya kritik adalah kalo mau kasih caption, jangan hanya pengulangan dari apa yang disampaikan oleh visualnya. Itu aja kok. Sekaligus bisa kita jadikan sarana latihan menulis. Kadang ada juga image yang udah sangat bercerita walaupun tanpa ada kata dalam fotonya. Jadi kadang-kadang kita akan menemukan bahwa "Sometimes the best caption is no caption."

Sekadar menanggapi. Blacklivesmatters, itu yang lagi hangat postingan di IG caption untuk gambar bidang persegi hitam, terutama selasa kemaren heheh.
Wah keren ini. Itu yang sering saya bilang kadang karya yang bagus adalah ketika kita memanfaatkan momentum.
Ada juga yang posting begini: RASISME TIDAK AKAN PERNAH BERAKHIR. Rasisme tidak akan pernah berakhir selama mobil PUTIH masih menggunakan ban HITAM.
Rasisme tidak akan pernah berakhir selama kita masih mencuci pakaian PUTIH terlebih dulu dan yang berwarna kemudian.

Rasisme tidak akan pernah berakhir jika orang masih melambangkan HITAM sebagai nasib buruk dan PUTIH untuk perdamaian! Rasisme tidak akan pernah berakhir jika orang masih memakai pakaian PUTIH untuk pernikahan dan pakaian HITAM untuk ke pemakaman.
Rasisme tidak akan pernah berakhir selama orang yang tidak membayar tagihannya dimasukkan ke dalam daftar HITAM. Bukan daftar PUTIH. Rasisme tidak akan pernah berakhir jika untuk memenangkan permainan bilyar, kita harus memasukkan bola HITAM dan bola PUTIH tetap di atas meja.
Rasisme memang tidak tidak akan pernah berakhir. Tapi saya tidak peduli! Selama masih membersihkan pantat HITAM saya dengan tissue PUTIH, saya bisa menerimanya.
- Presiden Mugabe -
Assalamualaikum,  saya ingin memperlihatkan salah satu gambar yang udah saya coption, apakah ini dapat dikatakan Copy Mengambar, visual bercerita, Pak?
Wah keren ini. Iya ini contoh Copy menggambar dan visual bercerita yang sangat bagus.  Salut!!!

Sekarang saya paham tentang pengatuh Caption dalam IG. Bagaimana caranya agar kita percaya diri dengan caption yg kita buat di IG?
Bikin beberapa caption. Terus tanya ke temen baik kita, "Dari 3 caption yg gue bikin ini, lo paling suka yang mana?" Jawaban temen kamu pasti akan membuat kamu tambah percaya diri. Hehehehe...
Untuk caption gambar, panjang pendek kalimat mempengaruhi efektifitas pesannya tidak ya? Menurut pengalaman apakah caption yang berhasil adalah yang panjang atau pendek? Terimakasih.
Gak ada ukurannya. Tadi saya udah bilang bahwa "Sometimes the best caption is no caption"
Tapi kalo kamu mau jualan di IG, caption yang paling ampuh adalah dengan menggunakan storytelling. Jadi bikin cerita yang menggugah emosi lalu hubungan dengan brand yang sedang kamu tawarkan.

Saya baca tulisan Om Bud dan jadi terharu sambil cepet-cepet check, IG  dan FB dan kesimpulannya ternyata saya termasuk GARING dan melempem walau kadang lumayan cerdas, GARING karena sama seperti yang dibilang om bud, melempem hehehe kadang gak dikasih caption dan lumayan cerdas menurut saya karena banyak yang bingung dengan caption saya-tanggapan mereka aneh, ajaib, tidak bisa dipahami atau melampaui Akalbudi atau Nalar mereka-yang saya Terima sebagai pujian hahhaha. Numpang nanya nih mas asep dan om bud, kalau menurut saya sudah asyik dan oke dan menyenangkan, kenapa sebagian besar tanggapan yang lihat/baca gak ngerti?
Coba baca lagi caption yang udah kamu tulis. Kamu sendiri merasa itu membingungkan gak? Kalo nggak berarti caption kamu udah OK. Berarti temen kamu kurang cukup erdas untuk memahaminya. Kamu gak usah risau dengan pendapat orang lain. Pihak yang paling patut didengarkan adalah hati kita sendiri.

Terkait materi Copy Menggambar Visual Bercerita. Sebagai mantan desainer grafis saya kadang menemui klien yang ‘memaksakan’ semua materi tulisan ada di gambar yang pada akhirnya value si gambar tersebut jadi acak-acakan secara estetikanya, padahal kan materi tulisan sebagian bisa dituliskan di bagian caption. Semacam kurang indah karena kebanyakan materi tulisan dan tentu aja ‘blur’ pesan yang pengen disampaikan. Kira-kira, menjembataninya gimana ya biar para klien yang terhormat itu bisa paham. Karena saya yakin mereka begitu karena mereka nggak tahu, bukan karena nggak mau tahu. Makasih Om.
Sebagian besar klien memang begitu. Biasakan untuk selalu menuruti apa yang diperintahkan oleh klien karena dia yang punya uang. Tapi jangan lupa bikin alternatif versi kamu. Pas lagi presentasi bilang aja, "Saya udah bikin dua alternatif nih, Pak. Gimana kalo kita bikin riset kecil-kecilan di kantor Bapak. Saya penasaran nih, kira-kira lebih banyak milih yang mana...."
Dengan cara demikian pelan-pelan dia akan tau mana yang bagus dan mana yang jelek.

Om Bud yang luar biasa. Caption yang menarik dan kreatif itu penting, tapi saya masih agak bingung jika diterapkan untnk iklan alat kecantikan seperti Laser, Hifu dll bukannya harus ditulis apa adanya? Yaitu untuk meremajakan kulit dan membuat lebih halus, memutihkan, menghilangkan tato seperti itu? Kalau dibikin kreatif dan menarik seperti apa ya?
Cara pemikiran kamu itu adalah cara lama. Itu cara berpikir kalo kita bikin iklan di TV, koran, majalah, radio dan semua itu adalah media satu arah. Tapi digital adalah media dua arah. Kita gak perlu ngasih tau semua info karena di social media ada ruang komen. Biarkan interaksi terjadi. Biarkan mrk penasaran sehingga bertanya lebih jauh tentang produk yang kamu tawarkan.

Saya mau bertanya terkait penulisan caption marketing/promosi. Adakah trik khusus bagaimana agar caption yang kita buat bisa menarik perhatian customer, namun tetap menggunakan Bahasa Indonesia yang formal? Misalnya menggunakan kata Anda untuk panggilan customer. Kebetulan konsep produk kami lebih ke elegan dan kadang saya kesulitan saat diminta bikin caption yang tetap formal namun menarik.
Ini juga cara berpikir lama. Digital telah membuat disruption yang luar biasa. Gak ada lagi orang yang mengguakan bahasa formal di social media. Bukan hanya user. Bukan hanya media abal2. Bahkan media mainstream sekelas Detik pun udah mengabaikan bahasa formal. Coba liat headline di atas. Detik menggunakan kata GEGARA instead of GARA-GARA. Jadi lupakan bahasa formal, Di digital itu udah gak laku.



Saya mengalami seperti yang Leo sampaikan ke Ombud, lama untuk dapat ide captionnya he he contoh gambar ini udah setok lama baru muncul ide seperti itu, bagaimana agar kita bisa membuat caption yang bagus sehingga orang itu stop dan membaca selain jam terbang tentunya.
Ini udah bagus banget. Jadi caption itu bukan harus bagus. Caption yang bagus adalah yang bisa memancing interaksi. Kenapa demikian? Karena digital adalah media dua arah. Media dua arah adalah media interaktif. Jadi faktor interaktifnya itu yang paling penting. Ini captionnya udah keren banget. Saran saya coba dibenerin tanda bacanya.

Saya mau nanya nih Om Bud gimana kalau kita posting foto seperti ini, terus saya pake captionnya sama seperti yang ada di foto, gini "Tertawa ketika dada sesak dengan derita maka
Boleh2 aja sih. Tapi kan kita udah sepakat bahwa creative attitude itu adalah bagaimana kita selalu punya ide. Creative attitude itu adalah bagaimana kita selalu mampu membuat sesuatu yang baru.

Om Bud, saya ingin bertanya terkait alasan Om Bud menerima orang bekerja jika memiliki blog. Menurut Om Bud, blog seperti apa yang memenuhi kriteria untuk masuk di sebuah industri pekerjaan, semisal agensi iklan dll. Dan jenis blog seperti apa yang menurut Om Bud dapat mengasah kemampuan menulis kita?
Gak ada ukurannya. Para Creative Director itu tau dan bisa menilai apakah seseorang itu punya kemampuan menulis yang hebat walaupun  tulisannya gak berhubungan dengan kerjaan dia di kantor nantinya. Saya pernah nerima copywriter perempuan gara-gara tertarik sama tulisannya di blog. Tau gak? Isinya semuanya puisi. Tapi tulisannya bagus jadi saya terima. Apakah di pekerjaannya itu dia bertugas membuat puisi? Gak dong.

Apakah Om Bud dan Kang Asep punya instagram favorit? Kalau Saya suka sekali dengan gaya berceritanya Humans of New York.
Ga ada. Kadang saya suka sama foto-foto seseorang. Kadang saya suka sama caption-captionnya. Tapi gak pernah sampe memfavoritkan orang lain.

Menahan diri untuk posting itu creative attitude. Tapi kalau sekarang saya lagi melatih diri untuk latihan foto apapun setiap hati dengan caption yang menceritakan rasa. Hal ini saya lakukan melatih kepekaan rasa menangkap foto dan menulis, walaupun tulisan singkat. Apakah ini termasuk creative attitude?
Intinya begini: Leo kan menahan diri untuk tidak posting karena dia gak mau berhenti mencari caption yang bagus. Jadi pointnya bukan menahan dirinya tapi tidak mau menyerah untuk mencari caption yang keren.

Halo Om Bud, saya mau tanya tadi Anda menyinggung jika cari copywriter cenderung mencari calon copywriter yang memiliki blog, mau tanya Om biasanya di industri sendiri misal jika melihat dari blog tadi. Talent yang biasa dicari biasanya memiliki tulisan seperti apa atau yang bagaimana kriterianya jika ada?
Gak ada ukurannya. Para Creative Director itu tau dan bisa menilai apakah seseorang itu punya kemampuan menulis yang hebat walaupun  tulisannya gak berhubungan dengan kerjaan dia di kantor nantinya. Saya pernah nerima copywriter perempuan gara-gara tertarik sama tulisannya di blog. Tau gak? Isinya semuanya puisi. Tapi tulisannya bagus jadi saya terima. Apakah di pekerjaannya itu dia bertugas membuat puisi? Gak dong.

Halo selamat malam Om Bud, saya jarang update di Instagram karena memang nunggu momen yang pas untuk menemukan caption yang menarik. Terbukti ternyata waktu saya gak terbuang, saya update foto dan bercerita melalui caption, dan dapat tanggapan baik dari teman-teman socmed. Tapi ada satu hal, karena keseringan micro-blogging ini kadang saya jadi bingung ketika dihadapkan untuk menulis yang lebih panjang. Baiknya gimana OmBud?
Kalo bikin caption doang memang sering kesulitan untuk menulis yang agak panjang. Coba kamu bikin dengan gaya storytelling. Biasanya akan lebih mudah bikin yang panjang. Misalnya kamu posting foto rendang, masakan Padang itu loh. Kamu bisa cerita bahwa membuat rendang itu gak mudah, Karena membutuhkan waktu 3 hari proses pembuatannya. Dan akan lebih baik lagi kalo membuatnya dengan kayu bakar bukan kompor. Kalo dibikin sesuai dengan resep nenek moyang maka kelezatannya akan terjamin. Kamu bisa tambahin dengan menceritakan bahwa rendang pernah terpilih sebagai masakan terenak di seluruh dunia. Terus kamu tutup dengan "Bukan cuma Agnez Mo loh yang go international tapi rendang juga.

Permisi Om, mau tanya. Sampai sejauh mana caption jualan dengan tipe storytelling bisa didramatisasi untuk jadi tulisan yang emosional? Karena takutnya, kalau berlebihan malah jadi tipu-tipu.
Ya jangan tipu-tipu dong. Saya gak bisa menjawab pertanyaan ini. Saya harus liat kamu jualan apa lalu tulisannya bagaimana. Setelah itu baru saya bisa menilainya. Kalo mau gampang menilai, saran saya gunakan aja hati nurani kita. Itu adalah sensor terbaik dalam berkarya.

Apakah boleh sekiranya kita memunculkan caption yang jauh dari kenyataan diri kita. Karena seringkali nih kalau bikin caption yg mengandung kegalauan itu org mengecap kita sedang galau atau lagi ada masalah gitu haha. Atau untuk latihan menulis ini lebih baik pakai akun yang bukan akun sungguhan alias second account. Gimana ya menghilangkan rasa insecure ini.
Kan saya udah bilang berkali-kali bahwa menulis itu untuk menyenangkan diri sendiri. Bukan menyenangkan orang lain. Kalo orang lain juga suka, anggap aja itu bonus. Kecuali kalo kamu jualan produk, nah itu baru kita harus menulis untuk menyenangkan orang lain.

Bagaimana cara mudah untuk belajar menulis caption tentang produk minuman jus simple tapi bikin yang baca tertarik untuk mencoba. Karena saya sedang belajar membangun brand nih.
Pertama kamu harus jawab pertanyaan saya, "Kenapa saya harus membeli produk kamu dibandingkan produk kompetitor." Nah, kalo udah dijawab maka jawaban kamu itu yang harus dieksplor dan dijadikan tool utama agar orang membeli produk tersebut.

Closing: Teman-teman sekalian. Mungkin di antara kalian ada yang berpendapat bahwa materi saya malam ini terlalu sederhana. Cuma bikin caption yang memang selalu kita lakukan sehari-hari. Perlu diketahui bahwa saya berbeda denga coach-coach lain. Materi saya memang selalu sederhana. Saya gak pernah mengajarkan teori atau hal-hal yang berbau teknis. Semua yang saya ajarkan adalah ilmu tentang kehidupan. Belajar dari sekolah dengan segala teorinya memang penting tapi belajar dari kehidupan juga tidak kalah penting.
Bersahabatlah dengan alam. Menyatulah dengannya. Ikuti iramanya. Biarkan hidup kita bersinerji dengan alam dan manusia. Alam semesta banyak memberi kita pelajaran. Bukalah pancaindera kita selebar-lebarnya. Cobalah lebih peka terhadap hal-hal kecil. Ada banyak pelajaran di sana. Never stop learning because life never stop teaching.
Sebagai penutup, saya akan kasih link bagaimana seseorang bisa mendapatkan penghasilan dari hanya sekedar berbisnis caption. Ini linknya: http://www.metropolitan.id/2019/01/buka-sebulan-lalu-omzet-sampai-rp40-juta/
           
            Catatan Penulis: Pohon yang rimbun tetapi tak berbuah tidak akan maksimal nilai manfaatnya. Itu sebabnya saya posting materi kuliah Ombud semalam. Semoga pembaca terhormat dan diri saya bisa sama-sama memetik manfaat. Semakin tersebar ke kalangan luas, semakin besar pula nilai manfaat ilmu yang ditularkan Ombud. Semoga tersebar luas virus manfaat.

Rabu, 03 Juni 2020

KUTIPAN UNIK MATERI OM BUDI


If you want to know the world, READ. If you want the world to know you, WRITE!
If you type your name in Google and you don't find it, techically you're dead!

Om Budi adalah Creative Director dengan basis copywriting, yang telah menapaki karier di berbagai advertising, antara lain Aim/Leo Burnett,  Ogilvy & Matter, lalu tahun 1993 mendirikan MACS909 Advertising & Communications. Karya-karyanya banyak memenangkan award di berbagai festival iklan, baik nasional maupun internasional.
Tak cuma karya iklan, Om Bud juga sudah menerbitkan 13 buku kreatif, antara lain Lanturan tapi Relevan, Ngobrolin Iklan Yuk, Sex after Dugem, Gowes and Go West, Saya Pengen jadi Creative Director, Saya Pengen jadi Copywriter, Saya Pengen Jago Presentasi, Storytelling, Si Kampret Master Selingkuh, Menulis tanpa Ide dll. Yang baru terbit bulan ini Copywriter is Dead. Begitulah kata pembuka moderator (Kang Asep Herna) pada kuliah perdana.
Banyak orang ngomong bahwa DIA TIDAK SUKA MENULIS bahkan TIDAK PERNAH MENULIS. Nah, walaupun belum membuat riset,  walaupun tanpa data, Om Budi berani bilang Itu pasti HOAX! Karena menulis adalah kebutuhan primer, sama seperti halnya dengan makan, minum dan tidur.

MANFAAT MENULIS:
1.     MENGABADIKAN PENGALAMAN HIDUP
2.     MENINGGALKAN LEGACY
3.     MEMBUANG SAMPAH EMOSI
4.     MENULIS ITU SEPERTI MAIN GAME
5.     MENULIS ITU MENCEGAH PIKUN
6.     MENULIS MEMBUAT KITA MENJADI TOKOH YANG DIDENGARKAN
KESIMPULAN:
Sekarang kita sudah mengetahui betapa banyak manfaat dan betapa pentingnya pengetahuan tentang penulisan. Perlu dipahami bahwa segala kegiatan yang kita lakukan hampir semuanya berhubungan dengan penulisan. Kita mau berjualan di IG, mau jadi stand up comedian, berdakwah, presentasi, membuat film, membuat album lagu, melakukan penelitian dll, semua berhubungan dengan dunia PENULISAN!
Sejak kemunculan dunia digital, sekonyong-konyong ilmu penulisan malah semakin naik pamornya. Di sosial media semua orang menulis, baik itu di WA, LINE, twitter, Youtube, Facebook, Instagram, dll. Itu sebabnya ilmu penulisan menduduki porsi yang sangat mendominasi. Itu juga sebabnya belakangan ini kita melihat berbagai penawaran workshop tentang penulisan/copywriting begitu tinggi. Kenapa demikian? Karena eksistensi manusia sekarang bukan di dunia nyata. Eksistensi manusia sekarang ada di dunia digital. Dan untuk mempunyai eksistensi yang tinggi di dunia digital, senjata utamanya adalah MENULIS!
Jadi teman-teman, yuk kita tanamkan tekad: KITA HARUS BELAJAR DAN MEMPERDALAM ILMU MENULIS. If you type your name in Google and you don't find it, techically you're dead!