Rabu, 01 April 2020

IDE MENULIS Disarikan dari tulisan Pak Agus Sampurna


Tiga kata kunci dalam menulis. Anda, Saat ini/sekarang, dan bebas.
Terdapat 5 kata persuasif yang bisa mengendalikan pikiran yang membacanya.
1.     Anda
2.     Bebas
3.     Baru
4.     Sekarang/saat ini
5.     Rahasia
Dalam membuat tulisan di mana pun tidak lepas dari cara menarik perhatian pembaca. Misalnya kata “Anda, Baru, dan Rahasia”. Contoh judul terkait pembelajaran daring, “Solusi Pembelajaran Dring BEBAS Strs”, “APLIKASI Baru untuk Mengahjar Online”, “RAHASIA Menjadi Guru Sukses Mengajar Secara Online”, “Cara Aagar ANDA Menadi Gur yang Handal dalam Mengajar Secara Online”, “ Apilkasi Online yang Anda mulai SEKARANG Gunakan untuk Mengajar Secara Online.”
Dalam mengajar secara online tetap perlu diperhatikan bahwa kita adalah guru. Jangan menjadi terlalu cair atau terlalu tegang. Tetaplah jadi guru yang tegas dan ramah saat melakukan pembelajaran online.
Konten pembelajaran bisa dari mana saja. Variasikan sumber belajar maka kelas Anda akan menarik. Jangan terkejut, jika sumber belajar beragam maka siswa akan menjadi kreatif dalam menuangkan hasil belajarnya. Bisa lewat peta pikiran, vlog, blog, atau infographic.

RESUME MATERI “PANDUAN AWAL MENDESAIN PEMBELAJARAN DALAM JARINGAN (DARING) Oleh: AGUS SAMPURNA


Banyak kisah menarik di balik pembelajaran daring. Menarik, lucu, sedih, gagapnya pendidik, dan strssnya orang tua mendampingi anak belajar di rumah mewarnai pembelajaran moda ini. Sebenarnya model pembelajaran modern suah diatur dalam Peremdikbud No 22 tahun 2016 tentang Standar Proses dengan prinsip “ Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu hingga prinsip “Pengakuan atas perbedaan ndividual dan latar belakang budaya peserta didik.”
Saat ini meruakan kesempatan yang tepat untuk menerapkan pembelajaran cara belajar (Learning How to Learn) bukan Learning What to Learn (belajar tentang sesuatu). Dengan adanya internet peserta didik dapat belajar ntuk tahu, belajar untuk melakukan, belajat untuk menjadi sesuatu, belajar untuk hidup bersama dengan pendekatan yang berbeda dengan pebelajaran sebelumnya.
Tahun 2014 Bank Dunia meluncurkan sebuah kajian yang menyebutkan ada 8 keterampilan yang paling dicari oleh perusahaaan-perusahaan dalam merekrut pegawai-
1.     Memecahkan masalah
2.     Ketangguhan
3.     Motivasi untuk berprestasi
4.     Pengendalian diri
5.     Teamwork
6.     Prakarsa
7.     Kepercayan diri
8.     Etika

JANGAN TUNDA UNTUK MENULIS


“Jangan tunda untuk menulis sebelum ide kita habis. Itu saja ya dan jangan ragu untuk bertanya kepada semua nara sumber,” nasihat Omjay kepada Bu Wafa dalam blognya. Tentu saja nasihat itu berlaku pula untuk diri saya.
            “Jadi buat ibu Wafa dan kawan-kawan peserta belajar menulis, kalau masih keder mau nulis apa, segera saja tuliskan apa yang ada di depan mata dan yang ada di kepala.” Nah, lo. Bener kan, nasihat pada kalimat kedua dari paling akhir blog Omjay itu berlaku pula untuk diri saya. Saya termasuk salah satu peserta belajar menulis yang dikelola oleh Omjay.
Bukan hanya peserta biasa. Akan tetapi, diriku peserta luar biasa. Kenapa? Beberapa hari ini terlambat mengikuti materi. Bukan tanpa kemauan, Kawan. Namun, ada kendala. Kendala HP yang overload dan tentu sudah cukup tua perlu di regenerasi. Namun, sesuatu yang dicari baru mendapat malam tadi. Pagi ini, keinginan menulis mulai menggelora. Namun sayang, pelajaran sudah terlanjur ketinggalan.
Berpuluh grup yang infonya telah masuk ratusan atau ribuan jumlahnya harus kuhapus satu-satu. Harus kuteguhkan niat untuk beristiqomah menulis. Tentu belajar menulis dari hal yang paling sederhana. Menuliskan apa yang ada di depan mata atau di kepala. Betul begitu ya, Omjay?
Semoga Omjay dan beberapa narasumber lainnya masih bersabar dan berkenan untuk memberi bimbingan. Teriring doa semoga Omjay dan narasumber lain serta kita semua jangan kena wabah korona. Aamiin3.

DIA YANG MENGGEMASKAN SEKALIGUS MENJENGKELKAN


Dia yang menjadi hewan kesukaan adik bungsuku beserta keluarganya. Dia yang menjadi hewan menjengkelkan bagi adikku yang nomor empat. Dia hewan yang kadang menggemaskan namun kadang menjengkelkan bagi diriku.
Dia menggemaskan sebab aku penasaran melihat wajahnya yang lucu. Bulunya yang tampak menarik perhatian bagi banyak orang, namun membuat bergidik bagi diriku jika berdekatan. Aku tak ingin berdekatan dengannya. Namun, suka melihatnya dari jarak jauh. Tak ingin mendekat kepada dirinya. Bahkan, saat berada di rumah adikku yang penyuka kucing, diriku selalu berteriak ketakutan saat didekatinya. Mungkin dia pun tersenyum melihat tingkahku. Mengapa menjengkelkan? Suau ketika di perumahanku banyak berkeliaran kucing-kucing liar. Kadang meninggalkan air seni di atas kesed. Bahkan juga berak di bawah mobil atau kendaraan. Jika melihat hal tersebut, diriku selalu berteriak panggil suami minta tolong untuk membersihkan. Dirikupun tak mau keluar sebelum kotoran dibersihkan.
Meski diri ini sering lihat dirinya dari kejauhan, tetapi tak mau berdekatan. Jadilah dirinya bagiku merupakan hewan yang menggemaskan sekaligus menjengkelkan. Akankah diriku seperti dirinya? Kadang menggemaskan dan kadang menjengkelkan. Hahaha.

MENGAIS HIKMAH DI BALIK WFH


Terus terang hari-hari ini diriku berpikir adakah hikmah di balik WFH. Jika ditilik makna hikmah, yakni makna yang terkandung di balik suatu peristiwa; manfaat tentu ada hikmah di balik virus corona yang menjadi penyebab dberlakukannya WFH. Apa saja hikmah di balik WFH? Berikut ini merupakan di antara hikmah yang kurasakan.
Pertama, kita bisa lebih mensyukuri nikmat Allah yang selama ini tak terasakan. Nikmat bisa bertemu dan berkumpul dengan sanak saudara serta relasi tercinta. Nikmat mengikuti taushiah yang menyejukkan jiwa. Nikmat bisa bersilaturahmi secara nyata. Hikmah kedua adalah bisa berkumpul keluarga lebih lama. Keluarga kecilku (saat ini hanya tinggal berdua dengan suami; anak-anak sudah pergi merantau) yang semula banyak bekerja di luar rumah, kini banyak bekerja di rumah. Atau paling tidak, bekerja bersama di tempat suami yang tak jauh dari rumah. Ini semua demi mengikuti anjuran pemerntah untuk social distancing atau physical distancing. Hikmah ketiga, bisa merasakan bahwa diri ini ternyata sangat tertinggal dalam dunia teknologi. Kelas maya yang ditawarkan oleh rekan-rekan sejawat terasa masih baru semua. Semakin nyatalah bahwa diri ini tertinggal.
Hikmah yang ada di depan semoga dapat menumbuhan kesadaran. Kesadaran untuk bisa mengejar ketertinggalan. Semoga sahabat-sahabat tercinta berkenan untuk membantu. Terima kasih Omjay dan kawan-kawan.

MIE YAM DAN BAKSO THENGKLENG


Sebuah foto dikirim Omjay di grup Menulis bimbingannya. Ada tantangn untuk membuat cerita tiga pararaf. Sayang, diri ini terlambat. Foto itu telah dikirim hari kemarin. Namun, baru bisa kutindaklanjuti hari ini.
            Duhai, bakso dan mie ayam nan lezat. Dirimu menjadi penyebab kerinduanku pada situasi dulu. Situasi di mana wabah corona belum merajalela. Situasi di mana virus Covid-19 belum menjadi trending topic dalam hampir semua perbincangan. Menjadi penyebab diberlakukannya WFH (work from home) dan SFH (school from home). Situasi ini membuat diri menjadi kian menyadari. Betapa tak pernah berhentinya keinginan manusia. Di kala banyak kesibukan di luar dan rumah hanya tempat persinggahan sementara, ingin rasanya berlama-lama tinggal di rumah. Namun, di kala situasi mengharuskan banyak tinggal di rumah, bukannya bergembira dan bahagia. Yang ada adalah merasa bosan dan menderita. Inginnya keluar dari rumah untuk menuntaskan segala aktivitas. Ingin nikmati bakso dan mie ayam bersama sahabat atau keluarga tercinta di antaranya.
            Namun, hingga kini atau entah sampai kapan keinginan ini menjadi realita dan bukan hanya sekadar keinginan. “Tunggu, sampai situasi memungkinkan untuk itu semua, Sayang…” begitu bisik suamiku sambil mengerjapkan mata.

MEMBAYAR KETERTINGGALAN


Pagi ini kuharus memulai. Memulai menulis. Tuk mengejar ketertinggalan di grup menulis yang dibuat oleh Omjay. Mengapa aku tertinggal? Nah, ini masalahnya. HP-ku yang sudah overload meminta ganti. Sayangnya, di konter langganan belum ada HP sesuai rekomendasi anak-anakku. Harus PO sepekan lebih.

Sebagai solusi, sebenarnya aku sudah mengungsi. Mengungsi ke kantor suami yang tersedia wifi. Namun sayang, beberapa grup yang kuikuti ada beberapa tawaran. Ada webex lah. Ada pembelajaran online lah. Dan beberapa tawaran yang menarik perhatian. Inginnya semua kuikuti. Kucoba hal-hal baru. Ingin bisa semua. Dalam waktu bersamaan. Mengisi kegiatan WFH (work from home), yang bagiku menjadi WFC (work from campus).

Akankah aku bisa mengejar ketertinggalan? Akan kucoba. Semoga Omjay yang baik hati mau dan berkenan serta bersabar untuk mengajari. Juga ada Pak Brian di sini yang telah berkenan mengajari membuat blog. Terima masih Omjay dan Pak Brian. Semoga Allah membalas kebaikan yang berlipat-lipat. Aamiin3.