Jumat, 16 Oktober 2020

SAYA SAKIT APA, DOK?

 


Terkadang sebuah atau beberapa kejutan terjadi dalam hidup ini. Semua orang pun tentu pernah mengalami kejutan entah kejutan yang bermakna mengembirakan maupun kurang mengembirakan. Apapun kejutan-kejutan yang diterima harus dijalani dengan penuh rasa syukur. Karena Sang Maha Pencipta tentu telah menyiapkan skenario terbaik untuk hamba-Nya.

Apakah semua dapat menerima kejutan itu dengan penuh rasa syukur? Belum tentu. Dia pun seperti itu. Sejak konsultasi dokter di rumah Sakit Indriati Solo Baru dirinya merasa mendapat kejutan-kejutan. Kejutan pertama, saat ada advis dokter untuk lakukan rontgen. Rontgen? Ada apa dengan dirinya? Namun, prosedur rekomendasi dokter pun diikuti dengan baik.

Ada hal yang menggembirakan saat konsultasi di rumah sakit tersebut. Gedung rumah sakit yang amat luas dan megah dengan pasien tak terlalu banyak menyebabkan pasien tak merasa “ngeh” kalau dirinya di rumah sakit. Bahkan, saat dia mengunggah foto di medsos, teman-temannya mengira jalan-jalan di mall. Kostum yang dikenakan seragam kantor plus perangkat alat tulis berupa laptop serasa bukan pasien. Memang dirinya merasa bukan pasien. Anggap saja di situ rasa di tempat kerja.

Namun, tindakan medis berikutnya berupa TCM dan CT SCAN yang membuat dirinya mulai agak keder.

“Ada apakah dengan diri saya, Dok?” Dia menyangsikan advis dokter untuk lakukan biopsi setelah ct scan. Dia selalu katakan kepada sang dokter bahwa dirinya baik-baik saja. Tak ada keluhan berarti kecuali batuk dan kadang lambung terasa begah.

“Tapi, bukan covid kan, Dok?” tanyanya penasaran setelah hasil lab menyatakan TB nondetektif. Waduh, kalau Covid bagaimana ya? Na’udzubillahi min zalik, doanya dalam hati.

Sang dokter terseyum.

“Ibu, kalau ibu kena covid gak mungkin jalannya seperti ibu,” jawaban dokter itu mengingatkan hal yang dapat meneguhkan rasa syukurnya. Ciri khasnya kalau berjalan termasuk cepat. Para siswa dan teman-temannya dapat mengetahu dirinya dari cara berjalan saja. Cepat, dengan suara sepatu agak keras.

“Terus, apa Dok?” penasarannya kian manjadi. TB bukan, Covid bukan. Asam lambung bisa jadi ya. Dia menduga-duga sendiri.

“Ya Allah, jika pun diri ini harus mendapat anugerah sakit, semoga sakit yang ringan-ringan saja. Sakit ringan yang dapat menambah nikmat rasanya orang sehat. Andai dirinya diganjar sakit, semoga sakit yang dapat menggugurkan dosa-dosanya dan bisa meneguhkan rasa syukurnya kepada Sang Mahakuasa.

“Kenapa harus biopsi, Dok?”

“Untuk menegakkan dugaan apa sebenarnya,” dokter melirik dirinya. Dia merasa sang dokter ingin mengatakan sesuatu, tetapi ditahan-tahan. Jadinya tambah penasaranlah dirinya.

Sepekan kemudian dirinya dengan diantar suami dan ananda tercinta berangkat ke rumah sakit rujukan. Menemui dokter yang dia pilih, bukan waktu yang singkat. Meski di poli Cendana yang konon katanya pelayanan lebih cepat dibanding poli umum, ternyata tetap sama. Relatif lama. Andai bukan karena advis dokter, dirinya enggan melakukannya.

Dari rumah telah menyiapkan mental untuk lakukan biopsi hari itu juga. Antara galau dan cemas. Berusaha untuk pasrah. Namun, ada kejutan setelah bertemu sang dokter yang dicari.

“Harus opname ya, kalau mau cepat. Jika rawat jalan harus dijadwalkan dan perlu waktu berbulan-bulan.”

“Opname, Dok?” Duh, Gusti ada kejutan apa lagi ini? Tak terasa meleleh air bening dari matanya. Terbayang agenda pekan itu yang telah tersusun rapi ambyar sudah. Hari itu mestinya ada pertemuan di Dinas Pendidikan. Hari berikutnya ada agenda mengajar. Juga ada agenda menghadiri undangan acara pernikahan. Namun, jika dituruti agenda selalu ada setiap hari.

Sudahlah tak perlu memikirkan agenda yang telah tersusun rapi. Cukup menyiapkan mental untuk menginap di ruah sakit. Jika hari-hari sebelumnya menginap di hotel, kini harus merasakan menginap di rumah sakit.

“Ya Allah, berilah kekuatan diri hamba untuk menerima apapun yang akan terjadi. Mohon jaga hati untuk tetap mensyukuri apapun yang terjadi. Jaga lisan ini untuk tidak mengeluarkan sebuah keluh yang dapat mengurangi rasa syukur. Tolonglah hamba untuk selalu berprasangka baik kepada siapapun. Aamiin3.”


#Day9AISEIChallenge           #100katabercerita  

#30hariAISEIbercerita           #AISEIWritingChallenge  

#warisanAISEI                       #pendidikanbercerita    

7 komentar:

  1. Semoga Allah angkat sakit Ibu dan menggantinya dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit lagi. Aamiin.

    BalasHapus
  2. Mba Ismii ttap smangat yaaa dlm menjalaninyaa, terima kasih updatenya mlalui blog, kami doakan slaluu

    BalasHapus
    Balasan
    1. insyaallah Mb Dea. Terima kasih doa dan dukungannya Mb.

      Hapus
  3. Maafkan diriku ya. Harusnya waktu mondar mandir konsul dokter dan ngajak di klas info dokter juga berenang harusnya saya tanggap..Saya kira yang kontrol ke dokter Pak Suami

    BalasHapus
  4. Semoga cepat sehat kembali ya Bu Ismi...

    BalasHapus